Opini

Demokrasi dan Adab di Ruang Publik: Catatan Kritis untuk Bangsa yang Sedang Berubah

1
×

Demokrasi dan Adab di Ruang Publik: Catatan Kritis untuk Bangsa yang Sedang Berubah

Sebarkan artikel ini
Aziz Subekti
Aziz Subekti

Oleh : Aziz Subekti

(Mahasiswa Program Doktor Hukum UAI, Pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra)

Di tengah dinamika politik dan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, kualitas demokrasi tidak hanya diukur dari luasnya kebebasan berbicara, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab.

Gagasan ini menjadi pokok pemikiran dalam tulisan opini berjudul “Catatan untuk Bangsa yang Sedang Berubah: Ketika Demokrasi Kehilangan Adab” karya Azis Subekti.

Tulisan tersebut mengangkat fenomena yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara demokrasi di dunia.

Kebebasan berekspresi yang semakin terbuka ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya kualitas dialog publik.

Sebaliknya, ruang demokrasi kerap diwarnai polarisasi, kemarahan, hingga saling serang yang mengaburkan tujuan utama demokrasi, yakni mencari solusi dan kebenaran bersama.

Menurut Azis Subekti, kritik terhadap pemerintah merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Kritik berfungsi sebagai sarana kontrol sosial sekaligus alat evaluasi terhadap kebijakan publik.

Namun, ia mengingatkan bahwa kritik yang sehat berbeda dengan ujaran kebencian, fitnah, maupun serangan personal yang bertujuan menjatuhkan pihak tertentu tanpa dasar yang jelas.

Dalam konteks Indonesia, perdebatan publik dinilai semakin tajam seiring berbagai agenda perubahan yang sedang berlangsung, mulai dari hilirisasi sumber daya alam, kemandirian pangan, transformasi birokrasi, digitalisasi pemerintahan, hingga penguatan sektor strategis nasional.

Perubahan-perubahan tersebut, menurutnya, wajar memunculkan perbedaan pandangan dan kritik dari berbagai kalangan.

Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa setiap perubahan besar hampir selalu diikuti resistensi dan perlawanan dari pihak-pihak yang merasa terganggu kepentingannya.

Karena itu, perbedaan pendapat seharusnya tetap ditempatkan dalam koridor argumentasi, data, dan etika, bukan dalam bentuk kebencian atau upaya penghancuran karakter.

Tulisan tersebut juga menyoroti peran media sosial yang telah mengubah pola komunikasi publik. Algoritma platform digital sering kali lebih mengutamakan konten yang memancing emosi dibandingkan informasi yang mendalam dan terverifikasi.

Akibatnya, informasi yang belum tentu benar dapat menyebar lebih cepat dibanding klarifikasi atau fakta yang sebenarnya.

Dari perspektif nilai-nilai keagamaan, Azis mengutip ajaran dalam Surah Al-Hujurat yang menekankan pentingnya tabayyun atau verifikasi informasi, larangan berprasangka buruk, menghina, maupun menggunjing orang lain.

Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan dalam menghadapi tantangan komunikasi digital di era modern.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa demokrasi sejatinya bukan hanya soal hak untuk berbicara, melainkan juga kemampuan menjaga akhlak, menghormati perbedaan, dan mengedepankan dialog yang konstruktif.

Kemampuan mengkritik tanpa memfitnah serta berbeda pendapat tanpa membenci disebut sebagai fondasi penting bagi keberlangsungan demokrasi yang sehat.

Melalui refleksi tersebut, Azis Subekti mengajak masyarakat untuk tidak sekadar menjaga demokrasi sebagai sistem politik, tetapi juga merawat nilai-nilai moral yang menjadi jiwanya.

Sebab, menurutnya, bangsa yang mampu mengelola kebebasan dengan adab dan kebijaksanaan akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan perubahan tanpa kehilangan persatuan dan kematangan sosial.


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.