Seni Budaya

Banditoz Yaow’86, Dari Doa Sang Anak Istimewa hingga Membawa Pesan Inklusi Lewat Musik

1
×

Banditoz Yaow’86, Dari Doa Sang Anak Istimewa hingga Membawa Pesan Inklusi Lewat Musik

Sebarkan artikel ini
Anindito
Anindito

KUTOARJO, purworejo24.com — Perjalanan musik Anindito Adhi Rahman, atau lebih dikenal dengan nama panggung Banditoz Yaow’86, bukan sekadar tentang karya dan popularitas. Selama 22 tahun menekuni genre hip hop, musisi asal Yogyakarta ini menjadikan keluarga, khususnya sang anak, sebagai salah satu sumber kekuatan dalam berkarya.

Anindito mengungkapkan, nama Banditoz 86 yang selama ini melekat dalam perjalanan kariernya terinspirasi dari doa istri dan putranya, Tama, yang kini berusia 12 tahun dan memiliki gejala autisme ringan.

Nama Banditoz 86 sampai detik ini terinspirasi berkat doa istri dan anak, terutama anak saya yang istimewa,” ujar Anindito.

Menurutnya, kehadiran sang anak justru menjadi sumber semangat untuk terus berkarya. Ia juga meyakini bahwa doa anak merupakan kekuatan yang luar biasa bagi perjalanan hidup keluarganya.

Doa anak istimewa itu yang menurut saya luar biasa. Insyaallah bisa tembus sampai langit,” ungkapnya.

Selama perjalanan bermusik, Anindito mengaku tidak pernah menyangka karya-karyanya, termasuk lagu-lagu yang mengangkat tema kicau mania, dapat dikenal luas hingga mancanegara.

Menariknya, pendengarnya tidak hanya berasal dari kalangan tertentu. Karyanya justru dinikmati berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Tidak menyangka ternyata bisa sampai seviral itu, sampai luar negeri. Fans saya anak-anak kecil dari umur dua setengah tahun sampai yang tua,” katanya.

Perjalanan tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah musisi. Salah satunya Ndar Boy Genk, yang pernah berkolaborasi dengan Banditoz 86 dan melahirkan karya dengan karakter unik serta mendapat respons positif dari masyarakat.

Di balik aktivitasnya sebagai musisi, Anindito kini ingin menjadikan musik sebagai media untuk menyampaikan pesan sosial, khususnya mengenai keberadaan anak berkebutuhan khusus (ABK).

Ia berencana menghadirkan karya yang mengangkat kehidupan anak-anak autisme, difabel, maupun anak yang membutuhkan pendidikan inklusif.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, kesempatan berkembang, dan lingkungan yang menerima mereka.

Di sekitar kita ada anak-anak autis, anak-anak berkebutuhan khusus atau anak difabel yang harus mendapatkan sekolah inklusi dan guru pendamping. Saya ingin sedikit menggugah masyarakat bahwa setiap anak memiliki hak yang sama, walaupun kondisinya berbeda,” jelasnya.

Anindito mengakui dirinya dan sang istri sempat mengalami pergolakan batin ketika mengetahui kondisi putranya. Namun, keduanya kemudian memilih untuk menerima dan menjalani keadaan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Sebagai manusia biasa pasti bergejolak, kenapa saya dikasih ini. Tapi saya sama istri bilang, sudahlah, ini memang rezeki saya. Kita harus menjalaninya dengan sebaik-baiknya karena anak adalah titipan dari Tuhan,” tuturnya.

Dari pengalaman tersebut, Anindito berharap semakin banyak masyarakat yang memahami dan memberikan ruang bagi anak berkebutuhan khusus. Ia bahkan memiliki keinginan agar suatu saat ada pihak yang mendirikan yayasan atau sekolah yang mampu memberikan pendidikan serta pendampingan sesuai kebutuhan anak-anak ABK.

Ia juga berharap tidak ada lagi anak berkebutuhan khusus yang dipandang sebelah mata hanya karena memiliki kondisi yang berbeda.

Putra Anindito bernama Tama. Ia juga memberikan nama alias kepada sang anak, yakni Tamanus_14, yang terinspirasi dari dunia hip hop dan otomotif.

“Tama” merupakan nama utama, sedangkan “NOS” terinspirasi dari istilah nitrous oxide yang dikenal dalam dunia otomotif dan balap.

Bagi Anindito, nama tersebut bukan sekadar identitas, tetapi juga doa dan harapan bagi masa depan putranya.

Insyaallah dengan nama baik, rezekinya baik, memberkahi, migunani,” pungkasnya.

Meski memiliki misi sosial melalui musik, Banditoz 86 memastikan perjalanan berkaryanya tidak berhenti. Sejumlah karya baru tengah disiapkan dan akan dirilis melalui berbagai platform musik digital.

Mungkin ada beberapa karya yang akan rilis. Pantengin terus di kanal atau platform digital musik Banditoz 86,” katanya.

Bagi Anindito, musik bukan hanya sarana untuk berekspresi dan menghibur. Lebih dari itu, musik menjadi ruang untuk menyampaikan pesan tentang kasih sayang keluarga, penerimaan, kesetaraan, serta pentingnya memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk tumbuh dan berkembang.

Melalui karya-karyanya, ia berharap semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk membatasi masa depan seorang anak.


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.