PURWOREJO, purworejo24.com – Generasi muda diminta tidak bersikap apatis terhadap politik. Pelajar dinilai perlu memiliki literasi politik yang baik agar mampu berpikir kritis, mengenali rekam jejak calon pemimpin, serta menggunakan hak pilih secara cerdas ketika telah memiliki hak suara.
Pesan tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Pendidikan Politik bagi Generasi Muda yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Purworejo di SMK Ma’arif NU 1 Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan itu diikuti para pelajar dengan tujuan meningkatkan pemahaman politik sekaligus membentuk generasi muda yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi.
Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Purworejo, Ferro Setiasono, mengatakan pendidikan politik bagi generasi muda penting dilakukan di tengah kecenderungan menurunnya partisipasi pemilih pada sejumlah pemilu sebelumnya.
Ia berharap para pelajar tidak memandang politik sebagai sesuatu yang harus dijauhi. Menurut Ferro, generasi muda justru memiliki idealisme dan pola pikir kritis yang dapat menjadi kekuatan positif apabila disalurkan melalui ruang demokrasi.
“Jangan sampai adik-adik apatis terhadap politik. Anak muda itu punya idealisme dan pikiran kritis. Itu harus disalurkan dalam politik, tetapi tentu dalam hal yang baik,” kata Ferro.
Politik Berkaitan dengan Pembangunan
Ferro menjelaskan, politik tidak dapat dipisahkan dari proses pembangunan, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Berbagai kebijakan yang menentukan arah pembangunan, kata dia, lahir melalui proses politik. Karena itu, keterlibatan generasi muda dibutuhkan agar ruang politik pada masa mendatang diisi oleh sumber daya manusia yang memiliki kapasitas dan pendidikan yang baik.
“Pembangunan Indonesia, daerah, dan apa pun sumbernya dari politik. Kebijakan-kebijakan politik itu kalau diisi oleh adik-adik yang pendidikannya lebih baik, tentu akan ikut membangun wilayah dan menghasilkan pilihan politik yang baik,” ujarnya.
Menurut Ferro, keterlibatan anak muda dalam politik tidak selalu berarti harus terjun menjadi politisi.
Pelajar dapat berpartisipasi dengan cara sederhana, seperti mempelajari rekam jejak dan kapasitas figur politik, memahami isu yang berkembang, hingga membantu menyebarkan informasi yang benar kepada teman maupun keluarga.
“Minimal nanti bisa menyosialisasikan kepada teman-teman ataupun keluarga bagaimana mengenali sosok figur dari peserta politik. Ini penting agar masyarakat bisa menentukan pilihan politik dengan baik,” katanya.
Ferro juga mengapresiasi langkah Bakesbangpol yang menggandeng Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam memberikan edukasi mengenai kepemiluan kepada para pelajar.
Menurut dia, pendidikan demokrasi bahkan dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Salah satunya melalui pemilihan ketua organisasi siswa intra sekolah (OSIS).
Ia menilai KPU dapat dilibatkan dalam proses tersebut sehingga siswa tidak hanya mendapatkan teori tentang demokrasi, tetapi juga merasakan langsung bagaimana mekanisme pemilihan berlangsung.
“Pemilihan ketua OSIS juga bisa difasilitasi KPU. Ini bagus sekali karena anak-anak bisa belajar bagaimana proses demokrasi dan pemilihan itu dilakukan sejak di lingkungan sekolah,” ungkapnya.
Generasi Muda Jangan Hanya Jadi Pemilik Suara
Sementara itu, anggota Komisi I DPRD Kabupaten Purworejo, Roni Sumhastomo, mengatakan sosialisasi pendidikan politik menjadi momentum untuk memperkenalkan fungsi pemerintahan, politik, serta arah kebijakan pembangunan kepada pelajar.
“Dengan kegiatan hari ini, harapannya adik-adik SMK Ma’arif NU 1 Bener menjadi melek atau tahu fungsi-fungsi dan arah kebijakan pemerintahan,” ujar Roni.
Ia berpesan agar para pelajar tetap memiliki semangat dalam mempersiapkan masa depan. Menurutnya, setiap pilihan generasi muda, baik melanjutkan pendidikan maupun berkarier di berbagai bidang, harus dijalani dengan penuh tanggung jawab.
“Apapun pilihannya, mau berkarier ke mana, tetap semangat menyongsong masa depan dan tetap guyub rukun,” katanya.
Roni berharap pendidikan politik yang diberikan kepada pelajar tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata. Literasi politik perlu menjadi bekal bagi generasi muda untuk menghadapi dinamika demokrasi sekaligus menyaring berbagai informasi yang mereka temukan.
Terlebih, perkembangan teknologi dan media sosial membuat informasi politik dapat tersebar dengan cepat. Kondisi tersebut menuntut anak muda memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dengan informasi yang menyesatkan.
Dengan pemahaman politik yang lebih baik, pelajar diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh informasi maupun narasi politik yang belum terverifikasi.
“Generasi muda bukan hanya menjadi pemilik suara dalam setiap pemilu, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menentukan arah pembangunan bangsa dan daerah ke depan,” tandas Roni.
Sosialisasi tersebut dibuka Bupati Purworejo Yuli Hastuti, didampingi Kepala Bakesbangpol Purworejo Puguh Trihatmoko. Kegiatan turut dihadiri anggota Komisi I DPRD Purworejo, Komisioner KPU Kabupaten Purworejo, Forkopimcam Bener, jajaran sekolah, serta sejumlah tamu undangan.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah daerah berharap kesadaran politik generasi muda tumbuh sejak bangku sekolah. Dengan demikian, ketika memasuki usia sebagai pemilih, mereka tidak sekadar datang ke tempat pemungutan suara, tetapi mampu menentukan pilihan berdasarkan informasi, rekam jejak, dan pertimbangan yang rasional.
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









