Opini

Memahami New Saudi Narrative: Cermin untuk Membaca Masa Depan Indonesia

3
×

Memahami New Saudi Narrative: Cermin untuk Membaca Masa Depan Indonesia

Sebarkan artikel ini
Aziz Subekti
Aziz Subekti

 

Oleh: Azis Subekti (Mahasiswa Program Doktor Universitas Al Azhar Indonesia dan Anggota DPR RI Fraksi Gerindra)

Di tengah perubahan global yang berlangsung semakin cepat, Arab Saudi muncul sebagai salah satu negara yang paling menarik untuk diamati. Negara yang selama puluhan tahun dikenal sebagai raksasa minyak dunia kini berupaya membangun identitas baru melalui berbagai transformasi ekonomi, sosial, dan teknologi.

Fenomena tersebut dikenal sebagai New Saudi Narrative, sebuah narasi baru yang tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang bagaimana sebuah bangsa mempersiapkan masa depannya.

Pengamatan ini menjadi penting karena menyimpan pelajaran berharga bagi Indonesia. Sebagai negara yang sama-sama kaya sumber daya alam, Indonesia menghadapi tantangan serupa: bagaimana memastikan kemajuan bangsa tidak hanya bergantung pada kekayaan alam yang dimiliki saat ini.

Saat berkunjung kembali ke Arab Saudi setahun lalu, Azis Subekti merasakan adanya perubahan suasana yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Di berbagai kota besar seperti Riyadh dan Jeddah, muncul optimisme baru yang menunjukkan bahwa Saudi sedang berusaha melepaskan ketergantungan jangka panjang terhadap sektor minyak.

Selama ini, minyak menjadi tulang punggung perekonomian Arab Saudi. Sejak ditemukan di Dammam pada 1938, komoditas tersebut menjadi sumber utama pendapatan negara sekaligus fondasi kesejahteraan masyarakat.

Namun para pemimpin Saudi menyadari bahwa ketergantungan terhadap satu sektor tidak dapat dipertahankan selamanya.

Perubahan pola konsumsi energi dunia, perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, hingga transisi menuju energi bersih menjadi sinyal bahwa era dominasi minyak suatu saat akan mengalami perubahan.

Kesadaran inilah yang melahirkan Vision Saudi 2030, sebuah agenda besar yang bertujuan mendiversifikasi ekonomi dan membangun sumber-sumber pertumbuhan baru.

Banyak orang mengenal transformasi Saudi melalui proyek-proyek spektakuler seperti NEOM, kawasan wisata Laut Merah, penyelenggaraan Formula 1, hingga investasi besar di bidang olahraga dan teknologi. Namun menurut Azis, inti perubahan tersebut tidak terletak pada kemegahan infrastruktur.

Yang sedang dibangun Saudi bukan sekadar kota baru, melainkan kepercayaan terhadap masa depan,” tulisnya.

NEOM, misalnya, bukan hanya proyek bernilai ratusan miliar dolar. Kawasan futuristik tersebut menjadi simbol ambisi Saudi untuk dikenal bukan semata karena sumber daya yang tersimpan di bawah tanahnya, tetapi juga karena inovasi, kreativitas, dan kemampuan sumber daya manusianya.

Dalam perspektif ini, Saudi berusaha mengubah citra dari negara berbasis minyak menjadi pusat investasi, teknologi, dan ekonomi masa depan.

Narasi Sebagai Modal Pembangunan
Salah satu pelajaran penting dari transformasi Saudi adalah kesadaran bahwa modal pembangunan abad ke-21 tidak lagi hanya berupa kekayaan finansial.

Kepercayaan, reputasi, dan narasi kini menjadi aset strategis yang sama pentingnya.
Investor global tidak hanya mencari keuntungan ekonomi, tetapi juga kepastian arah pembangunan.

Talenta terbaik dunia tertarik berpindah ke negara yang memiliki visi masa depan yang jelas. Demikian pula wisatawan dan pelaku usaha yang cenderung memilih negara dengan citra positif dan prospek jangka panjang.

Karena itu, Saudi saat ini tidak hanya membangun jalan, pelabuhan, dan kawasan industri, tetapi juga membangun cerita baru tentang dirinya di mata dunia.

Transformasi Saudi juga tidak dapat dilepaskan dari perubahan geopolitik global yang semakin kompleks.

Munculnya Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi dan teknologi, berkembangnya BRICS, persaingan kecerdasan buatan, serta dinamika hubungan antarnegara telah menciptakan tatanan dunia yang lebih multipolar.

Dalam situasi tersebut, Saudi mengambil langkah strategis dengan menjaga hubungan baik bersama Amerika Serikat sekaligus memperluas kerja sama dengan Tiongkok dan berbagai kekuatan baru lainnya.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa Saudi tidak ingin terjebak dalam satu poros kekuatan tertentu. Sebaliknya, mereka berupaya menjadi mitra yang relevan bagi berbagai pihak.

Menurut Azis, strategi tersebut memberikan pelajaran penting bagi Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif.

Tantangan saat ini bukan hanya bersikap netral, tetapi bagaimana membuat semua pihak merasa penting untuk bekerja sama dengan Indonesia,” ujarnya.

Indonesia memiliki berbagai keunggulan yang sering dibanggakan, mulai dari cadangan nikel terbesar dunia, kekayaan laut, hutan tropis, bonus demografi, hingga posisi geografis yang strategis.

Namun sejarah menunjukkan bahwa kekayaan sumber daya alam bukan jaminan keberhasilan pembangunan.

Banyak negara kaya sumber daya justru mengalami stagnasi karena terlalu bergantung pada komoditas. Sebaliknya, negara dengan sumber daya terbatas mampu berkembang pesat karena mengandalkan inovasi, pendidikan, teknologi, dan produktivitas manusia.

Karena itu, berbagai program nasional seperti hilirisasi industri, transisi energi, ketahanan pangan, pembangunan sumber daya manusia, serta penguatan teknologi nasional harus dipahami sebagai bagian dari upaya membangun masa depan Indonesia.

Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana dunia akan memandang Indonesia beberapa dekade mendatang.

Apakah Indonesia hanya akan dikenal sebagai pemasok bahan mentah? Ataukah berkembang menjadi pusat manufaktur, teknologi, ekonomi digital, dan energi yang memiliki pengaruh global?

Dalam pandangan Azis, hubungan Indonesia dan Arab Saudi kini memiliki dimensi yang lebih luas dibandingkan sekadar hubungan keagamaan melalui penyelenggaraan haji dan umrah.

Kedua negara memiliki peluang besar untuk memperkuat kerja sama di berbagai sektor strategis, mulai dari energi, petrokimia, pangan, logistik, kecerdasan buatan, ekonomi digital, hingga investasi jangka panjang.

Pembangunan Kampung Haji Indonesia di Makkah menjadi salah satu simbol meningkatnya hubungan bilateral tersebut.

Namun di balik simbol itu terdapat peluang kolaborasi yang jauh lebih besar untuk mendukung pembangunan kedua negara.

Saudi membutuhkan mitra yang memiliki stabilitas politik, pasar besar, populasi muda, dan posisi strategis. Sementara Indonesia membutuhkan investasi berkualitas, transfer teknologi, dan akses yang lebih luas ke jaringan ekonomi global.

Pada akhirnya, New Saudi Narrative memberikan refleksi penting bagi Indonesia tentang arti kesiapan menghadapi masa depan.

Menurut Azis, masa depan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa besar sumber daya yang dimiliki hari ini, melainkan oleh kemampuan membaca perubahan zaman dan keberanian mengambil langkah sebelum perubahan itu datang.

Arab Saudi saat ini sedang berusaha menyiapkan diri menghadapi dunia pasca-minyak. Indonesia pun menghadapi tantangan serupa dalam berbagai sektor strategis yang selama ini menjadi andalan ekonomi nasional.

Pertanyaan besarnya adalah apakah Indonesia akan menunggu perubahan datang lalu bereaksi, atau justru berani melakukan transformasi lebih awal.

Sebab sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa bangsa tidak runtuh karena kehilangan sumber daya. Bangsa mengalami kemunduran ketika kehilangan kemampuan untuk membayangkan masa depannya.

Di tengah dunia yang terus berubah, kemampuan merancang dan mewujudkan masa depan itulah yang mungkin menjadi aset paling berharga bagi sebuah negara.


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.