Bencana Alam

Hingga Senin 7 September 2026, BPBD Purworejo Salurkan 780 Ribu Liter Air Bersih, 18 Desa Terdampak

11
×

Hingga Senin 7 September 2026, BPBD Purworejo Salurkan 780 Ribu Liter Air Bersih, 18 Desa Terdampak

Sebarkan artikel ini
Saat droping air bersih di desa Somorejo
Saat droping air bersih di desa Somorejo

PURWOREJO, purworejo24.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purworejo telah menyalurkan sebanyak 780.000 liter air bersih untuk membantu masyarakat menghadapi dampak musim kemarau. Hingga 7 September 2026, bantuan tersebut telah menjangkau 18 desa di sembilan kecamatan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Purworejo, Muhammad Yuniarto, mengatakan volume air yang telah disalurkan tersebut setara dengan 156 tangki, dengan kapasitas satu tangki sekitar 5.000 liter.

Untuk dropping air bersih sampai dengan 7 September, jumlah total air yang kita salurkan 780.000 liter. Kalau disetarakan dengan tangki armada kita, menjadi 156 tangki,” kata Yuniarto, Selasa (8/9/2026).

Sembilan kecamatan yang telah menerima distribusi air bersih meliputi Bagelen, Purworejo, Loano, Gebang, Purwodadi, Ngombol, Pituruh, Kaligesing, dan Kemiri.

Rinciannya, bantuan telah menjangkau tiga desa di Bagelen, empat desa di Kecamatan Purworejo, dua desa di Loano, satu desa di Gebang, satu desa di Purwodadi, tiga desa di Ngombol, satu desa di Pituruh, dua desa di Kaligesing, serta satu desa di Kemiri.

BPBD juga menerima permohonan baru dari Desa Sedayu dan Desa Tegalsari. Namun, sebelum bantuan disalurkan, BPBD akan melakukan asesmen untuk memastikan kondisi di lapangan dan kebutuhan masyarakat.

Tujuan asesmen untuk memastikan permohonan dari pemerintah desa terkait kebutuhan air bersih. Kita memastikan desa sudah menyiapkan tempat penampungan dan kondisinya higienis. Kita juga melakukan sampling kepada beberapa warga untuk memastikan ketersediaan air bersih memang sudah tidak mencukupi untuk kebutuhan dasar,” jelasnya.

Dengan adanya permohonan tersebut, wilayah penanganan berpotensi bertambah, termasuk Kecamatan Bruno yang sebelumnya belum masuk dalam sembilan kecamatan penerima bantuan.

Yuniarto mengakui jumlah desa yang membutuhkan bantuan air bersih masih berpotensi meningkat. Terlebih, puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus-September.

Selain itu, terdapat kekhawatiran terhadap potensi pengaruh El Nino yang dapat memperpanjang kondisi kekeringan hingga awal 2027.

Kalau sampai terjadi El Nino, otomatis saya meyakini akan ada penambahan desa yang membutuhkan air bersih. Tetapi harapannya jangan sampai terjadi,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi kebutuhan yang meningkat, BPBD tidak hanya mengandalkan anggaran pemerintah daerah. Sejumlah pihak juga turut membantu distribusi air bersih kepada masyarakat.

BPBD, antara lain, telah memfasilitasi bantuan dari komunitas Bengkel AC Mobil, Palang Merah Indonesia (PMI), serta menjalin komunikasi dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) untuk penyaluran air bersih pada 16-17 September.

Bantuan juga datang dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak. Penyaluran dari BBWS Serayu Opak direncanakan dilakukan secara berkala, yakni seminggu sekali.

Di tengah meningkatnya kebutuhan, BPBD mengingatkan masyarakat agar menggunakan air bantuan secara bijak. Air yang didistribusikan pemerintah diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Air bersih kami utamakan untuk keperluan pemenuhan kebutuhan layanan dasar, yaitu mandi, cuci, kakus,” kata Yuniarto.

Penggunaan air bantuan untuk kebutuhan pertanian maupun pembangunan tidak dianjurkan. Sementara untuk kegiatan sosial atau keagamaan di desa, BPBD masih memberikan toleransi sepanjang tetap berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Namun, bantuan air bersih tidak diperuntukkan bagi kepentingan hajatan atau kebutuhan pribadi.

Kalau hajatan itu urusan pribadi. Kami mohon masyarakat bisa memahami. Ini memang benar-benar untuk kepentingan pemenuhan layanan dasar masyarakat,” tegasnya.

Menurut Yuniarto, kekeringan merupakan persoalan yang dapat berulang setiap tahun, meskipun durasi dan tingkat keparahannya berbeda. Karena itu, pemerintah desa yang wilayahnya kerap mengalami kekurangan air diminta mulai memperkuat sarana dan prasarana penyediaan air bersih.

Desa diharapkan memiliki tempat penampungan air yang memadai dan, bila memungkinkan, bersifat permanen.

Kalau memang butuh bantuan air bersih, desa bisa mempersiapkan sarana penampungannya. Sebisa mungkin permanen. Kalau tidak bisa, sementara bisa menggunakan terpal, tetapi sifatnya hanya sementara,” jelasnya.

Yuniarto juga menyebut keberadaan Pamsimas dapat dimanfaatkan sebagai sarana distribusi ketika sumber air mengalami kekeringan. Air bantuan dapat disuplai ke fasilitas Pamsimas, kemudian pemerintah desa mengatur pendistribusiannya kepada masyarakat.

Sebagai langkah jangka panjang, BPBD Purworejo juga tengah mengusulkan bantuan kepada BNPB berupa pembangunan sumur bor di sejumlah lokasi serta pengadaan armada tangki air.

Usulan tersebut disiapkan sebagai bagian dari program penanganan kekeringan BNPB tahun 2026.

Kita juga mengusulkan armada tangki air karena armada tangki kita terbatas dan tidak semua ready. Untuk mendukung kelancaran pemenuhan layanan dasar air bersih, kita perlu bantuan pengadaan mobil tangki,” ungkap Yuniarto.

Menurutnya, tambahan sumur bor dan armada tangki akan sangat membantu BPBD dalam mempercepat pelayanan kepada masyarakat ketika kekeringan kembali terjadi.

Kita berharap usulan itu bisa terealisasi sehingga dapat menunjang kelancaran pelayanan kepada masyarakat,” pungkasnya. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.