PURWOREJO, purworejo24.com – Pemerintah Kabupaten Purworejo terus memperkuat pembangunan kepemudaan melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satunya dilakukan melalui sinergi Program Kecamatan Berdaya dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dilaksanakan di sejumlah wilayah Kabupaten Purworejo.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mengimplementasikan Rencana Aksi Daerah (RAD) Pelayanan Kepemudaan Kabupaten Purworejo Tahun 2025–2029, sekaligus mendorong keterlibatan pemuda dan masyarakat dalam pembangunan yang partisipatif, inovatif, produktif, dan berkelanjutan.
Kepala Bidang Kepemudaan dan Kepramukaan pada Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Purworejo, Eny Widiarti, S.Si.T., M.Kes., mengatakan pembangunan kepemudaan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah secara sendiri.
Dibutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi kepemudaan, komunitas, serta masyarakat.
“Pelayanan kepemudaan harus dilaksanakan secara terencana, terpadu, dan berkelanjutan. Karena itu, koordinasi lintas sektor menjadi sangat penting agar potensi pemuda dapat dikembangkan dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah,” demikian pokok pemaparan Eny dalam kegiatan evaluasi dan berbagi praktik baik Program Kecamatan Berdaya melalui kolaborasi KKN UGM di aula pertemuan RM Pringsewu Purworejo, Rabu (5/8/2026).
Kegiatan Praktik Baik Pelaksanaan Program Kecamatan Berdaya dan Evaluasi Kolaborasi Program KKN UGM tersebut diikuti sekitar 60 peserta yang berasal dari perwakilan 16 kecamatan, mahasiswa KKN UGM, pemerintah desa lokasi KKN, perangkat daerah terkait, pendamping Program Kecamatan Berdaya, organisasi kepemudaan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Forum tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memaparkan hasil kegiatan, tetapi juga menjadi sarana mengevaluasi efektivitas kolaborasi, mengidentifikasi capaian dan kendala, serta merumuskan langkah pengembangan agar praktik baik yang sudah dilakukan dapat diterapkan di wilayah lainnya.
Pada 2026, Kabupaten Purworejo menjadi salah satu daerah di Jawa Tengah yang melaksanakan kolaborasi KKN UGM dengan Program Kecamatan Berdaya.
Kolaborasi tersebut dilaksanakan di Kecamatan Banyuurip, Grabag, Kaligesing, Loano, dan Ngombol.
Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa KKN tidak hanya menjalankan program kerja perguruan tinggi, tetapi diarahkan agar kegiatan yang dilakukan selaras dengan kebutuhan masyarakat dan program pembangunan daerah.
Pilar kolaborasi mencakup penguatan kapasitas masyarakat, pemberdayaan pemuda, pengembangan potensi lokal, peningkatan partisipasi masyarakat, serta penguatan inovasi dalam pembangunan desa.
Dengan pola tersebut, kehadiran mahasiswa di desa diharapkan tidak berhenti pada kegiatan selama masa KKN. Pengetahuan, inovasi, dan pengalaman yang dibawa mahasiswa dapat menjadi pemantik bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal secara lebih mandiri.
Hasil evaluasi Dinporapar menunjukkan kolaborasi Program Kecamatan Berdaya dengan KKN UGM telah memberikan sejumlah capaian positif, antara lain meningkatnya sinergi lintas sektor, sosialisasi Program Kecamatan Berdaya, penguatan kepemudaan, serta pemberdayaan masyarakat desa.
Sejumlah faktor turut mendukung pelaksanaan program, seperti komitmen pemerintah, dukungan pemerintah desa, antusiasme mahasiswa, dan keterlibatan berbagai pihak.
Namun, pelaksanaan program juga masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya durasi KKN yang terbatas, data kepemudaan yang belum merata, serta kebutuhan untuk memperkuat koordinasi antarpihak.
Karena itu, hasil evaluasi merekomendasikan beberapa langkah strategis, yakni mengintegrasikan tema KKN dengan kebutuhan pembangunan daerah, melakukan monitoring bersama, memperkuat koordinasi, serta mereplikasi praktik baik ke 16 kecamatan di Kabupaten Purworejo.
Langkah tersebut dinilai penting agar Program Kecamatan Berdaya tidak hanya menghasilkan kegiatan sesaat, melainkan membangun model pemberdayaan yang dapat terus berjalan setelah mahasiswa menyelesaikan masa KKN.
Penguatan pembangunan kepemudaan juga menjadi bagian penting dalam agenda Dinporapar Kabupaten Purworejo.
Dalam Program Pengembangan Kapasitas Daya Saing Kepemudaan, sejumlah kegiatan telah dilaksanakan sepanjang 2026. Di antaranya penguatan wirausaha pemula melalui Jawara Muda pada Februari, pengembangan kepemimpinan, kepeloporan, dan kesukarelawanan pemuda pada 8–9 Juni, serta pelatihan kemandirian ekonomi pada akhir Juli 2026.
Selain itu, Pemkab Purworejo juga melaksanakan pemilihan Pemuda Pelopor pada 15 April 2026. Sementara seleksi Jambore Pemuda dijadwalkan pada 15–16 September 2026.
Penguatan organisasi kepemudaan juga menjadi perhatian. Evaluasi kegiatan organisasi kepemudaan telah dilakukan pada 16 April 2026.
Selanjutnya, penguatan organisasi kepemudaan dengan tema kewirausahaan direncanakan berlangsung pada Agustus–September 2026 di 16 kecamatan, disusul Latihan Dasar Kepemimpinan pada Oktober 2026.
Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kepemudaan diarahkan tidak hanya pada peningkatan kapasitas individu, tetapi juga pada kemampuan pemuda untuk berorganisasi, berwirausaha, menjadi pelopor, serta berkontribusi dalam kehidupan sosial dan pembangunan daerah.
Konsep Kecamatan Berdaya juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan generasi muda, khususnya Generasi Z dan milenial.
Dalam pemaparannya, Dinporapar menempatkan pengembangan ekosistem kreatif bagi generasi zilenial sebagai salah satu ruang intervensi. Pengembangannya dilakukan melalui pendataan, pelatihan, pendampingan, link and match, pengembangan ekonomi kreatif, serta penguatan UMKM.
Dengan pendekatan tersebut, pemuda diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku sekaligus penggerak ekonomi kreatif dan inovasi di daerah.
Selain sektor ekonomi kreatif, pengembangan olahraga masyarakat juga menjadi bagian dari konsep pemberdayaan. Fasilitas yang tersedia di desa, kelurahan, maupun kecamatan dapat dioptimalkan sebagai sport center fisik dan nonfisik.
Pemanfaatannya tidak sebatas kompetisi olahraga, tetapi juga untuk rekreasi, kebugaran, latihan, serta pembudayaan olahraga bagi anak-anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia.
Program Kecamatan Berdaya pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai pembangunan infrastruktur atau pelaksanaan kegiatan di suatu wilayah. Lebih dari itu, program tersebut menekankan pentingnya membangun ekosistem masyarakat yang mampu mengenali potensi, menyelesaikan persoalan, dan mengembangkan daerah secara mandiri.
Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena dapat menghadirkan pengetahuan, inovasi, serta sumber daya mahasiswa untuk mendukung masyarakat.
Sementara pemerintah daerah berperan memastikan program berjalan selaras dengan kebijakan pembangunan, pemerintah desa menjadi penggerak di tingkat lokal, dan masyarakat menjadi pelaku utama.
Kolaborasi inilah yang diharapkan dapat terus diperkuat di Kabupaten Purworejo.
Evaluasi pelaksanaan KKN UGM tahun 2026 menjadi pijakan untuk memperbaiki pola kolaborasi ke depan. Integrasi tema KKN dengan kebutuhan daerah, monitoring bersama, penguatan koordinasi, serta replikasi praktik baik ke seluruh kecamatan menjadi langkah penting agar manfaat program tidak berhenti ketika masa KKN selesai.
Melalui sinergi tersebut, Pemerintah Kabupaten Purworejo berharap pembangunan kepemudaan semakin partisipatif dan mampu melahirkan generasi muda yang mandiri, inovatif, produktif, berdaya saing, serta aktif mengambil peran dalam pembangunan daerah.
Dengan demikian, Kecamatan Berdaya bukan sekadar sebuah program, melainkan sebuah ekosistem kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, desa, masyarakat, dan pemuda untuk bersama-sama membangun Purworejo dari tingkat paling dekat dengan masyarakat. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









