Pertanian

Pemuda Lulusan Perawat Ini Ubah Hobi Menanam Menjadi Usaha Kebun Wisata Petik Anggur di Perbatasan Purworejo-Kebumen

124
×

Pemuda Lulusan Perawat Ini Ubah Hobi Menanam Menjadi Usaha Kebun Wisata Petik Anggur di Perbatasan Purworejo-Kebumen

Sebarkan artikel ini
Di kebun anggur
Di kebun anggur

PURWOREJO, purworejo24.com — Deretan tanaman anggur yang merambat rapi di bawah para-para tampak mencolok di tengah hamparan lahan pertanian di Desa Klepu, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Buah-buah berwarna merah, hijau, hitam, hingga ungu kehitaman menggantung lebat dan mengundang perhatian siapa saja yang melintas.

Kebun itu milik Diky Purwo Handoko (27), yang lebih dikenal warga dengan sebutan Pak Mantri Anggur. Pemuda energik yang saat ini tengah gencar mengembangkan Kebun anggur miliknya.

Nama tersebut bukan sekadar julukan, melainkan identitas yang kini melekat kuat melalui kanal media sosialnya, Mantri Anggur, yang aktif di Facebook, TikTok, dan YouTube.
Siapa sangka, kebun yang kini ramai dikunjungi warga itu bermula dari hobi sederhana menanam anggur di halaman rumah.

Sebenarnya kami sudah lama menanam anggur, tetapi hanya skala kecil, skala rumahan. Setelah berkali-kali mencoba dan gagal, akhirnya tanaman bisa berbuah lebat. Dari situ kami mulai yakin untuk ekspansi ke lahan yang lebih luas,” ujar Diki saat ditemui di kebunnya pada Kamis (6/8/2026)

Ketertarikan Diky terhadap anggur muncul saat masa pandemi Covid-19. Saat itu, menurut dia, bibit anggur unggulan masih sangat langka dan harganya bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta per batang.

Ia kemudian belajar secara otodidak melalui berbagai sumber, mencoba berbagai teknik perawatan, memangkas, memupuk, hingga mengatur pembuahan tanaman.

Usaha itu tidak selalu berjalan mulus. Berkali-kali ia mengalami kegagalan sebelum akhirnya menemukan pola budidaya yang cocok dengan kondisi lingkungan setempat.

Di rumah pernah satu pohon menghasilkan sekitar 40 kilogram buah, bahkan ada yang mencapai 200 dompol dalam satu kali panen. Dari situ kami semakin optimistis,” katanya.

Keyakinan itulah yang mendorongnya membuka kebun komersial pada awal 2025. Lahan seluas sekitar 150 ubin atau 2.100 meter persegi itu kini telah ditanami sekitar 300 pohon anggur.

Meski tanaman sebenarnya sudah mulai siap berbuah pada usia delapan bulan, Diki memilih menahan pembuahan agar batang dan perakaran lebih kuat.

Sebenarnya usia 8 bulan sudah bisa berbuah tapi belum maksimal, makanya kami tunggu hingga 1 tahun lebih untuk membuahkannya,” katanya.

Di kebun tersebut, Diky tidak menanam terlalu banyak varietas. Ia memilih fokus pada empat jenis anggur unggulan, yakni Everest (anggur merah), Ilarya (anggur hijau), Ghosty (anggur hitam) dan anggur jenis Jupiter (anggur premium dengan cita rasa manis seperti permen karet).

Yang paling premium ada anggur jenis Jupiter yang rasanya paling enak ada sensasi seperti permen karet,” katanya

Sebagian besar varietas tersebut berasal dari Ukraina dan dipilih karena dinilai cocok untuk dibudidayakan di daerah tropis setelah melalui proses adaptasi.

Untuk harga, pengunjung dapat membeli anggur mulai Rp65.000 per kilogram untuk grade B, Rp90.000 per kilogram untuk grade A, dan Rp125.000 per kilogram untuk varietas premium Jupiter.

Kebun Pak Mantri Anggur resmi dibuka untuk umum pada Minggu, 2 Agustus 2026. Awalnya, Diky dan tim hanya memperkirakan puluhan pengunjung datang setiap hari.Namun yang terjadi justru di luar dugaan, ratusan orang mengunjungi kebunnya saat pembukaan perdananya.

Dalam satu hari tercatat lebih dari 700 pengunjung, itu belum termasuk balita di bawah tiga tahun yang tidak kami hitung,” ujarnya.

Antusiasme tinggi tersebut membuat stok buah di kebun cepat menipis. Bahkan pada siang hari, sebagian besar buah yang siap panen sudah habis dipetik pengunjung.

Konsep yang ditawarkan memang cukup menarik. Dengan membayar tiket masuk Rp10.000, pengunjung dapat berkeliling kebun, mencicipi buah langsung dari pohonnya, lalu memetik sendiri buah yang diinginkan sebelum ditimbang dan dibayar sesuai beratnya.

Kami memperbolehkan pengunjung mencicipi satu sampai tiga butir terlebih dahulu. Kalau rasanya sudah cocok, baru dipetik,” kata Diky sambil tersenyum.

Di balik keberhasilan itu, budidaya anggur ternyata memiliki tantangan yang tidak ringan. Menurut Diky, dua musuh utama tanaman anggur adalah jamur dan hama trip, yakni serangga kecil yang menyerang bunga saat mekar.

Trip sangat suka bagian bunga yang manis, sehingga bisa menyebabkan kegagalan pembuahan. Kemarin kami sempat mengalami serangan yang cukup parah,” tuturnya.

Karena itu, ia memilih menggunakan pupuk organik dan menerapkan perawatan yang lebih ramah lingkungan untuk menjaga kesehatan tanaman sekaligus kualitas buah.

Bagi Diky, kebun ini bukan sekadar tempat wisata petik buah. Ia memiliki harapan yang lebih besar, yakni membuktikan bahwa Indonesia sebenarnya mampu menghasilkan anggur berkualitas tanpa bergantung sepenuhnya pada produk impor.

Selama ini hampir semua anggur di pasar berasal dari luar negeri, seperti China, Jepang, Korea, India, atau Australia. Padahal tanah kita sangat subur. Yang penting ilmunya terus dipelajari,” ujarnya.

Ke depan, ia berencana memperbaiki standar operasional kebun, meningkatkan produktivitas tanaman, serta menambah berbagai fasilitas pendukung agar pengunjung merasa lebih nyaman.

Diky dikenal dengan sebutan Pak Mantri Anggur karena latar belakang pendidikannya sebagai lulusan perawat. Di lingkungan masyarakat Jawa, tenaga kesehatan seperti perawat sering dipanggil dengan sebutan mantri, terutama di daerah pedesaan.

Meski kini lebih dikenal sebagai pembudidaya anggur, panggilan “Pak Mantri” sudah melekat pada dirinya jauh sebelum kebun anggurnya viral.

Ya memang saya seorang perawat, buka klinik kecil-kecilan untuk masyarakat sekitar,” katanya.

Setelah menekuni budidaya anggur secara serius, ia kemudian menambahkan kata anggur di belakang julukan tersebut. Perpaduan antara profesi yang pernah digeluti dan aktivitas barunya membuat nama Pak Mantri Anggur terdengar unik dan mudah diingat.

Julukan itu muncul secara alami dari kebiasaan masyarakat sekitar yang mengenalnya sebagai seorang mantri yang gemar menanam anggur.

Identitas tersebut semakin kuat ketika Diky aktif membagikan pengalaman budidaya melalui media sosial dengan nama Mantri Anggur. Ia tidak hanya memamerkan hasil panen, tetapi juga memberikan edukasi tentang perawatan tanaman, pemangkasan, penggunaan pupuk organik, hingga pengendalian hama. Karena itu, banyak orang mengenalnya bukan lagi sekadar Diky, melainkan Pak Mantri Anggur.

Akun sosial media kami memang kami namai Mantri Anggur agar mudah diingat,” katanya. (P24/bayu)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.