Inspirasi

Dari Kehilangan Motor hingga Bakso Viral, Kisah Perjuangan Dwi Membangun “Bakso Presiden” di Purworejo

20
×

Dari Kehilangan Motor hingga Bakso Viral, Kisah Perjuangan Dwi Membangun “Bakso Presiden” di Purworejo

Sebarkan artikel ini
Dwi Pranang Jaya
Dwi Pranang Jaya

BANYUURIP, purworejo24.com – Kesuksesan tidak selalu lahir dari perjalanan yang mudah. Ada kalanya, sebuah usaha justru tumbuh dari keterpurukan, bertahan melewati masa sepi, hingga akhirnya menemukan momentum untuk bangkit.

Kisah itu dialami Dwi Pranang Jaya (37), pemilik usaha kuliner Bakso Presiden di wilayah Banyuurip, Kabupaten Purworejo. Di balik ramainya pembeli dan viralnya nama warung tersebut di media sosial, tersimpan perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah musibah pada 2021.

Jauh sebelum Bakso Presiden dikenal luas, Dwi merupakan seorang pengemudi ojek online. Pada Februari 2021, ia mengalami kehilangan sepeda motor saat berada di kawasan Jalan Ahmad Yani, Purworejo, tepatnya di depan STM Negeri.

Menurut penuturan Dwi, sepeda motornya dibawa kabur oleh seseorang yang ia sebut sebagai “manusia silver”.

Kehilangan kendaraan tersebut menjadi pukulan berat. Namun, Dwi berusaha mencari jalan keluar dengan membagikan informasi kehilangan melalui WhatsApp.

Dari jaringan kontak yang dimilikinya, informasi tersebut kemudian diketahui sejumlah orang yang menurut Dwi bekerja di lingkungan Presiden Joko Widodo, termasuk anggota Paspampres dan pihak yang disebut berada di lingkungan Ring 1.

Tak disangka, pesan tersebut mendapat respons.

Dwi mengaku, salah seorang yang disebutnya dekat dengan lingkungan Presiden Joko Widodo kemudian menghubunginya dan menanyakan kondisi yang dialaminya.

Tiga hari setelahnya, beliau datang ke rumah saya dari Jakarta. Kemudian membawakan uang senilai Rp150 juta dari Pak Jokowi untuk usaha,” ungkap Dwi.

Dwi kemudian menggunakan uang tersebut sebagai modal untuk memulai usaha kuliner. Warung mulai dibangun pada 2021 dan resmi dibuka pada 10 Oktober 2021.

Nama Bakso Presiden juga memiliki cerita tersendiri.

Dwi mengaku sempat memiliki keinginan memberi nama warungnya dengan embel-embel “Bakso Presiden Jokowi”. Namun, ia kemudian mendapat saran dari seseorang yang disebutnya dekat dengan Presiden Jokowi agar tidak menggunakan nama Jokowi secara langsung.

Tidak usah dipakai nama Jokowi, Mas. Kalau mau Presiden saja enggak apa-apa,” ujar Dwi menirukan saran tersebut.

Dari situlah nama Bakso Presiden kemudian digunakan.

Di dalam warung, Dwi juga memasang sejumlah foto Presiden Joko Widodo. Ia menyebut keberadaan foto tersebut sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan terima kasih atas bantuan yang menurut pengakuannya pernah diterima.

Di situ ada banyak foto Pak Jokowi. Itu sebagai rasa penghormatan saya,” katanya.

Meski kini ramai dan dikenal di media sosial, perjalanan usaha Dwi ternyata tidak langsung berjalan mulus.

Ia mengaku pernah melewati masa-masa sulit selama kurang lebih dua tahun. Sejak 2023 hingga sebelum Bakso Presiden mulai viral pada 2026, warungnya kerap sepi pembeli.

Dalam sehari, penjualan 20 hingga 30 mangkuk bakso saja sudah dianggap cukup.

Sering kita sampai enggak bisa jual satu mangkok pun. Paling banter 20 mangkok, 30 mangkok itu sudah bagus,” tuturnya.

Kondisi tersebut tidak membuat Dwi berhenti. Ia tetap mempertahankan usahanya sembari mencari berbagai cara agar Bakso Presiden semakin dikenal masyarakat.

Salah satu upaya yang kemudian memberikan perubahan besar adalah memanfaatkan media sosial.

Melalui akun TikTok @Bakso_Presiden_Purworejo, Dwi secara aktif membuat konten untuk memperkenalkan usaha, menu, hingga berbagai aktivitas di warungnya.

Strategi tersebut perlahan membuahkan hasil.

Memasuki Maret 2026, nama Bakso Presiden mulai mendapat perhatian luas di media sosial. Video dan konten mengenai warung tersebut semakin banyak dilihat dan dibagikan.

Dampaknya terasa langsung pada jumlah pelanggan.

Jika sebelumnya penjualan 20–30 mangkuk per hari sudah dianggap bagus, kini Bakso Presiden mampu menarik pembeli dalam jumlah jauh lebih banyak.

Dwi menyebut omzet kotor usahanya saat ini dapat mencapai sekitar Rp5 juta hingga Rp8 juta per hari.

Kalau saya katakan, saya berbicara kotor ya, untuk kotor setiap harinya kita mendapatkan sekitar Rp5 juta sampai Rp8 juta,” jelasnya.

Bagi Dwi, lonjakan tersebut bukan sekadar soal angka penjualan. Perjalanan itu menjadi pengingat bahwa sebuah usaha membutuhkan kesabaran dan ketekunan.

Dari seorang pengemudi ojek online yang kehilangan kendaraan, kemudian berusaha bangkit dengan membuka usaha kuliner, melewati masa sepi selama bertahun-tahun, hingga akhirnya menemukan momentum melalui media sosial, perjalanan Dwi menjadi gambaran tentang bagaimana sebuah usaha dibangun melalui proses panjang.

Kini, Bakso Presiden tidak hanya menarik perhatian karena namanya yang unik. Kisah perjuangan di baliknya turut menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan yang datang.

Namun bagi Dwi, viral bukanlah garis akhir.

Justru, popularitas yang diraih saat ini menjadi tantangan baru untuk menjaga kualitas makanan, pelayanan, konsistensi usaha, serta kepercayaan pelanggan.

Sebab, mempertahankan keberhasilan setelah viral bisa jadi jauh lebih sulit daripada meraihnya.


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.