PURWOREJO, purworejo24.com – Suasana Gedung Kesenian Wage Rudolf Soepratman Purworejo berubah menjadi ruang penuh emosi pada Sabtu (20/6/2026) malam.
Komunitas Teater Purworejo (KTP) sukses memukau penonton melalui pementasan bertajuk “Orang Kasar”, sebuah adaptasi karya sastrawan dunia Anton Chekhov yang diolah kembali oleh budayawan Indonesia, W.S. Rendra.
Pementasan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-19 Komunitas Teater Purworejo ini tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga menawarkan refleksi mendalam tentang kehidupan manusia.
Sejak awal pertunjukan, penonton diajak memasuki dunia yang sarat dengan pergulatan batin, konflik cinta, kemarahan, ego, hingga kejujuran yang kerap tersembunyi di balik topeng kesopanan.
Narasi pembuka yang menggema di dalam gedung menjadi simbol kuat dari pesan yang ingin disampaikan.
“Di dalam kepala kita, ada ratusan burung hitam yang berebut keluar. Mereka adalah pikiran-pikiran yang terpenjara, amarah yang mengerak, dan cinta yang menolak tunduk pada keangkuhan dunia.”
Kalimat puitis tersebut seolah menggambarkan pertarungan yang kerap terjadi dalam diri manusia, antara logika, perasaan, dan ego yang saling berbenturan.
Melalui dialog yang tajam, akting yang kuat, serta sentuhan komedi yang menyegarkan, pementasan ini berhasil menghidupkan pesan-pesan kemanusiaan yang tetap relevan di tengah kehidupan modern.
Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Orang Kasar juga menjadi bentuk penghormatan KTP kepada dua tokoh besar dunia sastra dan teater, yakni Anton Chekhov dan W.S. Rendra, yang karya-karyanya telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan seni pertunjukan lintas zaman.
Perwakilan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Purworejo, Neira Anjar Pujisusilo, mengapresiasi terselenggaranya pementasan tersebut.
Menurutnya, seni pertunjukan merupakan salah satu subsektor ekonomi kreatif yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi daerah.
“Kami memberikan dukungan dan apresiasi terhadap kegiatan seperti ini. Seni pertunjukan merupakan bagian dari ekonomi kreatif yang mampu menghadirkan dampak ekonomi melalui hadirnya penonton dan berbagai aktivitas pendukung lainnya,” kata Neira.
Ia menilai, keberadaan pertunjukan seni tidak hanya memperkaya kehidupan budaya masyarakat, tetapi juga mampu menggerakkan aktivitas ekonomi kreatif.
Namun demikian, tingkat apresiasi masyarakat terhadap teater masih perlu ditingkatkan karena sebagian besar penonton saat ini masih didominasi oleh keluarga pemain dan komunitas seni.
“Harapan kami ke depan semakin banyak masyarakat umum yang hadir menikmati seni teater sehingga apresiasi terhadap seni pertunjukan semakin meningkat,” ujarnya.
Neira menambahkan, pemerintah daerah terbuka untuk menjalin kolaborasi dengan berbagai komunitas seni di Kabupaten Purworejo.
Menurutnya, seni pertunjukan dapat menjadi ruang positif bagi generasi muda untuk menyalurkan kreativitas sekaligus berpotensi menjadi daya tarik wisata yang mampu mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah.
Sementara itu, Ketua Komunitas Teater Purworejo, Mahestya Andi Sanjaya, menjelaskan bahwa naskah Orang Kasar dipilih karena tema yang diangkat masih sangat dekat dengan realitas kehidupan masyarakat saat ini.
“Naskah ini mengangkat berbagai persoalan kehidupan, mulai dari cinta, ketegangan hingga komedi yang muncul melalui para tokohnya. Nilai-nilai itu masih sangat dekat dengan realitas kehidupan sekarang,” jelasnya.
Mahestya mengatakan, pementasan ini juga menjadi momentum penting bagi KTP yang telah berkiprah selama 19 tahun dalam membangun ekosistem seni pertunjukan di Purworejo.
Berdiri sejak tahun 2007 atas inisiatif sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo, komunitas ini kini berkembang menjadi wadah kreatif yang menghimpun pelajar, mahasiswa, hingga pegiat seni dari berbagai latar belakang.
Menurutnya, keberlangsungan dunia seni tidak hanya bergantung pada pelaku seni, tetapi juga membutuhkan dukungan dan apresiasi masyarakat.
“Hargai kegiatan-kegiatan kreatif di sekitar kita, baik di desa maupun di kota. Mari kita dukung, tonton, dan apresiasi,” tuturnya.
Antusiasme penonton yang memenuhi gedung turut dirasakan oleh salah satu pemain, Ngumar, yang memerankan tokoh Mandor Darmo. Ia mengaku bangga dapat terlibat dalam pementasan tersebut dan merasakan dukungan luar biasa dari masyarakat.
“Saya sangat bangga bisa menjadi bagian dari pementasan ini. Terima kasih kepada seluruh penonton yang hadir. Semoga ke depan pementasan teater di Purworejo semakin maju, semakin keren, dan terus berlanjut dengan tema-tema yang berbeda,” ungkapnya.
Pementasan Orang Kasar menjadi bukti bahwa seni teater masih memiliki ruang penting di tengah masyarakat. Selain menghadirkan hiburan yang berkualitas, teater juga berfungsi sebagai media pendidikan, refleksi sosial, serta sarana membangun empati terhadap berbagai persoalan kehidupan.
Melalui kisah yang sederhana namun sarat makna, KTP mengingatkan bahwa di balik kehidupan yang tampak biasa, setiap manusia menyimpan pergulatan emosi yang tak pernah benar-benar selesai.
Pesan kemanusiaan itulah yang membuat Orang Kasar terasa dekat, relevan, dan mampu menyentuh penonton lintas generasi, sekaligus menegaskan bahwa seni pertunjukan tetap memiliki peran penting dalam memperkaya kehidupan budaya masyarakat Purworejo. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









