PURWOREJO, purworejo24.com – Tradisi Sulih Langse Gagak Handoko kembali digelar di Kompleks Pasepen Gagak Handoko, Dukuh Turusan, Desa Loano, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Rabu (5/8/2026).
Ritual adat yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali ini menjadi momentum penting untuk merawat warisan sejarah Kadipaten Lowano sekaligus mengenang perjuangan para leluhur.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Masyarakat Adat Lowano Hadiningkarsa bersama keluarga besar trah Gagak Handoko beserta Pemerintah Desa Loano.
Prosesi dipimpin oleh R. Wahyu Handoko atas dawuh Penghageng Adat yang dijabat Kepala Desa Loano bersama perangkat desa dan keluarga pemangku adat.
Rangkaian acara dimulai dengan seremoni penyerahan simbolis langse baru kepada pemangku adat. Setelah itu, peserta mengikuti kirab dari Pasepen menuju kompleks makam Gagak Handoko untuk melaksanakan penggantian langse atau kain kelambu penutup makam.
Prosesi berlangsung khidmat dan diikuti keluarga besar keturunan Gagak Handoko, pemangku adat, perwakilan Wakil Bupati Purworejo, Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Purworejo, unsur Kecamatan Loano, tokoh masyarakat, hingga tamu undangan lainnya.
Sekretaris Desa Loano, Erwan W. Azhari, mengatakan bahwa Sulih Langse merupakan tradisi pelestarian makam yang telah dijalankan secara rutin sejak kembali dihidupkan sekitar enam tahun lalu.
“Ini merupakan bagian dari upaya menjaga peninggalan leluhur sekaligus merawat makam Gagak Handoko sebagai Adipati terakhir Kadipaten Lowano,” ujar Erwan.
Menurut dia, makna Sulih Langse tidak hanya sebatas mengganti kain penutup makam. Tradisi tersebut juga menjadi sarana menanamkan nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda.
“Yang ingin diwariskan adalah semangat heroisme, patriotisme, dan penghormatan terhadap jasa para leluhur. Harapannya, generasi penerus dapat melanjutkan cita-cita luhur yang telah diwariskan,” katanya.
Erwan menjelaskan, Gagak Handoko dikenal sebagai Adipati ke-9 sekaligus adipati terakhir Kadipaten Lowano. Dalam tradisi masyarakat Loano, tokoh tersebut diyakini memiliki keterkaitan erat dengan perjuangan Pangeran Diponegoro pada masa Perang Jawa.
Ia juga menerangkan bahwa langse yang menutupi makam terdiri atas dua bagian, yakni langse luar dan langse dalam. Khusus langse dalam, terdapat tujuh lapis kain yang diganti secara berkala setiap tiga tahun sekali.
Menariknya, kain langse lama tidak langsung dimusnahkan. Sebagian disimpan sebagai koleksi sejarah di Museum Lowano dan akan dijamasi kembali pada agenda Jamasan Ageng tahun berikutnya.
“Langse yang paling tua masih kami simpan sebagai penanda zaman. Koleksi itu berada di museum bersama berbagai pusaka peninggalan Gagak Handoko, termasuk perlengkapan rumah tangga dan benda-benda bersejarah lainnya,” tutur Erwan.
Sementara itu, R. Wahyu Handoko, keturunan ketujuh Gagak Handoko yang memimpin prosesi, menjelaskan bahwa kirab membawa berbagai perlengkapan adat, termasuk sesaji dan langse baru yang akan dipasang di makam.
“Setelah diserahterimakan oleh pemangku adat, langse baru dibawa menuju makam untuk dipasang menggantikan langse lama. Seluruh proses penggantian dilakukan oleh keluarga keturunan Gagak Handoko,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Kompleks Pasepen Gagak Handoko hingga kini masih menjadi pusat pelestarian sejarah Kadipaten Lowano. Di kawasan tersebut terdapat museum pusaka, rumah tinggal terakhir Gagak Handoko, pendopo, serta rumah juru kunci yang masih difungsikan.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Perwitasari Kabupaten Purworejo, Hermawan Wahyu Utomo, yang hadir sebagai pemerhati budaya, menilai tradisi Sulih Langse memiliki nilai strategis dalam menjaga identitas sejarah daerah.
“Tradisi ini mengajarkan masyarakat untuk menghargai jasa leluhur, memahami sejarah, dan meneruskan semangat perjuangan mereka. Selain itu, kegiatan ini mempererat silaturahmi keluarga besar keturunan Gagak Handoko sekaligus menjadi ruang belajar sejarah secara langsung bagi generasi muda,” ujarnya.
Menurut Hermawan, keberadaan museum, pusaka, dan berbagai peninggalan sejarah di Kompleks Pasepen menjadi bukti bahwa Desa Loano memiliki warisan budaya yang layak dijaga dan dikenalkan lebih luas kepada masyarakat.
“Melalui pelestarian Sulih Langse, yang dirawat bukan hanya benda-benda bersejarah, tetapi juga nilai, identitas, dan semangat perjuangan yang diwariskan para leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” pungkasnya. (P24-byu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









