KUTOARJO, purworejo24.com – Suasana di saluran Irigasi Silekor, Kelurahan Semawung Daleman, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, berubah meriah pada Senin (3/8/2026).
Ribuan warga memadati saluran irigasi yang tengah dikeringkan untuk mengikuti tradisi gogoh ikan, sebuah kearifan lokal yang telah berlangsung turun-temurun.
Sejak pagi, warga dari berbagai wilayah berdatangan dan rela menunggu hingga saluran irigasi benar-benar surut. Begitu pintu air dibuka dan dasar saluran mulai terlihat, warga langsung turun ke dalam irigasi untuk berburu ikan bersama-sama.
Dengan membawa seser, jaring sederhana, ember, karung, hingga mengandalkan tangan kosong, peserta tampak antusias menyusuri lumpur dan genangan air yang masih tersisa. Tawa dan teriakan kegembiraan pun terdengar sepanjang saluran.
Tradisi tersebut tidak hanya diikuti warga Kelurahan Semawung Daleman. Sejumlah peserta bahkan datang dari Kecamatan Bener dan Loano. Mereka rela datang sejak pagi untuk merasakan langsung kemeriahan gogoh ikan yang biasanya digelar bersamaan dengan pengeringan saluran irigasi pada musim kemarau.
Beragam jenis ikan berhasil diperoleh warga, mulai dari nila, lele, tawes, nilem, gabus, hingga sidat. Bagi masyarakat, hasil tangkapan bukan semata-mata menjadi tujuan utama. Lebih dari itu, gogoh ikan menjadi momentum untuk berkumpul, bersenang-senang, sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat.
Salah seorang peserta, Munif, mengaku hampir tidak pernah melewatkan tradisi tersebut setiap tahunnya.
“Ini tradisi setiap pengeringan irigasi. Setiap tahun saya ikut mencari ikan di sini. Alhamdulillah tadi dapat macam-macam, ada ikan nilem, lele, dan satu yang besar, yaitu ikan sidat,” ujarnya.
Menurut Munif, keseruan gogoh ikan justru terletak pada kebersamaan. Warga dari berbagai wilayah dapat bertemu dan berbaur tanpa sekat.
“Dengan adanya tradisi gogoh ikan ini, selain mencari ikan juga menjadi ajang silaturahmi dengan orang-orang yang ikut kegiatan ini,” katanya.
Tokoh masyarakat Kelurahan Semawung Daleman, Sri Raharjo, mengatakan gogoh ikan biasanya dilaksanakan setiap awal Agustus, bertepatan dengan agenda pengeringan saluran irigasi untuk keperluan pembersihan lumpur.
Jika biasanya digelar pada 1 Agustus, tahun ini pelaksanaan gogoh ikan diundur menjadi 3 Agustus.
“Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Bahkan ada peserta dari Kecamatan Bener dan Loano yang sudah menunggu sejak lama hanya untuk ikut tradisi gogoh ikan bersama-sama,” jelasnya.
Sri Raharjo menilai gogoh ikan bukan sekadar aktivitas menangkap ikan ketika saluran irigasi dikeringkan. Tradisi tersebut telah berkembang menjadi pesta rakyat yang mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, silaturahmi, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga budaya lokal.
“Inilah wujud pesta rakyat dan kegembiraan bersama. Kami sangat senang dengan pelaksanaan tahun ini. Masyarakat bisa berkumpul, mencari ikan bersama, sekaligus mempererat silaturahmi,” ujarnya.
Antusiasme warga dalam gogoh ikan di Irigasi Silekor menunjukkan bahwa tradisi sederhana yang diwariskan dari generasi ke generasi masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat.
Di balik aktivitas berburu ikan, tersimpan nilai sosial yang lebih besar: kebersamaan, gotong royong, silaturahmi, dan kegembiraan yang dinikmati bersama.
Gogoh ikan pun bukan hanya menjadi hiburan yang dinanti setiap musim kemarau, tetapi juga menjadi salah satu cara masyarakat Semawung Daleman menjaga agar kearifan lokal tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









