PURWODADI, purworejo24.com– Konferensi Anak Cabang (Konferancab) PAC Muslimat NU Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, bukan sekadar forum pergantian kepengurusan.
Momentum tersebut menjadi ruang evaluasi, penguatan organisasi sekaligus peneguhan kembali semangat khidmat di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).
Pesan tersebut disampaikan Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Purwodadi, H. Ari Jatmiko, S.Ag, saat menghadiri Konferancab PAC Muslimat NU Kecamatan Purwodadi di Aula Pertemuan MWCNU Purwodadi, kompleks MTs Ma’arif Purwodadi, Minggu (2/8/2026).
Dalam kesempatan itu, Ari menyampaikan apresiasi kepada jajaran PAC Muslimat NU Purwodadi yang telah melaksanakan konferensi sebagai bagian dari proses regenerasi dan penguatan organisasi.
Menurutnya, konferensi tidak berhenti pada agenda memilih ketua dan pengurus baru. Lebih dari itu, forum tersebut harus menjadi momentum untuk melanjutkan program-program yang sudah berjalan sekaligus melakukan perbaikan agar organisasi semakin bermanfaat bagi masyarakat.
Ari kemudian menyampaikan tiga pesan yang menurutnya penting menjadi pegangan pengurus Muslimat NU dalam menjalankan khidmat, yakni ngaji, ngopi, dan ngader.
“Pengurus tentunya harus siap ngaji, ngopi, dan ngader,” kata Ari.
Ngaji, Merawat Tradisi dan Nilai Ke-NU-an
Pertama adalah ngaji. Menurut Ari, kegiatan yang bernafaskan NU tidak dapat dipisahkan dari tradisi mengaji dan memperdalam nilai-nilai keagamaan.
Ngaji tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan belajar secara formal, tetapi juga tercermin dalam berbagai aktivitas keagamaan yang telah menjadi tradisi masyarakat NU, seperti tahlilan, mujahadah dan kegiatan keagamaan lainnya.
“Setiap kegiatan yang bernafaskan NU tidak lepas dari ngaji, di mana saja. Tahlilan, mujahadan dan sebagainya itu termasuk merawat tradisi yang ada dalam NU,” ujarnya.
Kedua adalah ngopi, yang oleh Ari dimaknai sebagai ngopeni atau merawat dan peduli terhadap masyarakat.
Menurutnya, pengurus organisasi tidak boleh hanya aktif di balik meja. Pengurus perlu hadir di tengah masyarakat, membersamai, mendampingi serta membangun komunikasi melalui silaturahmi.
“Ngopi itu istilahnya ngopeni. Kita harus membersamai, mendampingi dan sering blusukan atau silaturahmi. Yang penting ketemu, karena ngopi itu kadang-kadang bisa memunculkan ngolah pikir,” tuturnya.
Bagi Ari, pertemuan langsung dengan masyarakat menjadi ruang untuk mendengar persoalan sekaligus menemukan gagasan dan solusi bersama. Karena itu, kedekatan pengurus dengan warga menjadi modal penting agar program organisasi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Pesan ketiga adalah ngader, atau pengkaderan.
Ari menilai kaderisasi harus menjadi perhatian bersama karena keberlanjutan organisasi NU sangat bergantung pada kemampuan menyiapkan generasi penerus.
Menurutnya, proses kaderisasi berlangsung secara berjenjang, mulai dari IPNU-IPPNU, Ansor, Fatayat, Muslimat hingga struktur NU di berbagai tingkatan.
“Ini adalah tugas kita bersama. NU bukan milik siapa-siapa, bukan milik pengurus atau ketua saja, melainkan milik kita bersama,” tegasnya.
Ia berharap kepengurusan PAC Muslimat NU Purwodadi yang baru nantinya mampu menjalankan amanah dengan istiqamah, sehat dan penuh semangat.
Ari juga mengingatkan bahwa berakhirnya masa kepengurusan bukan berarti berakhir pula pengabdian di NU.
“Konferensi ini bukanlah akhir dari khidmat kita. Walaupun masa kepengurusan sudah habis, khidmat kita di NU tetap berjalan sampai akhir hayat. Jangan pernah berhenti berkhidmat,” pesannya.
Menurutnya, khidmat di NU memang tidak selalu mendapatkan imbalan dalam bentuk materi. Namun, pengabdian tersebut diyakini dapat menghadirkan banyak kebaikan, mulai dari kesehatan, ketenteraman, silaturahmi, kebersamaan, keharmonisan keluarga hingga anak dan cucu yang saleh dan salehah.
MWCNU Purwodadi, lanjut Ari, juga siap bersinergi dengan PAC Muslimat NU untuk menyukseskan berbagai program organisasi maupun program pemerintah yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pesan tentang penguatan peran organisasi juga disampaikan Camat Purwodadi, Veny Yudha Apriyani, S.STP., M.H.
Mewakili Pemerintah Kecamatan Purwodadi, Veny memberikan apresiasi kepada PAC Muslimat NU yang selama ini dinilainya telah menjadi salah satu mitra strategis pemerintah dalam membangun masyarakat.
Ia berharap sinergi dan silaturahmi antara pemerintah kecamatan dengan Muslimat NU dapat terus terjaga dan dikembangkan melalui berbagai program bersama.
Veny menegaskan bahwa Konferancab merupakan momentum penting dalam kehidupan organisasi. Forum tersebut bukan hanya tentang memilih ketua, tetapi juga menjadi sarana evaluasi, musyawarah dan penyusunan langkah strategis untuk menghadapi tantangan organisasi ke depan.
Salah satu catatan evaluasi kepengurusan periode 2021-2026 yang perlu mendapat perhatian adalah sistem rekrutmen pengurus yang belum tersusun secara sistematis.
Selain itu, masih terdapat keterbatasan kualitas sumber daya pengurus dan jumlah personel yang belum seimbang pada sejumlah bidang pengembangan. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap pembagian tugas dan optimalisasi pelaksanaan program.
“Jadilah pengurus yang bisa ngemong, mengayomi masyarakat,” pesan Veny.
Menurutnya, ketika organisasi mampu mengayomi masyarakat, kepercayaan dan dukungan akan tumbuh secara alami. Masyarakat akan lebih mudah diajak bersama-sama mendukung program dan cita-cita organisasi.
Ia juga mendorong PC Muslimat NU Kabupaten Purworejo untuk terus memberikan pembinaan kepada pengurus PAC. Pembinaan tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan formal, tetapi juga dapat dilakukan secara informal melalui silaturahmi, kunjungan dan komunikasi sehari-hari.
Persoalan komitmen pengurus juga menjadi perhatian. Di tengah kesibukan masing-masing, Veny berharap para pengurus tetap memberikan perhatian terhadap agenda organisasi dan berusaha menjaga kehadiran dalam pertemuan rutin.
“Kalau semuanya berkomitmen dan yakin pada organisasi NU ini, prioritaskanlah ketika ada kumpul bersama atau pertemuan berkala,” ujarnya.
Tidak hanya berbicara mengenai organisasi, Veny juga menyampaikan pesan yang lebih personal kepada para perempuan yang menjadi bagian dari Muslimat NU.
Menurutnya, perempuan memiliki banyak peran, baik sebagai ibu, pendamping suami, maupun bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, perempuan juga perlu memberikan ruang untuk menjaga kebahagiaan dan menghargai dirinya sendiri.
“Selain tugas kita beribadah kepada Allah SWT dan meneladani Nabi Muhammad SAW, kita juga perlu mencintai dan menghargai diri sendiri,” pesannya.
Ia mengingatkan bahwa beban kehidupan dapat memengaruhi kondisi emosional perempuan, ibu, maupun anak-anak. Karena itu, menjaga kebahagiaan dan ketenangan diri menjadi bagian penting agar seseorang dapat memberikan energi positif kepada keluarga dan lingkungan.
“Ketika Panjenengan tersenyum dan bahagia, maka Panjenengan akan bisa menularkan kebahagiaan itu kepada anak dan suami,” ungkapnya.
Dalam Konferancab tersebut, Ibu Nyai Siti Nurul Khikmah, S.H.I., kembali dipercaya memimpin PAC Muslimat NU Kecamatan Purwodadi untuk masa khidmat 2026-2031.
Siti Nurul Khikmah terpilih secara aklamasi. Kepercayaan tersebut sekaligus menjadi amanah untuk melanjutkan kepemimpinan dan program organisasi pada periode berikutnya.
Konferancab dihadiri jajaran PC Muslimat NU Kabupaten Purworejo, Camat Purwodadi, perwakilan Muspika Purwodadi, Ketua MWCNU Purwodadi, pengurus PAC Muslimat NU Purwodadi, pengurus ranting, serta badan otonom NU seperti GP Ansor, IPNU dan IPPNU.
Dengan terpilihnya kembali Siti Nurul Khikmah, diharapkan PAC Muslimat NU Purwodadi tidak hanya mampu mempertahankan program yang telah berjalan, tetapi juga memperkuat kaderisasi, memperluas kemanfaatan organisasi, serta meningkatkan kedekatan dengan masyarakat.
Semangat ngaji, ngopi, dan ngader, ditambah kemampuan ngemong atau mengayomi masyarakat, diharapkan menjadi fondasi bagi Muslimat NU Purwodadi dalam melanjutkan khidmat selama lima tahun ke depan. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









