Bencana Alam

Hadapi Ancaman El Nino, BPBD Purworejo Siapkan Jutaan Liter Air Bersih dan Perkuat Mitigasi Kebakaran

1
×

Hadapi Ancaman El Nino, BPBD Purworejo Siapkan Jutaan Liter Air Bersih dan Perkuat Mitigasi Kebakaran

Sebarkan artikel ini
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purworejo, Wasit Diono, S.Sos
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purworejo, Wasit Diono, S.Sos

PURWOREJO, purworejo24.com – Ancaman musim kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena iklim global menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Purworejo.

Mengantisipasi dampak El Nino yang berpotensi memicu kekeringan dan kebakaran lahan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purworejo telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi sejak dini.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purworejo, Wasit Diono, S.Sos., mengatakan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan musim kemarau tahun 2026 berpotensi berlangsung selama 14 hingga 18 dasarian atau sekitar 4,5 sampai 6 bulan.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.

Kondisi tersebut menjadi dasar bagi BPBD untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama dalam menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan kekeringan.

Kita tidak bisa menolak atau menghindari datangnya bencana. Yang bisa kita lakukan adalah mengantisipasi dan menyiapkan solusi agar dampaknya dapat diminimalkan,” kata Wasit saat ditemui usai kegiatan peluncuran droping air bersih di Pendopo Kabupaten Purworejo, Kamis (2/7/2026).

Sebagai langkah awal, BPBD mulai mendistribusikan air bersih ke Desa Sumorejo, Kecamatan Bagelen, yang menjadi salah satu wilayah terdampak. Sebanyak 15.000 liter air bersih disalurkan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 762 kepala keluarga yang tersebar di tiga dusun.

Namun lebih dari sekadar penyaluran bantuan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari strategi mitigasi yang telah disiapkan pemerintah daerah menghadapi kemungkinan meningkatnya permintaan air bersih selama musim kemarau.

BPBD telah menyiapkan kapasitas penyediaan air hingga sekitar 7 juta liter atau setara 218 hingga 875 tangki sepanjang musim kemarau. Untuk mendukung distribusi, empat armada mobil tangki disiagakan dan dapat dioperasikan kapan saja sesuai kebutuhan masyarakat.

Selain mengandalkan sumber daya internal, BPBD juga membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari Perumda Air Minum Tirta Perwitasari, PMI, Baznas, Bank Jateng melalui program CSR, hingga BPBD kabupaten tetangga apabila diperlukan bantuan armada tambahan.

Menurut Wasit, pola penanganan kekeringan saat ini juga semakin responsif. Desa yang mengalami kekurangan air tidak perlu melalui prosedur yang rumit. Cukup melaporkan kondisi yang terjadi kepada BPBD, kemudian Tim Reaksi Cepat (TRC) akan melakukan asesmen sebelum bantuan dikirimkan.

Selain ancaman krisis air bersih, musim kemarau panjang juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Karena itu BPBD telah menggelar sejumlah rapat koordinasi dengan Polres Purworejo, Kodim 0708/Purworejo, Perhutani, PMI, Satpol PP, Dinas Pertanian, serta berbagai instansi terkait lainnya.

Koordinasi tersebut difokuskan pada penguatan sistem peringatan dini, pembentukan posko siaga, peningkatan patroli kawasan rawan kebakaran, hingga penyusunan langkah penanganan darurat apabila terjadi kebakaran lahan maupun hutan.

Wilayah yang selama ini dikenal rawan mengalami kekeringan di Purworejo antara lain Kecamatan Bagelen, Kaligesing, Gebang, dan Bruno. Meski demikian, Wasit mengakui jumlah desa yang mengalami kesulitan air bersih cenderung berkurang dibanding beberapa tahun lalu karena adanya pembangunan sarana penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) di sejumlah wilayah.

Namun masih terdapat desa-desa yang memiliki keterbatasan sumber air alami sehingga tetap membutuhkan bantuan saat musim kemarau berkepanjangan.

Menghadapi kondisi cuaca ekstrem, BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam menjaga kesehatan dan lingkungan.

Warga diminta menghemat penggunaan air, memperbanyak konsumsi air minum untuk mencegah dehidrasi, serta mengurangi aktivitas di bawah terik matahari apabila tidak diperlukan.

Di sisi lain, masyarakat juga diimbau lebih waspada terhadap potensi kebakaran yang sering dipicu kelalaian manusia, seperti membakar sampah tanpa pengawasan atau membuang puntung rokok sembarangan di area kering dan kawasan hutan.

Mitigasi bencana bukan hanya tugas pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi seluruh masyarakat. Kewaspadaan terhadap penggunaan api dan kepedulian menjaga lingkungan menjadi kunci untuk mengurangi risiko selama musim kemarau,” tegas Wasit.

Dengan berbagai langkah antisipasi yang telah disiapkan, BPBD berharap dampak El Nino dan kemarau panjang di Kabupaten Purworejo dapat ditekan sehingga kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi dan risiko bencana dapat diminimalkan. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.