NGOMBOL, purworejo24.com – Inovasi “Listrik Masuk Sawah” yang dikembangkan Pemerintah Desa Laban, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, menjadi solusi nyata bagi persoalan klasik yang selama bertahun-tahun dihadapi para petani, yakni keterbatasan air irigasi saat musim kemarau.
Melalui pemanfaatan pompa air listrik submersible atau yang dikenal masyarakat sebagai sumur sible, lahan pertanian yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pasokan air kini mampu meningkatkan intensitas tanam hingga tiga kali panen dalam setahun.
Program yang mulai dikembangkan sejak tahun 2024 tersebut tidak hanya membantu petani memperoleh akses air yang lebih mudah, tetapi juga mampu menekan biaya produksi, menghemat tenaga kerja, serta meningkatkan hasil pertanian secara signifikan.
Kepala Desa Laban, Sugeng Riyadi, menjelaskan bahwa lahirnya inovasi tersebut berawal dari keluhan para petani yang kesulitan memperoleh air karena posisi Desa Laban berada jauh dari jalur utama irigasi.
“Kami melihat kondisi pertanian di Desa Laban, mendengar keluh kesah warga terkait pengairan. Desa Laban ini memang berada jauh dari jalur pengairan, sehingga ketika memasuki musim tanam, terutama saat pengolahan lahan, petani sering mengalami kesulitan air,” ujarnya, Senin (29/6/2026).
Berangkat dari kondisi tersebut, pemerintah desa kemudian berinisiatif menghadirkan jaringan listrik ke area persawahan guna mendukung pengoperasian pompa submersible.
“Alhamdulillah pada tahun 2024 kami berhasil membangun 11 titik sumur sible yang pembiayaannya berasal dari Dana Desa, swadaya masyarakat, serta bantuan pemerintah pusat melalui APBN,” jelas Sugeng.
Menurutnya, keberadaan sumur sible telah membawa perubahan besar bagi sektor pertanian di Desa Laban. Dari total luas lahan pertanian sekitar 68 hingga 69 hektare, sebagian besar kini dapat ditanami secara lebih intensif.
“Dengan adanya sumur sible ini, lahan pertanian kami sudah mampu melaksanakan MT3 atau Musim Tanam Tiga seratus persen dalam satu tahun. Artinya petani bisa panen tiga kali dan bahkan melakukan empat kali masa tanam dalam setahun,” katanya.
Sugeng menambahkan, penggunaan pompa listrik submersible terbukti jauh lebih efisien dibandingkan pompa berbahan bakar bensin maupun gas LPG yang sebelumnya digunakan petani.
“Sumur sible ini lebih praktis, lebih ekonomis dan biaya operasionalnya jauh lebih rendah dibandingkan pompa berbahan bakar minyak atau gas,” ungkapnya.
Saat ini sekitar 40 hektare lahan pertanian di Desa Laban telah memanfaatkan sumur sible, sementara sisanya masih menggunakan pompa diesel.
Untuk memperluas cakupan layanan, Pemerintah Desa Laban kembali mengalokasikan Dana Desa tahun 2026 untuk pembangunan jaringan listrik di area persawahan blok tiga.
“Tahun ini kami menganggarkan pemasangan jaringan listrik untuk wilayah blok tiga. Rencananya akan dibangun sekitar 10 titik sumur sible baru,” katanya.
Sugeng mengaku masyarakat menyambut baik program tersebut karena memberikan kemudahan dalam pengairan lahan. Bahkan petani tidak perlu lagi datang langsung ke lokasi pompa.
“Untuk pengoperasiannya ada petugas khusus. Petani cukup menghubungi operator melalui WhatsApp untuk meminta pengairan sawah. Ini sangat memudahkan masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan sumur sible dapat terus meningkatkan kesejahteraan petani dan mendukung ketahanan pangan daerah.
“Harapan kami, petani Desa Laban semakin makmur, semakin sejahtera, dan produktivitas pertanian terus meningkat,” tambahnya.
Pengelola pompa submersible Desa Laban, Sutikno, menjelaskan bahwa sistem pengairan berbasis listrik memberikan banyak kemudahan dibandingkan metode lama yang menggunakan pompa berbahan bakar.
“Tujuan utamanya untuk meringankan beban petani. Mereka tidak lagi kesulitan mencari gas atau bahan bakar untuk mengairi sawah,” katanya.
Saat ini ia mengelola sekitar 10 unit sumur sible yang masing-masing mampu melayani sekitar 10 petak atau kelompok lahan pertanian.
Menurutnya, sebelum adanya sumur sible, petani hanya mampu melakukan tanam dua kali dalam setahun karena keterbatasan air. Kini kondisi tersebut berubah drastis.
“Sebelumnya lahan di sini tidak bisa MT3 karena kesulitan irigasi. Setelah ada sumur sible, petani bisa tanam tiga kali dalam setahun,” ujarnya.
Dari sisi biaya, petani juga merasakan penghematan yang cukup besar. Tarif penggunaan listrik dihitung berdasarkan konsumsi energi.
“Kami menerapkan biaya Rp2.500 per kWh. Untuk pengairan awal biasanya sekitar Rp50 ribu per petak, sedangkan pengairan berikutnya berkisar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu tergantung kebutuhan air,” jelasnya.
Selain lebih murah, sistem ini juga mengurangi beban kerja petani.
“Dulu petani harus bolak-balik mengecek pompa, memastikan bahan bakar tersedia dan air tetap mengalir. Sekarang cukup menghubungi operator. Pompa bisa bekerja terus tanpa perlu diawasi setiap saat,” katanya.
Meski demikian, tantangan masih ada, terutama dalam mengatur antrean penggunaan air saat awal musim tanam ketika seluruh petani membutuhkan pengairan secara bersamaan.
“Harapannya ke depan jumlah sumur sible bisa ditambah lagi karena masih ada beberapa wilayah yang belum terlayani secara maksimal,” ujarnya.

Kasi Pembangunan Kecamatan Ngombol, Pujiharti, menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi yang dikembangkan Desa Laban. Menurutnya, program tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak mulai dari pemerintah desa, kelompok tani, penyuluh pertanian, akademisi hingga media.
“Program ini melibatkan banyak unsur, termasuk penyuluh pertanian, akademisi dari fakultas pertanian, kelompok tani, hingga wartawan. Kolaborasi ini menjadi salah satu syarat dalam pengembangan inovasi daerah,” jelasnya.
Ia menilai penggunaan sumur sible terbukti meningkatkan efisiensi biaya dan produktivitas pertanian.
“Berdasarkan penjelasan operator dan petani, efisiensi yang diperoleh bisa mencapai sekitar 50 persen dari sisi waktu, tenaga, maupun biaya operasional,” katanya.
Saat ini tercatat sudah ada sekitar 10 desa di Kecamatan Ngombol yang menggunakan teknologi sumur sible, antara lain Desa Laban, Tanjungrejo, Rasukan, Piyono, Wingko, Sigrumulyo, Keburuan, Ringgit, Mendiro, dan Kaliwungu Lor.
Pujiharti menyebut inovasi tersebut telah diangkat sebagai salah satu program unggulan Kecamatan Ngombol dalam mendukung peningkatan produksi padi.
“Sebelum ada sumur sible, sebagian besar lahan hanya bisa tanam dua kali setahun. Setelah ada teknologi ini, petani bisa melaksanakan MT3 dengan hasil yang lebih baik,” ujarnya.
Ia berharap desa-desa lain yang masih mengalami kendala irigasi dapat belajar dari keberhasilan Desa Laban.
“Kami mendorong desa lain untuk melakukan studi banding ke desa yang sudah berhasil menerapkan sumur sible. Ini terbukti efektif dan sangat membantu petani,” tambahnya.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ngombol, Siti Lestari, yang didampingi mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada (UGM), Lora, saat ikut meninjau lokasi sumur sible mengatakan bahwa teknologi tersebut menjadi solusi penting bagi wilayah Ngombol yang berada di ujung jaringan irigasi.
“Ngombol ini berada di bagian paling hilir saluran irigasi. Pada musim tanam kedua saja sering kali tidak mendapatkan pasokan air yang cukup karena berada di ujung jaringan,” jelasnya.
Karena itu, keberadaan sumur sible menjadi penyelamat bagi petani setempat.
“Dengan adanya pompa listrik submersible ini, lahan yang sebelumnya hanya mampu MT2 kini bisa MT3. Bahkan beberapa wilayah bisa memulai musim tanam lebih awal dibanding desa lain,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dari sisi biaya, penggunaan listrik jauh lebih hemat dibandingkan penggunaan BBM maupun LPG.
“Kalau dibandingkan menggunakan bahan bakar, penghematannya bisa sangat besar, bahkan beberapa kali lipat lebih murah. Karena itu teknologi ini sangat efisien,” ujarnya.
Siti juga mengingatkan pentingnya keselamatan kerja mengingat sistem tersebut menggunakan instalasi listrik di area persawahan.
“Kami mengajak petani untuk tetap semangat mendukung swasembada pangan, tetapi jangan lupa memperhatikan keselamatan kerja karena penggunaan listrik memerlukan kehati-hatian,” pesannya.
Menurutnya, semakin banyak petani yang memanfaatkan sumur sible, maka indeks pertanaman akan meningkat, produksi padi bertambah, dan pendapatan petani pun akan semakin baik.
“Harapan kami, penggunaan sumur sible terus berkembang sehingga produktivitas pertanian meningkat dan kesejahteraan petani semakin baik dari tahun ke tahun,” pungkasnya. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









