Pertanian

Cabai Melimpah Tak Lagi Bikin Petani Resah, KKN IAI An-Nawawi Ajari Warga Sawangan Olah Cabai Jadi Bubuk Bernilai Jual

4
×

Cabai Melimpah Tak Lagi Bikin Petani Resah, KKN IAI An-Nawawi Ajari Warga Sawangan Olah Cabai Jadi Bubuk Bernilai Jual

Sebarkan artikel ini
Foto bersama
Foto bersama

MAGELANG, Purworejo24.com – Harga cabai yang turun ketika musim panen menjadi tantangan bagi petani di Desa Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Saat produksi melimpah, cabai segar harus segera terjual agar tidak mengalami kerusakan.

Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 2 Desa Sawangan Institut Agama Islam (IAI) An-Nawawi Purworejo mengenalkan alternatif pemanfaatan hasil panen melalui pengolahan cabai menjadi bubuk cabai.

Pelatihan tersebut digelar bersama ibu-ibu PKK Dusun Ngaglik Atas di kediaman Kepala Dusun Ngaglik Atas, Juari, Senin (24/8/2026).

Sebanyak 10 mahasiswa KKN Kelompok 2 Desa Sawangan terlibat dalam kegiatan yang dimulai sekitar pukul 13.00 WIB tersebut. Selain memberikan demonstrasi, mahasiswa juga mengajak peserta mempraktikkan langsung tahapan pembuatan bubuk cabai.

Salah satu perwakilan mahasiswa KKN Kelompok 2 Desa Sawangan, Aisya Nur Salmania, mengatakan pengolahan cabai menjadi bubuk merupakan salah satu upaya mengembangkan ekonomi kreatif dengan memanfaatkan potensi alam yang tersedia di desa.

Demonstrasi pembuatan bubuk cabai ini merupakan upaya mengembangkan ekonomi kreatif Desa Sawangan melalui pemanfaatan hasil alam, sekaligus meningkatkan nilai jual cabai saat harga menurun,” kata Aisya.

Menurut dia, cabai dipilih karena menjadi salah satu komoditas pertanian yang mudah ditemukan di wilayah Desa Sawangan. Dengan pengolahan sederhana, cabai tidak hanya dijual dalam kondisi segar, tetapi dapat diubah menjadi produk yang lebih praktis dan memiliki masa simpan lebih panjang.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan proses pembuatan bubuk cabai sejak tahap awal. Cabai terlebih dahulu dicuci hingga bersih untuk menghilangkan kotoran yang menempel.

Setelah dicuci, cabai dikeringkan sebelum dihaluskan menggunakan chopper. Cabai yang telah dihaluskan kemudian dicampur dengan sejumlah bahan tambahan, seperti bubuk kaldu jamur, bawang bubuk, gula, dan garam.

Seluruh bahan tersebut dicampur hingga merata. Campuran cabai dan bumbu kemudian disangrai untuk mengurangi kadar air sekaligus menghasilkan tekstur yang lebih kering,” katanya.

Setelah proses sangrai selesai, campuran tersebut disaring agar menghasilkan bubuk cabai dengan tekstur yang lebih halus. Bubuk yang sudah jadi kemudian dimasukkan ke dalam wadah bersih dan kedap udara.

Produk tersebut selanjutnya diberi label dan disimpan di tempat yang kering untuk membantu menjaga kualitasnya.

Bagi ibu-ibu PKK Dusun Ngaglik Atas, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan keterampilan baru dalam mengolah cabai, tetapi juga memperkenalkan peluang pemanfaatan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah.

Pengolahan cabai menjadi bubuk dapat menjadi alternatif ketika harga cabai segar mengalami penurunan. Dengan begitu, hasil panen tidak harus seluruhnya dijual dalam bentuk segar pada saat harga sedang rendah,” kata Aisya.

Selain untuk kebutuhan rumah tangga, produk olahan tersebut juga berpotensi dikembangkan menjadi produk usaha apabila dikelola secara konsisten, mulai dari kualitas bahan, pengemasan, pemberian label, hingga pemasaran.

Mahasiswa KKN berharap keterampilan yang diperoleh dalam pelatihan tersebut dapat diterapkan warga secara mandiri setelah kegiatan berakhir.

Melalui pengolahan sederhana, cabai yang sebelumnya hanya menjadi komoditas pertanian segar dapat memiliki bentuk pemanfaatan baru. Upaya tersebut sekaligus membuka peluang bagi masyarakat Desa Sawangan untuk mengembangkan potensi pertanian lokal menjadi produk ekonomi kreatif.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa hasil panen yang melimpah tidak selalu harus berakhir dengan penurunan nilai jual.

Dengan kreativitas dan pengolahan yang tepat, cabai dapat diubah menjadi produk yang lebih tahan disimpan dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” tutupnya.


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.