Seni Budaya

Menyusuri Jejak Nyai Bagelen, Dari Legenda Leluhur hingga Pantangan yang Masih Dijaga Warga

16
×

Menyusuri Jejak Nyai Bagelen, Dari Legenda Leluhur hingga Pantangan yang Masih Dijaga Warga

Sebarkan artikel ini
Pesarean Bagelen
Pesarean Bagelen

BAGELEN, purworejo24.com – Di balik nama besar Bagelen yang pernah menjadi wilayah penting dalam sejarah Jawa, tersimpan kisah-kisah turun-temurun yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat.

Cerita itu diwariskan dari generasi ke generasi, dipelihara melalui tutur para sesepuh, dan menjadi bagian dari identitas budaya warga setempat.

Di antara penjaga cerita tersebut adalah juru kunci Petilasan Nyai Bagelen, Sutejo Ganjar Yanto, bersama tokoh masyarakat sekaligus keluarga keturunan Nyai Bagelen, R. Mulato.

Keduanya menuturkan bahwa nama Bagelen, sosok Nyai Bagelen, hingga berbagai pantangan adat yang masih dipatuhi warga merupakan bagian dari warisan budaya lisan yang terus dijaga keberadaannya.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, nama Bagelen bukanlah nama awal wilayah tersebut.

Konon, daerah ini dahulu dikenal dengan nama Pagelen, yang merujuk pada tempat penyimpanan abu hasil pembakaran jenazah.

Pada masa itu, masyarakat diyakini masih dipengaruhi tradisi Hindu yang mengenal prosesi kremasi bagi orang yang meninggal dunia.

Seiring perjalanan waktu, penyebutan “Pagelen” perlahan berubah menjadi “Bagelen”. Perubahan tersebut diyakini terjadi karena masyarakat Jawa pada masa lampau lebih mudah melafalkan kata Bagelen dibandingkan Pagelen.

Nama itulah yang kemudian melekat dan bertahan hingga kini menjadi nama desa, kecamatan, bahkan pernah menjadi nama sebuah wilayah karesidenan besar dalam sejarah Jawa.

Meski demikian, kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat yang diwariskan turun-temurun dan belum sepenuhnya didukung oleh kajian sejarah maupun arkeologi modern.

Dalam cerita masyarakat setempat, Nyai Bagelen digambarkan sebagai sosok perempuan yang bijaksana, mengayomi, serta memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat pada masa lampau.

Beliau disebut mengajarkan cara bercocok tanam, mengelola kehidupan bermasyarakat, hingga berbagai keterampilan yang membantu warga memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Beliau dikenal sebagai putri yang sangat mengayomi masyarakat dan menjadi panutan sejak dahulu,” tutur Sutejo Ganjar Yanto, Sabtu (11/7/2026).

Sebagian masyarakat meyakini Nyai Bagelen merupakan keturunan dari Prabu Suwelocholo atau Silachala, yang disebut sebagai penguasa Kerajaan Medang Kamulan pada sekitar abad ke-6 Masehi.

Dalam silsilah yang berkembang di masyarakat, garis keturunan tersebut kemudian dihubungkan dengan berbagai kerajaan besar di Nusantara seperti Majapahit, Singhasari hingga wilayah Sunda.

Karena diyakini telah ada sejak masa yang sangat awal dalam sejarah Jawa, Bagelen kerap disebut-sebut sebagai salah satu kampung tertua di Indonesia. Namun demikian, klaim tersebut juga masih berada dalam ranah tradisi lisan dan memerlukan kajian sejarah yang lebih mendalam untuk pembuktian ilmiahnya.

Selain kisah asal-usulnya, masyarakat Bagelen juga mengenal sejumlah pantangan adat yang hingga kini masih dihormati oleh sebagian warga.

Bagi masyarakat setempat, pantangan tersebut bukan sekadar mitos, melainkan bentuk penghormatan kepada leluhur dan sejarah desa mereka.

Salah satu pantangan paling terkenal di Bagelen adalah larangan memelihara sapi.

Cerita rakyat menyebutkan bahwa suatu ketika Nyai Bagelen sedang menenun kain. Saat itu seekor anak sapi datang dan menyusu kepadanya. Peristiwa tersebut kemudian dianggap sebagai pertanda khusus yang melahirkan larangan bagi masyarakat untuk memelihara sapi.

Menurut cerita warga, pernah ada beberapa orang yang mencoba memelihara sapi, namun usaha tersebut tidak berjalan baik karena ternak sulit berkembang dan justru menimbulkan kerugian.

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, masyarakat memandang larangan itu sebagai simbol penghormatan kepada leluhur.

Menariknya, dalam tradisi masyarakat lama di Bagelen, hewan yang umum digunakan untuk keperluan besar maupun penyembelihan adalah kerbau, bukan sapi.

Pantangan berikutnya berkaitan dengan kedelai hitam.

Menurut cerita turun-temurun, dua anak Nyai Bagelen yang bernama Roro Fitrah dan Roro Taker meninggal dunia akibat tertimbun kedelai hitam pada hari Selasa Wage.

Peristiwa tersebut kemudian melahirkan keyakinan bahwa menanam kedelai hitam di wilayah Bagelen dapat membawa kesialan.

Hingga kini, sebagian masyarakat masih memilih untuk tidak menanam kedelai hitam sebagai bentuk penghormatan terhadap kisah leluhur tersebut.

Hari pasaran Wage juga memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Bagelen.

Karena peristiwa wafatnya kedua anak Nyai Bagelen diyakini terjadi pada Selasa Wage, sebagian warga kemudian menghindari pelaksanaan hajatan, khitanan, pernikahan, maupun perjalanan penting pada hari Wage.

Menurut cerita yang berkembang, mereka yang mengabaikan pantangan tersebut sering menghadapi berbagai persoalan, mulai dari urusan yang tidak kunjung selesai hingga munculnya perselisihan dalam keluarga.

Bagi masyarakat modern, keyakinan tersebut mungkin dipandang sebagai bagian dari mitos atau kepercayaan lokal. Namun bagi warga Bagelen, tradisi tersebut merupakan warisan budaya yang mengandung pesan agar manusia selalu menghormati leluhur dan menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat.

Di tengah derasnya arus modernisasi, cerita tentang Nyai Bagelen menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu hidup dalam prasasti atau dokumen tertulis. Sebagian sejarah justru bertahan melalui ingatan kolektif masyarakat, melalui petuah para sesepuh, dan melalui tradisi yang terus dijaga lintas generasi.

Benar atau tidaknya setiap detail kisah tersebut mungkin akan terus menjadi bahan kajian para sejarawan dan budayawan. Namun satu hal yang pasti, legenda Nyai Bagelen telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Bagelen dan Kabupaten Purworejo.

Di sanalah nilai sebuah tradisi berada: bukan semata pada fakta sejarahnya, melainkan pada kemampuannya menjaga hubungan antara manusia, leluhur, dan tanah tempat mereka berpijak. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.