PURWOREJO, purworejo24.com – Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menggelar Rapat Koordinasi Kesiapan Menghadapi Musim Kering Tahun 2026, Rabu (8/4/2026) lalu, di Aula BPBD setempat.
Kegiatan ini diikuti sekitar 40 peserta dari unsur Forkopimda, organisasi perangkat daerah (OPD), camat se-Kabupaten Purworejo, serta lembaga mitra kebencanaan.
Rapat koordinasi tersebut menjadi langkah antisipatif menghadapi musim kemarau yang diprediksi mulai berlangsung pada Mei 2026.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Purworejo, Suparyono, mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga April 2026 telah terjadi 44 kejadian bencana di wilayah Purworejo.
“Rinciannya terdiri dari 13 tanah longsor, 29 pohon tumbang, dan 2 banjir, dengan total 1.396 jiwa terdampak,” jelasnya, pada Kamis (9/4/2026).
Selain itu, sebanyak 88 rumah dilaporkan mengalami kerusakan dan tiga fasilitas umum turut terdampak.
Meski demikian, tidak ada korban jiwa meninggal maupun hilang dalam periode tersebut.
BPBD juga memaparkan berbagai langkah yang telah dilakukan untuk menghadapi cuaca ekstrem dan masa pancaroba, di antaranya pemantauan cuaca secara berkala melalui BMKG, penyiagaan personel dan peralatan, penguatan koordinasi lintas sektor, serta edukasi kepada masyarakat terkait kesiapsiagaan bencana.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal musim kemarau di wilayah Jawa Tengah diperkirakan dimulai pada Mei 2026, dengan puncaknya pada Agustus dan durasi berlangsung sekitar 5 hingga 7 bulan.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan pada sektor pertanian.
Melalui rakor itu, pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi dan kesiapan menghadapi musim kering, termasuk menjaga ketahanan pangan dan meminimalkan dampak kekeringan bagi masyarakat.
BPBD Purworejo juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan saluran air, memangkas pohon yang rawan tumbang, menyesuaikan pola tanam pertanian, serta aktif memantau informasi cuaca resmi dari pemerintah sebagai langkah mitigasi dini. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








