HUT RI

Angkat Krisis Ekologi, Karang Taruna Rukun Karangsari Sulap Sampah Jadi Pesan Lingkungan di Karnaval Purworejo

18
×

Angkat Krisis Ekologi, Karang Taruna Rukun Karangsari Sulap Sampah Jadi Pesan Lingkungan di Karnaval Purworejo

Sebarkan artikel ini
Peserta karnaval dari Desa Karangsari
Peserta karnaval dari Desa Karangsari

PURWOREJO, purworejo24.com — Pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan menjadi salah satu daya tarik dalam Karnaval Parade Kreatif Tingkat Instansi dan Umum Kabupaten Purworejo yang digelar di pusat Kota Purworejo, Sabtu (29/8/2026).

Salah satu kontingen yang berhasil menyedot perhatian publik adalah Karang Taruna Rukun Desa Karangsari, Kecamatan Purwodadi. Tampil sebagai peserta nomor urut 28, mereka mengangkat tema Krisis Ekologi” melalui karya kreatif bertajuk “Hutan, Sampah, dan Harapan.”

Tak sekadar menampilkan kostum dan ornamen karnaval, kontingen Karang Taruna Rukun Karangsari membawa pesan kuat mengenai ancaman kerusakan lingkungan sekaligus mengajak masyarakat ikut mengambil peran dalam menjaga bumi.

Ketua Karang Taruna Rukun Desa Karangsari, Muhammad Arif Rofiudin, mengatakan konsep yang diusung sengaja dirancang untuk menyampaikan edukasi lingkungan melalui kreativitas anak-anak muda.

Dalam penampilannya, kontingen tersebut menghadirkan sejumlah simbol yang menggambarkan persoalan ekologis. Salah satunya adalah replika bumi yang diselimuti sampah plastik.

Replika tersebut menjadi gambaran kondisi bumi yang semakin terbebani oleh limbah, khususnya sampah plastik yang sulit terurai. Sampah yang mencemari sungai, laut, tanah hingga lingkungan permukiman menjadi persoalan yang tidak hanya berdampak pada generasi saat ini, tetapi juga masa depan.

Pesan lingkungan semakin kuat melalui kostum yang dikenakan sejumlah peserta. Kostum tersebut dibuat dari berbagai bahan bekas, seperti plastik, kemasan makanan, koran, kardus, botol, serta material lain yang sudah tidak terpakai.

Melalui kostum daur ulang itu, Karang Taruna Rukun Karangsari ingin menunjukkan bahwa barang yang selama ini dianggap sebagai sampah masih dapat memiliki nilai apabila dikelola dengan kreativitas.

Dari limbah lahir kreativitas, dari kepedulian tumbuh perubahan,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam rangkaian penampilan mereka.

Selain persoalan sampah, kontingen tersebut juga menghadirkan replika kayu gelondongan. Simbol itu menggambarkan ancaman terhadap kelestarian hutan akibat penebangan pohon yang tidak bertanggung jawab.

Kayu gelondongan menjadi pengingat bahwa sebuah pohon membutuhkan waktu yang panjang untuk tumbuh, sehingga pemanfaatan hasil hutan harus dilakukan secara bijaksana dan diimbangi dengan upaya penghijauan serta reboisasi.

Rangkaian penampilan kemudian ditutup dengan sosok Monster Hutan”. Karakter tersebut menggambarkan kondisi hutan Indonesia yang terluka akibat berbagai persoalan, mulai dari penebangan liar, kebakaran hutan, pencemaran hingga hilangnya habitat satwa.

Namun, sosok monster itu tidak hanya membawa pesan kesedihan. Di tangannya terdapat tunas muda yang menjadi simbol harapan.

Tunas tersebut menggambarkan keyakinan bahwa alam masih dapat dipulihkan apabila manusia bersedia mengubah perilaku dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Karang Taruna Rukun Karangsari juga mengajak masyarakat untuk memulai langkah sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, memanfaatkan kembali barang bekas, menjaga kebersihan lingkungan, serta melakukan penghijauan.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena persoalan lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun kelompok pemerhati lingkungan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat.

Melalui momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kontingen Karang Taruna Rukun Karangsari mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan dengan cara yang lebih luas, yakni ikut memerdekakan” bumi dari ancaman kerusakan lingkungan.

Bersatu Menjaga Alam, Berkarya dari Daur Ulang, Menuju Indonesia Hijau, Bersih, dan Berkelanjutan. Jagalah alam, maka alam akan menjagamu,”menjadi pesan utama yang dibawa dalam penampilan mereka.

Sementara itu, Karnaval Parade Kreatif Kabupaten Purworejo tahun ini diikuti 38 peserta, terdiri atas 25 peserta dari instansi dan 13 peserta kategori umum.

Keikutsertaan Karang Taruna Rukun Karangsari menunjukkan bahwa karnaval tidak hanya dapat menjadi ruang untuk merayakan kemerdekaan dan menampilkan kreativitas, tetapi juga menjadi media edukasi publik untuk menyampaikan isu-isu penting yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dengan mengubah sampah menjadi karya, hutan menjadi simbol, dan tunas menjadi harapan, Karang Taruna Rukun Karangsari menyampaikan satu pesan sederhana: menjaga lingkungan bukan pekerjaan satu orang, melainkan tanggung jawab bersama demi masa depan generasi berikutnya. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.