Seni Budaya

Dari Panggung Budaya Menuju Destinasi Wisata, Kesenian Lokal Diproyeksikan Jadi Penggerak Ekonomi Desa

67
×

Dari Panggung Budaya Menuju Destinasi Wisata, Kesenian Lokal Diproyeksikan Jadi Penggerak Ekonomi Desa

Sebarkan artikel ini
Pemukulan gong tandai pembukaan kegiatan
Pemukulan gong tandai pembukaan kegiatan

BAGELEN, purworejo24.com – Di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin ketat, keindahan alam saja kini tidak lagi cukup untuk menarik wisatawan datang dan bertahan lebih lama. Pengalaman, interaksi, dan kekayaan budaya lokal justru menjadi daya tarik baru yang dicari wisatawan modern.

Gagasan inilah yang diangkat dalam Gelar Seni Purworejo bertema “Dari Panggung Budaya Menuju Destinasi Wisata” yang digelar di Lapangan Desa Kemanukan, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Rabu (8/7/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan upaya mendorong kesenian tradisional agar mampu berkembang menjadi bagian dari ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.

Acara dibuka secara resmi dengan pemukulan jidur oleh Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, Linda Widiastuti Ariningrum, S.Sos., M.Si. Turut hadir Tim Ahli Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah Heri Pudyatmoko, Robert, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinporapar Kabupaten Purworejo Neira Anjar Puji Susilo, S.Kom., M.Eng., Sekretaris Desa Kemanukan, pelaku seni, serta ratusan masyarakat.

Linda menilai kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah daerah, pemerintah desa, DPRD, dan para pelaku seni menjadi modal penting dalam membangun pariwisata berbasis budaya yang berkelanjutan.

Menurutnya, panggung seni tidak seharusnya berhenti sebagai hiburan sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi ruang kreativitas sekaligus sarana promosi budaya daerah yang memiliki nilai ekonomi.

Harapannya kegiatan ini menjadi agenda rutin yang terus berkembang sebagai wadah para pelaku seni budaya untuk berkreasi, berinovasi, dan berkarya,” ujarnya.

Konsep tersebut sejalan dengan tren pariwisata saat ini yang mulai bergeser dari sekadar “melihat” menjadi “mengalami”. Wisatawan tidak lagi hanya ingin menikmati pemandangan, tetapi juga ingin terlibat langsung dalam aktivitas budaya masyarakat setempat.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinporapar Kabupaten Purworejo, Neira Anjar Puji Susilo, menjelaskan bahwa sebuah destinasi wisata membutuhkan identitas dan pengalaman unik agar mampu bersaing dengan daerah lain.

Kalau di pantai orang datang melihat laut, nanti di Kemanukan orang datang melihat kesenian dan kebudayaannya,” kata Neira.

Ia mencontohkan wisatawan akan memperoleh pengalaman yang lebih berkesan apabila diajak membatik bersama warga, mencoba memainkan gamelan, belajar menari, hingga berjoget bersama masyarakat dalam pertunjukan rakyat. Pengalaman seperti inilah yang dinilai memiliki nilai jual tinggi dalam industri pariwisata modern.

Selain meningkatkan lama tinggal wisatawan, konsep wisata berbasis budaya juga memiliki efek berantai terhadap perekonomian desa. Kehadiran pengunjung akan membuka peluang bagi pedagang makanan, pelaku UMKM, pengrajin, hingga penyedia jasa transportasi dan penginapan.

Kegiatan seperti ini juga menggerakkan ekonomi masyarakat karena pengunjung pasti akan berbelanja,” tambah Neira.

Desa Kemanukan sendiri memiliki modal budaya yang cukup kuat untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis seni tradisi.

Dalam gelaran tersebut tampil sedikitnya sembilan kelompok kesenian, yaitu Incling Sari Widodo dari Kemanukan, Kuda Lumping Gagak Hidayat dari Semagung, Kuda Lumping Krida Budaya dari Soko, Kuda Lumping Sokoagung, Kuda Lumping Atmojo Margono dari Bagelen, Tari Gambong dari Kemanukan, Bendrong dari Desa Kemanukan, Jatilan Kemanukan, serta penampilan Dolalak dari Purwodadi.

Sekretaris Desa Kemanukan, Yusuf Setiabudi, mengatakan seluruh pertunjukan digelar selama satu hari penuh sebagai bentuk apresiasi terhadap para pelaku seni sekaligus upaya memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan kesenian tradisional bukan hanya penting untuk menjaga identitas budaya, tetapi juga berpotensi menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat desa.

Jika dikelola secara konsisten dan dikemas secara kreatif, panggung budaya bukan tidak mungkin akan berkembang menjadi destinasi wisata yang mampu menghidupi para seniman sekaligus menyejahterakan masyarakat sekitar. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.