Oleh : Aziz Subekti
(Mahasiswa Program Doktor Hukum UAI, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra)
Di tengah hiruk-pikuk perdebatan politik, ekonomi, dan media sosial, ada satu pertanyaan mendasar yang sering luput dari perhatian: apa sesungguhnya tantangan terbesar Indonesia saat ini?
Banyak orang akan menjawab persoalan ekonomi, lapangan kerja, korupsi, atau persaingan global. Semua itu memang penting.
Namun, sebagaimana disampaikan Azis Subekti dalam tulisannya Menjadi Tuan Atas Diri Sendiri, tantangan terbesar bangsa ini sesungguhnya berada pada lapisan yang lebih dalam, yakni kemampuan mengendalikan diri sebagai bangsa.
Sejarah dunia memberikan banyak pelajaran. Mesir Kuno, Yunani, Romawi, Abbasiyah hingga Ottoman pernah menjadi pusat peradaban yang disegani. Mereka memiliki kekayaan, kekuatan militer, ilmu pengetahuan, dan pengaruh yang luar biasa.
Namun pada akhirnya, sebagian besar mengalami kemunduran bukan semata karena serangan dari luar, melainkan karena persoalan yang tumbuh dari dalam.
Keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, konflik kepentingan, dan melemahnya rasa tanggung jawab terhadap kepentingan bersama sering kali menjadi awal dari keruntuhan sebuah peradaban.
Indonesia hari ini berada pada posisi yang berbeda dibanding beberapa dekade lalu. Dunia membutuhkan berbagai sumber daya yang dimiliki Indonesia, mulai dari nikel hingga mineral penting lainnya.
Letak geografis Indonesia juga menjadikannya salah satu kawasan strategis dalam perdagangan dan geopolitik global.
Kondisi ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Peluang untuk menjadi negara yang lebih maju, mandiri, dan berpengaruh. Namun di saat yang sama, berbagai kepentingan juga akan datang, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dalam konteks tersebut, perdebatan mengenai arah pembangunan merupakan hal yang wajar. Kritik terhadap kebijakan juga merupakan bagian penting dalam demokrasi.
Namun yang perlu dijaga adalah kemampuan masyarakat untuk tetap berpikir jernih dan tidak terjebak dalam polarisasi yang merugikan kepentingan bangsa secara keseluruhan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah negara tidak hanya terletak pada tingginya angka pertumbuhan ekonomi atau besarnya investasi yang masuk.
Keberhasilan juga harus tercermin dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Apakah petani semakin sejahtera? Apakah nelayan memperoleh perlindungan yang layak? Apakah pendidikan semakin berkualitas? Apakah rakyat kecil merasakan kehadiran negara?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi tolok ukur yang lebih substantif dibanding sekadar angka statistik.
Karena itu, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar sumber daya alam dan kekuatan ekonomi. Indonesia membutuhkan karakter kebangsaan yang kuat.
Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berintegritas, masyarakat yang kritis namun tetap bijak, serta kesadaran kolektif bahwa kepentingan bersama harus ditempatkan di atas kepentingan golongan maupun individu.
Sejarah menunjukkan bahwa bangsa besar tidak selalu kalah karena musuhnya terlalu kuat. Sering kali mereka kalah karena gagal mengendalikan kelemahan yang tumbuh di dalam dirinya sendiri.
Jika Indonesia mampu menjaga persatuan, kejernihan akal, dan keberanian moral dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, maka peluang untuk menjadi bangsa maju dan berpengaruh bukanlah sesuatu yang mustahil.
Sebab kemerdekaan yang paling hakiki bukan hanya terbebas dari dominasi pihak lain, melainkan kemampuan sebuah bangsa untuk menjadi tuan atas dirinya sendiri.
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







