KesehatanPemerintahan

Turunkan Kasus, Dinkes Kesehatan Purworejo Gelar Aksi Bersama Cegah Stunting dan Wasting

97
×

Turunkan Kasus, Dinkes Kesehatan Purworejo Gelar Aksi Bersama Cegah Stunting dan Wasting

Sebarkan artikel ini
aksi bersama cegah stunting dan wasting, di balai desa Puspo Kecamatan Bruno, Selasa 15 Maret 2022
aksi bersama cegah stunting dan wasting, di balai desa Puspo Kecamatan Bruno, Selasa 15 Maret 2022

PURWOREJO, purworejo24.com  – Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menggelar kegiatan aksi bersama cegah stunting dan wasting, di balai desa Puspo Kecamatan Bruno, pada Selasa tanggal 15 Maret 2022. Kegiatan itu diselenggarakan sebagai bentuk upaya pemerintah untuk mengurangi angka stunting dan wasting di Kabupaten Purworejo.

Dalam kegiatan itu diisi dengan pemaparan materi tentang aksi bersama cegah stunting dan wasting yang disampaikan oleh Sub Koordinator Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, Siti Khotijah S.KM., dan materi optimalisasi pemanfaatan pangan lokal yang disampaikan pemateri dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo, Ir Medi Susilo.

Tak hanya itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo juga memberikan sejumlah bantuan peningkatan gizi kepada ibu hamil dan menyusui serta balita di Desa Puspo.

Hadir dalam kegiatan itu perwakilan dari Kecamatan Bruno, Kepala Puskesmas, perwakilan PKK Kabupaten Purworejo, perwakilan Dinas Sosial Kependudukan dan Keluarga Berencana (Dinsosdukkb), Dinas Kesehatan Purworejo, PKK Desa Bruno, ibu balita dan ibu hamil serta pemdes Puspo.

Nutrisionis Ahli Muda pada Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, Kurniawati S.KM., saat ditemui usai kegiatan mengatakan, kegiatan itu selain sebagai bentuk usaha pemerintah dalam menekan angka stunting dan wasting juga sebagai rangkaian kegiatan Hari Gizi Nasional yang jatuh pada tanggal 25 Januari lalu.

“Kenapa mengadakan kegiatan aksi bersama cegah stunting dan wasting di Desa Puspo ini, karena Desa Puspo merupakan salah satu desa yang masih memiliki kasus stunting dan wasting cukup banyak, yaitu jumlah kasus gizi buruknya ada 3 kurang dari berat badan ada 13 kasus dan stunting juga, sehingga sesuai target ditahun 2024 nanti sesuai Perpres no 72 tahun 2021 diharapkan Desa Puspo bisa bebas stunting dan wasting,” ungkap Kurniyawati.

Dijelaskan, stunting merupakan salah satu gangguan pada anak dengan indikator penilaian berat badan sesuai umur dan tinggi badan sesuai umur atau biasa dikenal dengan tubuh pendek sementara wasting merupakan status gizi dari berat badan atau tinggi badan sesuai umur atau biasa dikenal dengan tubuh atau badan kurus.

“Kasus stunting di Purworejo ketika dilihat atau dibandingkan dengan angka di Jawa Tengah atau nasional masih jauh, tetapi dari 449 desa yang ada masih banyak desa yang stuntingnya tinggi yaitu lebih dari 20 persen. Suatu desa dikatakan bebas stunting kalau kurang dari 20 persen dan Desa Puspo ini termasuk yang lebih dari 20 persen,” jelasnya.

Disebutkan, secara jumlah kasus sampai akhir tahun 2021 lalu, ada sejumlah 3.537 balita stunting yaitu balita 0-59 bulan atau sekitar  11, 81 persen dari jumlah balita yang diukur dari berat badan atau tinggi badan dari jumlah 29.993 balita yang terdata. Adapun Kecamatan Bruno termasuk tiga besar dengan angka stunting yang masih tinggi dan Desa Puspo merupakan no 2 tertinggi di Kecamatan Bruno setelah Plipiran. Tiga besar kecamatan yang dimaksud adalah wilayah kerja Puskemas Kaligesing, Bruno, dan Banyuasin (Loano).

“Yang sudah dilakukan dari Dinas Kesehatan itu sudah banyak karena dari Dinas Kesehatan itu bentuknya spesifik. Tapi dari indikator spesifik Dinas Kesehatan itu telah menyumbang 20-30 persen untuk penurunan stunting.

Dari remajanya kita sudah membentuk posyandu remaja di beberapa lokasi, pemberian tablet tambah darah untuk seluruh remaja putri untuk umur 12-18 tahun, melalui sekolah di SLTP dan SLTA terus untuk ibu hamilnya juga telah kita tablet tambah darah lalu untuk balitanya kita ada kegiatan lewat Posyandu,

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) terus kita membentuk beberapa desa fokus stunting, kita ada orientasi pemberian makan bayi dan anak dan ibu hamil, dan itu merupakan formula tertinggi untuk pengentasan stunting,” bebernya.

Dirinya berpesan,  untuk ibu balita yang sudah punya balita jangan sampai lupa setiap bulan untuk memantau pertumbuhan putranya di Posyandu setempat, karena di situ merupakan salah satu kegiatan yang bisa untuk screening untuk bisa mengetahui apakah anak itu tumbuh dan berkembang sesuai dengan umurnya.

“Kalau yang masih dalam 1000 hari pertama kehidupan kita sarankan dengan pola pemberian makanan bayi dan anak sesuai dengan tahapan umur,” ujarnya.

Sub Koordinator Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, Siti Khotijah S.KM., menambahkan, untuk stunting dan wasting merupakan isu nasional dan menjadi kewenangan Dinas Kesehatan untuk menurunkan angka stunting utamanya di Kabupaten Purworejo.

“Dengan aksi bersama cegah stunting dan wasting ini kita berharap bisa memasyarakatkan program yang menjadi strategi Perpres no 72 tahun 2021. Kita tidak hanya menangani ibu hamil dan balita tetapi harapan kami bisa dimulai dari remaja, harapannya satu puskesmas itu minimal bisa membina satu Posyandu remaja, di mana di sana nanti ada screening kemudian memberikan penyuluhan, sehingga harapan pemerintah untuk penundaan usia perkawinan bisa dimulai dari pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan juga masalah gizi,” tambahnya.

Setelah remaja itu sehat, lanjutnya, remaja itu  bisa merencanakan usia perkawinan yang sehat, sehingga pada saat dia hamil remaja itu sudah betul- betul merencanakan kehamilanya, sehingga hamilnya menjadi sehat.

“Resiko tinggi di Kabupaten Purworejo ini perlu kita ketahui bahwa 46 persen wanita hamil di Purworejo itu beresiko tinggi dan cara strategi yang paling baik harapan kami dari remaja itu ya sehat, menikahnya diusia yang sehat, hamil yang sehat, maka resikonya menjadi rendah dan resiko terjadinya stunting juga menjadi rendah.

Secara otomatis nanti angka stunting menjadi menurun, angka kematian menurun, itu harapan kami, tapi walau harapan itu jauh perlu kita laksanakan, sinergi dengan pencegahan- pencegahan  dengan sasaran ibu hamil dan balita, dengan harapan ke depan penurunan 14 persen yang nasional, 12 persen di Jawa Tengah dan 9 persen di Purworejo bisa tercapai sesuai target di tahun 2024 nanti,” ujarnya.

Kades Puspo, Amat Badarudin, mengaku senang dan apresiasi dengan kegiatan aksi bersama cegah stunting dan wasting, yang dilaksanakan di Desa Puspo.

“Kami merasa senang sekali karena ada bimbingan dari dinas terkait stunting, semoga ke depan Desa Puspo menjadi terbebas dari stunting dan wasting,” katanya.

Menurutnya, untuk mengurangi angka stunting itu butuh ketelatenan, ketulusan dan pemdampingan dari berbagai pihak, dimana Desa Puspo pada 2 tahun lalu yang memiliki angka cukup signifikan yaitu dengan jumlah 125 kasus stunting, ditahun 2021 lalu telah turun menjadi 98 kasus dan kini masih terdapat 65 kasus.

“Kita sudah berusaha semaksimal mungkin namun belum bisa bebas, buruh bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak seperti kades kesehatan desa, puskesmas untuk mengurangi dan menghapus angka stunting di Desa Puspo,” ujarnya.

Sementara itu, ibu balita asal RT 2 RW 3 Desa Puspo, Yutriah mengaku senang dengan digelarnya kegiatan itu di Desa Puspo.

“Sebelumnya kami kurang tau temtang stunting dan wasting, dengan kegiatan ini sekarang jadi tau, kami jadi lebih mengerti cara merawat anak secara baik, dan harapannya kasus stunting bisa bebas di Desa Puspo ini,” kata Yutriah.

Hal senada juga dikatakan kader kesehatan dan kader PKK Desa Puspo, Sulaimah, kegiatan itu dinilai bisa meningkatkan SDM bagi kader kesehatan dan kader PKK di Desa Puspo.

“Ke depan kami akan membantu menyampaikan informasi ini kepada masyarakat, melakukan pendampingan bersama kader kesehatan dan PKK agar kasus stunting di Desa Puspo bisa menurun dan hilang,” pungkasnya.(P24/Wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.