LOANO, purworejo24.com— Berawal dari kecintaan terhadap seni dan budaya, Dyah Wahyu Ristyani bersama suaminya, Andy Sadewa, berhasil mengembangkan Batik Dewa Lowano menjadi salah satu usaha wastra yang terus tumbuh dan berinovasi di Kabupaten Purworejo.
Usaha yang berada di Dusun Kesambi RT 01/RW 02, Desa Loano, Kecamatan Loano, tersebut dirintis sejak 2012.
Dari awalnya belum memproduksi batik sendiri, kini Batik Dewa Lowano berkembang menjadi produsen berbagai produk wastra sekaligus pusat pelatihan membatik.
Dyah menuturkan, ketertarikannya terhadap batik bermula ketika sang suami yang saat itu bertugas sebagai Babinsa di wilayah Pekalongan banyak bersinggungan dengan dunia batik. Pengetahuan dan pengalaman tersebut kemudian dibawa pulang dan menjadi awal ketertarikan keluarga mereka untuk menekuni usaha batik.
“Ilmu membatik itu dibawa pulang ke rumah. Kami kemudian intens tertarik dengan dunia batik. Kami mendatangkan beberapa ahli dari Pekalongan untuk melatih kami, mulai dari setting tempat, pewarnaan hingga pengecapan,” ujar Dyah, Minggu (16/8/2026).
Untuk teknik batik tulis, Dyah memilih belajar secara mandiri atau otodidak. Ia memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran hingga akhirnya mengikuti uji sertifikasi membatik dan dinyatakan lulus sertifikasi BNSP.
Perjalanan panjang tersebut membuat Batik Dewa Lowano kini memiliki kemampuan produksi batik tulis dan batik cap.
Pengembangan usaha kemudian diperluas ke berbagai jenis wastra tradisional, seperti ecoprint, shibori, jumputan, hingga perpaduan teknik seperti shibotik dan ecotik.
Tak berhenti pada produk kain, Batik Dewa Lowano juga menghasilkan berbagai produk turunan, mulai dari pakaian jadi, hem, dress, outer, selendang, tas, kipas hingga busana untuk kebutuhan fashion show dan pertunjukan.
Salah satu kekuatan Batik Dewa Lowano adalah konsistensinya mengembangkan batik dengan pewarna alam.
Berbagai bahan alami seperti biji, kulit kayu, daun dan tanaman dimanfaatkan untuk menghasilkan warna pada kain. Salah satunya melalui kerja sama dengan petani jenitri di Kabupaten Kebumen.
Bagi Dyah, penggunaan pewarna alam bukan sekadar inovasi produk, tetapi juga bagian dari upaya menghadirkan wastra yang lebih ramah lingkungan.
“Kami dikenal sebagai produsen batik yang bergerak di pewarnaan alam. Menggunakan pewarna dari alam, dari godok-godokan biji, kulit kayu dan daun-daunan,” jelasnya.
Inovasi tersebut turut membuka peluang pasar yang lebih luas. Produk pewarna alam Batik Dewa Lowano bahkan telah dibawa dan dikirim ke sejumlah negara, di antaranya Australia, Italia, Belanda dan Selandia Baru.
Menurut Dyah, pasar luar negeri memiliki ketertarikan terhadap produk yang mengusung konsep ramah lingkungan. Karena itu, pengembangan pewarna alam dan ecoprint menjadi salah satu peluang yang terus mereka kembangkan.

Perjalanan Batik Dewa Lowano juga diwarnai berbagai pencapaian. Produk mereka pernah meraih juara pertama lomba Produk Ekonomi Kreatif tingkat Kabupaten Purworejo.
Batik Dewa Lowano juga dipercaya mewakili Kodam IV/Diponegoro dalam ajang Persit Kartika Chandra Kirana tingkat pusat di Balai Kartini, Jakarta. Kesempatan tersebut kembali terjalin pada tahun berikutnya.
Dari sisi pasar, Dyah memilih strategi yang cukup sederhana tetapi kuat: memahami kebutuhan konsumen.
Menurutnya, Batik Dewa Lowano tidak hanya menyasar kalangan tertentu. Produk dibuat dengan menyesuaikan kemampuan anggaran, kebutuhan, desain serta selera konsumen, mulai dari masyarakat umum hingga kalangan yang menginginkan produk eksklusif.
“Kami ingin produk kami disukai mulai dari kalangan bawah sampai atas. Bagaimana caranya? Kami menyesuaikan dengan budgeting mereka,” katanya.
Pelayanan menjadi bagian penting lainnya. Bahkan, Batik Dewa Lowano pernah menerima pesanan sekitar 20 potong batik dan menyelesaikannya dalam waktu singkat dengan menyesuaikan teknik serta warna yang digunakan.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa kreativitas dan fleksibilitas menjadi kunci bagi UMKM untuk bertahan di tengah perubahan kebutuhan pasar.
Di balik keberhasilan tersebut, perjalanan Batik Dewa Lowano bukan tanpa tantangan.
Pandemi COVID-19 menjadi salah satu masa paling berat. Aktivitas produksi terhenti dan modal usaha ikut terkuras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, Dyah dan Andy tidak menyerah. Mereka mencari peluang dari bahan yang tersedia dan mulai memproduksi masker nonmedis berbahan kain dan perca batik.
“Waktu itu kami sama sekali tidak bisa produksi karena modal pun habis untuk konsumsi. Kemudian kami bergerak untuk pembuatan masker nonmedis dari perca batik dan perca kain. Kami produksi sampai ribuan,” ungkap Dyah.
Dari pengalaman tersebut, Dyah belajar bahwa pelaku usaha harus mampu membaca perubahan dan tidak terpaku pada satu jenis produk.
Ketika pasar batik mengalami ketidakpastian, mereka mengembangkan produk turunan, termasuk busana, pakaian fashion, hingga busana sewa untuk berbagai kegiatan dan pertunjukan.
Bagi Dyah, kompetitor pun tidak harus dipandang sebagai ancaman.
“Kompetitor kami tidak menganggap kompetitor itu selalu menjadi musuh, tetapi menjadi ide. Ketika mereka menampilkan kreasi, kita tergerak untuk bisa berkreasi lebih,” tuturnya.
Pertumbuhan Batik Dewa Lowano juga tidak lepas dari kolaborasi. Mereka bekerja sama dengan petani, pengrajin, sekolah, pemerintah, UMKM, content creator hingga berbagai komunitas.
Sekolah turut dilibatkan melalui program praktik kerja lapangan. Siswa dari berbagai jurusan dapat belajar sekaligus membantu pengembangan usaha, mulai dari tata busana, manajemen, desain, teknologi hingga produksi konten digital.
Di sisi lain, Batik Dewa Lowano juga menggandeng pengrajin lain ketika membutuhkan tambahan tenaga dalam kegiatan pelatihan.
“Jadi kita saling kolaborasi di semua lini,” ujarnya.

Era digital juga dimanfaatkan untuk memperluas pengenalan produk. Konten dari siswa, content creator, maupun komunitas membantu mengenalkan Batik Dewa Lowano kepada masyarakat yang sebelumnya tidak mengetahui keberadaan sentra batik tersebut.
Tidak sedikit pelanggan yang akhirnya datang setelah menemukan Batik Dewa Lowano melalui internet dan Google Maps.
Kini, Batik Dewa Lowano bukan hanya menjadi tempat produksi batik, tetapi juga pusat pembelajaran wastra.
Pelatihan membatik, ecoprint, shibori, pewarnaan alam maupun sintetis diberikan kepada berbagai kalangan, mulai dari anak-anak TK dan SD, pelajar SMP dan SMA, ibu-ibu PKK hingga masyarakat umum.
Selain itu, Batik Dewa Lowano melayani pembuatan batik custom tulis maupun cap, seragam batik dan nonbatik, jahit berdasarkan ukuran, persewaan busana, kebutuhan fashion show, hingga pengadaan berbagai peralatan membatik.
Dyah berharap Batik Purworejo semakin dikenal luas dan mampu bersaing di tingkat regional, nasional hingga internasional.
Ia juga berharap dukungan pemerintah terhadap penggunaan produk batik lokal terus diperkuat sehingga para perajin Purworejo memiliki pasar yang semakin luas.
“Harapannya Batik Purworejo bisa berkembang di kancah regional, nasional, bahkan internasional. Kita bisa bersaing secara sehat dan bergandengan tangan untuk memajukan Batik Purworejo,” katanya.
Bagi Batik Dewa Lowano, mempertahankan tradisi bukan berarti berhenti berinovasi. Justru dengan menggabungkan kearifan lokal, kreativitas, teknologi, kolaborasi dan kemampuan membaca pasar, wastra tradisional dapat terus hidup dan relevan dengan perkembangan zaman.
Prinsip itulah yang terus dipegang Dyah dan Andy dalam mengembangkan usahanya: “Nguri-uri dan berkreasi terhadap kekayaan Purworejo, yaitu Batik Purworejo.”
Dari sebuah usaha yang dirintis dengan belajar secara otodidak di rumah, Batik Dewa Lowano kini mampu membawa nama Loano dan Purworejo hingga ke panggung nasional, bahkan membuka jalan menuju pasar internasional. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









