PURWOREJO, purworejo24.com – Kesenian Kuda Jingkrak yang selama ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat Purworejo dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ikon wisata budaya sekaligus media syiar keagamaan.
Selain menyuguhkan atraksi yang menarik, tradisi ini juga memiliki nilai edukatif dan historis yang kuat karena telah menjadi bagian dari kegiatan keagamaan masyarakat selama puluhan tahun.
Hal tersebut disampaikan Anggota Fraksi PKB DPRD Kabupaten Purworejo yang juga pengurus Pondok Pesantren Al Faham Baledono, H. Muh Dahlan, SE.
Menurutnya, Kuda Jingkrak bukan sekadar hiburan rakyat, tetapi merupakan perpaduan harmonis antara pelestarian budaya lokal dengan upaya memperkuat pendidikan dan syiar Islam di tengah masyarakat.
“Kuda Jingkrak memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Tradisi ini bukan hanya mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga menjadi sarana syiar agama yang efektif, terutama dalam mendorong masyarakat untuk memberikan pendidikan Al-Qur’an kepada anak-anak mereka,” ujarnya, saat ditemui usai mengikuti arak arakan khataman Ponpes Al Faham Baledono, Sabtu (4/7/2026)
Muh Dahlan menjelaskan, tradisi tersebut berawal dari inisiatif almarhum H. Khoirad sekitar tahun 1991/1992. Semangat pelestarian budaya yang dirintis beliau kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya, termasuk H. Haikal dan para tokoh masyarakat lainnya.
Sejak pertengahan tahun 1990-an, tepatnya sekitar tahun 1995, Kuda Jingkrak mulai rutin dipadukan dengan kegiatan khataman santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ).
Tradisi ini terus berlangsung hingga sekarang dan menjadi agenda tahunan yang selalu dinantikan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, para santri yang telah menyelesaikan khataman Al-Qur’an diarak menggunakan kuda-kuda pilihan yang telah dilatih secara khusus. Arak-arakan tersebut menjadi bentuk penghargaan sekaligus motivasi bagi anak-anak agar semakin semangat dalam belajar Al-Qur’an.
“Kegiatan ini memberikan pesan bahwa keberhasilan anak dalam belajar agama patut diapresiasi. Selain menjadi kebanggaan bagi santri dan keluarga, tradisi ini juga menginspirasi masyarakat untuk lebih memperhatikan pendidikan agama bagi generasi muda,” jelasnya.
Keunikan Kuda Jingkrak terletak pada kemampuan kuda melakukan gerakan-gerakan atraktif mengikuti irama musik. Kuda-kuda yang digunakan merupakan kuda pilihan dengan postur yang gagah dan telah menjalani latihan khusus sehingga mampu menampilkan gerakan menjingkrak secara teratur dan menarik.
Atraksi tersebut kerap menyedot perhatian masyarakat dan menjadi hiburan yang dinanti, terutama pada momentum bulan Mulud atau Rabiul Awal. Tidak hanya warga lokal, pertunjukan ini juga berpotensi menarik minat wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat kekayaan budaya Purworejo.
Menurut Muh Dahlan, potensi besar yang dimiliki Kuda Jingkrak perlu mendapat dukungan lebih luas dari berbagai pihak agar dapat berkembang menjadi agenda budaya dan pariwisata daerah yang berkelanjutan.
Ia berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat mengambil peran strategis dalam mengembangkan tradisi tersebut. Dinas Pariwisata, misalnya, dapat memasukkan Kuda Jingkrak ke dalam kalender event wisata tahunan Kabupaten Purworejo sehingga memiliki jadwal pertunjukan yang lebih terstruktur dan mampu menarik kunjungan wisatawan.
Sementara itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan diharapkan dapat berperan dalam menjaga nilai-nilai asli yang terkandung dalam tradisi tersebut sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya daerah.
Dukungan terhadap pengembangan tradisi berkuda ini juga dinilai semakin terbuka dengan adanya perhatian dari Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI).
Kehadiran organisasi tersebut dapat menjadi mitra dalam pembinaan dan pengembangan kegiatan berkuda yang aman, profesional, dan bernilai wisata.
Muh Dahlan menambahkan, Purworejo sebenarnya memiliki sejarah panjang terkait tradisi berkuda. Pada masa lalu, wilayah Jatimalang pernah dikenal dengan kegiatan pacuan kuda yang cukup populer.
Oleh karena itu, pengembangan Kuda Jingkrak dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali citra Purworejo sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya berkuda.
“Kami berharap Kuda Jingkrak tidak hanya menjadi tontonan saat khataman santri, tetapi berkembang menjadi aset budaya yang mampu memperkuat identitas daerah, mendukung sektor pariwisata, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat,” katanya.
Dengan memadukan nilai budaya, pendidikan, dan keagamaan, Kuda Jingkrak dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu daya tarik unggulan Kabupaten Purworejo.
Pelestarian tradisi ini tidak hanya menjaga warisan leluhur tetap hidup, tetapi juga membuka peluang bagi tumbuhnya ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya di masa mendatang. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









