NGOMBOL, purworejo24.com – Upaya menjaga kawasan pesisir sekaligus memperkuat kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan melalui penanaman 5.000 bibit mangrove di Pantai Roro Inten, Desa Pagak, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jumat (18/9/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Magelang melalui program Green Impact.
Penanaman dilakukan melalui kolaborasi PNM dengan Pemerintah Kabupaten Purworejo, pemerintah desa, kelompok masyarakat, serta warga setempat.
Kegiatan dihadiri Pemimpin Cabang PNM Magelang H. Totok Suharta, ST, jajaran Forkopimcam Ngombol, Kepala Desa Pagak Supanut, Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Jala Waja Wahyudi, perwakilan Pemkab Purworejo, perwakilan TNI Angkatan Laut, tokoh masyarakat, warga, serta nasabah PNM.
Selain penanaman mangrove secara simbolis, kegiatan juga ditandai dengan penyerahan plakat pelaksanaan penanaman pohon mangrove. Suasana semakin semarak dengan penampilan kesenian tari Dolalak.
Pemimpin Cabang PNM Magelang H. Totok Suharta mengatakan, penanaman 5.000 mangrove tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian perusahaan terhadap kelestarian lingkungan sekaligus bagian dari tanggung jawab sosial PNM kepada masyarakat.
“Pada hari ini kami dari PNM Cabang Magelang telah melakukan penanaman bibit mangrove sebanyak 5.000 pohon. Ini merupakan kolaborasi kami dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Purworejo yang bertempat di Desa Pagak, Kecamatan Ngombol,” katanya.
Menurut Totok, kegiatan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai penanaman pohon, tetapi sebagai upaya membangun sinergi untuk menjaga ekosistem pesisir dan laut.
“Ini menjadi bentuk sinergi kami dalam hal pelestarian lingkungan. Kami bukan hanya memberikan kontribusi secara finansial, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab sosial dari perusahaan kami kepada seluruh masyarakat di Indonesia, khususnya di Desa Pagak,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan ribuan mangrove tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi ekosistem pesisir Purworejo dan masyarakat di sekitarnya.
Totok juga menjelaskan bahwa program Green Impact merupakan bagian dari upaya PNM untuk memberikan dampak yang lebih luas.
Tidak hanya melalui pemberdayaan dan pendampingan nasabah, tetapi juga dengan kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan.
“Mangrove memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem laut, melindungi pantai dari abrasi, menjadi habitat berbagai jenis biota, serta turut menjaga keseimbangan lingkungan,” jelasnya.
Ia juga berharap penanaman 5.000 bibit tersebut tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi dilanjutkan dengan kepedulian dan pemeliharaan bersama.
“Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau perusahaan tertentu, tetapi menjadi tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Kepala Desa Pagak Supanut menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, penanaman mangrove memiliki arti penting bagi kawasan pesisir Desa Pagak, baik dari sisi lingkungan maupun pengembangan kawasan wisata.
“Ini kegiatan yang sangat positif. Di samping kita harus menjaga kelestarian lingkungan, kita juga menjaga istilahnya ‘Mageri Segoro’,” kata Supanut.
Ia menjelaskan, mangrove diharapkan dapat menjadi salah satu bagian dari perlindungan alami kawasan pesisir, termasuk membantu mengurangi dampak abrasi.
Karena itu, Supanut berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut. Selain mangrove, ia mengusulkan adanya penanaman cemara udang atau cemara laut di sepanjang kawasan pesisir.
“Harapan kami acara ini tidak berhenti sampai di sini, ada kelanjutannya. Kalau bisa di pesisir pantai juga ditanami cemara udang atau cemara laut,” ujarnya.
Menurutnya, kawasan Desa Pagak memiliki garis penanaman mangrove sekitar dua kilometer. Penanaman juga telah dilakukan melalui sejumlah program sebelumnya, antara lain dari unsur kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan, serta pihak ketiga termasuk perguruan tinggi.
Untuk penanaman 5.000 mangrove kali ini, pelaksanaan dan pemeliharaan akan dilakukan oleh Pokmaswas Jala Waja Desa Pagak. Pekerjaan diperkirakan berlangsung sekitar lima hari dengan melibatkan sekitar 10 orang.
“Program-program seperti ini harus kita dukung. Kalau bisa dari desa pun harus mempunyai program yang semacam ini,” katanya.
Supanut juga mengajak pelaku usaha untuk ikut mengambil peran dalam penghijauan kawasan pesisir.
“Kami mengharap kepedulian para pengusaha yang ada di negeri kita, khususnya di Purworejo. Supaya peduli terhadap lingkungan dan selalu ada program setiap tahunnya untuk menanam penghijauan, baik mangrove, cemara, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Penanaman mangrove di Pantai Roro Inten juga diarahkan untuk mendukung pengembangan destinasi wisata yang tengah dirintis masyarakat Desa Pagak.
Supanut mengatakan, keberadaan kawasan wisata Roro Inten menjadi salah satu alasan kegiatan lingkungan tersebut penting untuk dilakukan. Lingkungan pesisir yang terjaga diharapkan dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata.
“Di Roro Inten kita juga untuk mendukung pariwisata, sekaligus memperkenalkan wisata yang sudah dirintis. Alhamdulillah setiap minggunya ada pengunjung, lumayan,” katanya.
Menariknya, Pemerintah Desa Pagak masih mempertahankan konsep wisata Roro Inten yang dapat dikunjungi masyarakat tanpa tiket masuk.
“Roro Inten itu bebas masuk, gratis. Siapa pun boleh masuk, tidak dipungut biaya,” jelas Supanut.
Bagi pengunjung yang ingin berkontribusi, pemerintah desa menyediakan kotak sumbangan sukarela untuk mendukung keberlanjutan pengelolaan kawasan wisata.
Camat Ngombol Bambang Wisnu Hartoko Ircham Syah, A.P., mengapresiasi dukungan PNM terhadap pelestarian lingkungan di wilayah pesisir.
Ia menyebut kawasan pesisir Purworejo memiliki potensi besar yang perlu dijaga secara bersama-sama. Panjang pantai Kabupaten Purworejo disebut mencapai sekitar 21,5 kilometer, membentang di wilayah Kecamatan Purwodadi, Ngombol, hingga Grabag.
“Ini adalah potensi yang luar biasa sekali kalau kita gali. Tentunya harus kita jaga, terutama dalam menjaga lingkungan hidup di wilayah sekitar pantai,” katanya.
Ia menilai penanaman mangrove merupakan salah satu bentuk ikhtiar konkret untuk menjaga kawasan pesisir. Namun, menurutnya, pekerjaan tidak berhenti ketika bibit ditanam.
“Tidak ada gunanya apabila kita cuma menanam saja, namun tidak kita rawat dan tidak kita jaga. Karena itu, penanaman tersebut harus kita jaga dan rawat,” tegasnya.
Camat Ngombol juga berharap sinergi dengan PNM dapat dilanjutkan pada program-program lingkungan berikutnya, termasuk penanaman cemara laut atau cemara udang yang dinilai dibutuhkan di kawasan pesisir selatan.
“Sehingga nantinya lingkungan wilayah Pantai Selatan ini bisa betul-betul terjaga,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pentingnya kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap berbagai potensi bencana. Namun, ia menegaskan bahwa berbagai upaya tersebut merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga lingkungan dan mengurangi risiko.
Kegiatan penanaman 5.000 mangrove tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perlindungan pesisir membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Pemerintah, perusahaan, kelompok masyarakat, pemerintah desa, nasabah PNM, hingga warga memiliki peran dalam memastikan tanaman yang telah ditanam dapat tumbuh dan memberikan manfaat.
Bagi Desa Pagak, gerakan penghijauan pesisir bukan hanya soal menambah tutupan vegetasi, tetapi juga bagian dari upaya menjaga lingkungan, mendukung keberlanjutan kawasan pesisir, serta memperkenalkan Pantai Roro Inten sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat.
Dengan demikian, 5.000 bibit mangrove yang ditanam di Pantai Roro Inten diharapkan menjadi awal dari gerakan yang lebih panjang: pesisir yang lebih terjaga, lingkungan yang lebih hijau, dan potensi wisata desa yang dapat berkembang tanpa mengabaikan keberlanjutan alam. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









