Seni Budaya

Tradisi Tawu Beji di Desa Clapar, Wujud Syukur dan Pelestarian Sumber Air Kehidupan yang Tak Pernah Kering

224
×

Tradisi Tawu Beji di Desa Clapar, Wujud Syukur dan Pelestarian Sumber Air Kehidupan yang Tak Pernah Kering

Sebarkan artikel ini
Warga gotong royong membersihkan Beji Indah Lestari
Warga gotong royong membersihkan Beji Indah Lestari

BAGELEN, purworejo24.com – Puluhan warga Desa Clapar, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, mengikuti tradisi Tawu Beji atau pengurasan sumber mata air yang digelar di kawasan Beji Indah Lestari, RT 03 RW 01, Desa Clapar, Minggu (12/7/2026).

Tradisi yang sarat nilai budaya, spiritual, dan pelestarian lingkungan tersebut menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk menjaga keberlangsungan sumber air yang selama ratusan tahun menjadi penopang kehidupan warga.

Kegiatan diawali dengan kirab budaya yang membawa berbagai sesaji dan ubarampe yang ditempatkan dalam tenong.

Rombongan berjalan dari halaman rumah salah seorang warga, Yanto, menuju lokasi beji dengan diiringi suasana khidmat dan penuh kebersamaan.

Setibanya di lokasi, para sesepuh desa memimpin doa dan ritual sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan air yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Setelah prosesi doa selesai, warga kemudian melaksanakan inti kegiatan berupa Tawu Beji, yakni menguras dan membersihkan mata air.

Dalam pelaksanaannya, tiga unit mesin pompa diesel digunakan untuk menyedot air beji hingga surut. Saat air mulai berkurang, warga secara gotong royong membersihkan dasar beji dari lumpur, daun, dan berbagai kotoran yang mengendap.

Suasana semakin meriah ketika ikan-ikan yang berada di dalam beji mulai terlihat dan menjadi rebutan anak-anak yang telah menunggu sejak pagi.

Dengan membawa ember dan alat seadanya, mereka berusaha menangkap ikan hasil tawu beji sambil disambut tawa dan sorak kegembiraan warga yang menyaksikan.

Usai kegiatan pengurasan selesai, masyarakat melanjutkan dengan kenduri dan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat.

Warga kemudian menikmati hidangan bersama sebagai simbol kebersamaan, persaudaraan, dan rasa syukur atas berkah air yang selama ini menghidupi masyarakat Desa Clapar.

Kemeriahan acara semakin terasa dengan hiburan organ tunggal yang mengiringi waktu istirahat dan makan bersama, menciptakan suasana akrab dan penuh kekeluargaan di antara warga.

Pemilik lahan sekaligus penggagas penataan kawasan tersebut, Eko Gunarto, menjelaskan bahwa dahulu lokasi tersebut hanyalah sebuah beji biasa yang kemudian direstorasi dan ditata ulang hingga akhirnya diberi nama Beji Indah Lestari.

Menurutnya, Tawu Beji bukanlah kegiatan tahunan yang dilaksanakan secara rutin pada waktu tertentu, melainkan dilakukan ketika kondisi beji dinilai sudah mulai kotor dan membutuhkan pembersihan.

Kegiatan ini sebenarnya adalah kuras beji atau membersihkan dan mensucikan beji. Pelaksanaannya tidak tentu, bisa tiga tahun, empat tahun, bahkan lima tahun sekali, tergantung kondisi beji. Jika dirasa sudah banyak kotoran yang masuk dan kualitas kebersihannya menurun, maka dilakukan tawu beji pada bulan Suro,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan tawu beji terakhir dilakukan pada 30 Juli 2023. Setelah dilakukan restorasi, reklamasi, penanaman bunga, serta penataan menggunakan batu dan kristal, perlahan mulai banyak endapan dan kotoran yang masuk sehingga warga dan para sesepuh sepakat untuk kembali melakukan pengurasan pada Minggu Kliwon bulan Suro tahun ini.

Kesepakatan warga dan sesepuh jatuh pada Minggu Kliwon bulan Suro, dan secara kalender nasional bertepatan pada 12 Juli 2026. Kami berharap ini menjadi berkah bagi semuanya,” katanya.

Eko menuturkan, keberadaan beji tersebut diperkirakan telah berusia ratusan tahun dan sudah ada jauh sebelum generasi buyutnya lahir.

Menurut cerita turun-temurun, dahulu kawasan tersebut dipenuhi pohon pandan tanpa duri dan berlumpur. Setelah datang seseorang yang memiliki kemampuan spiritual dan kemudian menetap serta menikah dengan warga Clapar, kondisi beji berubah menjadi seperti sekarang dengan debit air yang melimpah.

Beji ini tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang. Warga menggunakan air ini untuk mandi, mencuci, bahkan air minum, tetapi airnya tidak pernah habis. Kalau siang surut, malam hari sudah penuh lagi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan beji menjadi penyelamat masyarakat Clapar pada masa lalu ketika desa tersebut sering mengalami kesulitan air, terutama saat musim kemarau.

Ratusan orang bisa datang untuk mandi, mencuci, dan mengambil air minum, tetapi beji ini tetap tidak pernah kering. Karena itulah masyarakat menganggap beji ini sebagai sumber kehidupan,” tambahnya.

Warga membawa tenong menuju beji
Warga membawa tenong menuju beji

Nama Beji Indah Lestari sendiri memiliki filosofi yang mendalam.

Menurut Eko, kata beji melambangkan sumber kehidupan, sedangkan indah berarti air tersebut memberikan keindahan dalam kehidupan masyarakat, baik dari segi kesehatan, kesejahteraan, maupun keberlangsungan generasi.

Sementara kata lestari dimaknai sebagai harapan agar sumber air tersebut tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh generasi mendatang.

Kalau hidup ini berkah, kebutuhan tercukupi, maka semuanya menjadi indah. Tetapi sesuatu yang indah harus dijaga agar tetap lestari. Karena itulah kami memberi nama Beji Indah Lestari,” jelasnya.

Ia menambahkan, meskipun hak kepemilikan lahan berada pada keluarganya, namun manfaat keberadaan beji diperuntukkan bagi masyarakat luas, khususnya warga Clapar Kidul.

Ke depan, Eko berharap kawasan Beji Indah Lestari tidak hanya berfungsi sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat berkembang menjadi kawasan wisata berbasis edukasi, budaya, dan religi.

Ia mengingatkan pentingnya penggunaan air secara bijaksana, terutama bagi warga yang memanfaatkan saluran pipa dari beji.

Gunakan air sesuai kebutuhan, jangan berlebihan. Air adalah amanah yang harus dijaga bersama agar tetap tersedia untuk generasi berikutnya,” pesannya.

Menurutnya, restorasi yang dilakukan selama ini bertujuan mengembalikan fungsi dasar beji sebagaimana semula, baik dari sisi ekologi maupun manfaat sosialnya.

Kita harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai yang sudah diwariskan para leluhur. Mungkin suatu saat nanti beji ini bisa menjadi objek wisata atau pusat edukasi lingkungan,” ujarnya.

Ia bahkan menggambarkan perjalanan Beji Indah Lestari telah melewati berbagai fase, mulai dari zaman alami, zaman semen, zaman teknologi informasi, hingga kini memasuki era kecerdasan buatan atau artificial intelligence.

Keberadaan beji harus terus mengikuti perkembangan zaman agar tetap relevan dan lestari,” katanya.

Seiring upaya pelestarian dan penataan kawasan, Beji Indah Lestari kini telah dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung yang semakin meningkatkan kenyamanan pengunjung dan masyarakat yang memanfaatkan sumber air tersebut.

Di lokasi telah tersedia ruang mandi tertutup yang dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, sehingga memberikan privasi bagi warga yang menggunakan air beji untuk mandi maupun bersuci.

Selain itu, tersedia pula mushola mini sebagai sarana ibadah serta fasilitas toilet atau WC yang dapat digunakan masyarakat dan pengunjung.

Tidak hanya itu, kawasan Beji Indah Lestari juga dipercantik dengan berbagai tanaman bunga dan tanaman hias yang ditata di sekitar area beji.

Kehadiran taman bunga tersebut menambah suasana asri, sejuk, dan nyaman, sekaligus memperkuat identitas Beji Indah Lestari sebagai ruang publik berbasis lingkungan, budaya, dan sumber air kehidupan yang terus dijaga keberlanjutannya oleh masyarakat Desa Clapar.

Kepala Desa Clapar, Arif Suryahadi, mengapresiasi seluruh masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, keberadaan beji memiliki arti penting bagi kehidupan warga, khususnya masyarakat Clapar Kidul yang selama puluhan tahun bergantung pada sumber air tersebut.

Kami dari Pemerintah Desa mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah membantu kegiatan ini. Beji ini sangat bermanfaat bagi warga, khususnya warga Clapar Kidul dan masyarakat Desa Clapar secara umum,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa secara geografis Desa Clapar dahulu termasuk wilayah yang cukup rawan kekeringan ketika musim kemarau tiba.

Alhamdulillah, beji ini tidak pernah kering dan selalu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Hingga sekarang masih digunakan untuk mandi, mencuci, bahkan kebutuhan air minum,” katanya.

Arif berharap keberadaan Beji Indah Lestari dapat terus dijaga dan suatu saat berkembang menjadi ikon wisata desa.

Mudah-mudahan Beji Indah Lestari ini benar-benar menjadi indah dan lestari sebagaimana namanya. Kami berharap suatu saat bisa berkembang menjadi destinasi wisata dan ikon Desa Clapar,” ujarnya.

Ritual doa sebelum tawu beji
Ritual doa sebelum tawu beji

Sementara itu, sesepuh Desa Clapar, Niti Purwito, menyampaikan bahwa keberadaan beji tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang para leluhur desa.

Menurut cerita yang diterimanya dari para pendahulu, dahulu terdapat tokoh bernama Kyai Joyo Uluk-Uluk dan Kyai Tomijoyo yang memiliki hubungan erat dengan keberadaan sumber air tersebut.

Dikisahkan, pada masa itu masyarakat mengalami kesulitan air. Ketika ada orang yang datang meminta air, Kyai Tomijoyo memberikan air menggunakan siwur untuk diminum dan dimanfaatkan masyarakat.

Dari situlah kemudian diyakini bahwa Desa Clapar akan memiliki kehidupan air yang terus berlangsung,” tuturnya.

Ia menjelaskan, berbagai sesaji yang dibawa menggunakan tenong dalam tradisi Tawu Beji bukanlah bentuk pemujaan, melainkan simbol rasa syukur dan permohonan keselamatan bagi seluruh warga yang memanfaatkan air beji.

Maknanya adalah setiap orang yang mengambil air di sini harus bersyukur dan memohon keselamatan agar tidak ada halangan maupun musibah,” jelasnya.

Berbagai ubarampe seperti tumpeng, jenang merah putih, jenang siringan, pisang, kelapa muda, dan sesaji lainnya menjadi simbol doa, harapan, dan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ia berharap seluruh masyarakat terus menjaga sumber air tersebut dan tidak melakukan tindakan yang dapat merusak kelestariannya.

Air adalah sumber kehidupan. Kalau dijaga, maka manfaatnya akan terus dirasakan oleh generasi yang akan datang. Tetapi kalau dirusak, maka kehidupan juga akan ikut terganggu,” katanya.

Tradisi Tawu Beji di Desa Clapar tidak hanya menjadi warisan budaya yang terus dipertahankan, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga sumber daya air di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap air bersih.

Melalui semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan, masyarakat Desa Clapar menunjukkan bahwa kearifan lokal masih memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam demi keberlanjutan kehidupan di masa depan. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.