BAYAN, purworejo24.com — Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan, Kabupaten Purworejo, menghadirkan ruang intelektual bertaraf internasional melalui Kajian Santri Internasional yang digelar Ahad–Senin, 23–24 Agustus 2026.
Bertempat di Aula Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan, kegiatan tersebut diikuti santriwan dan santriwati dengan menghadirkan Ust. Haji Zainudin bin Mohammad Husain dari Malaysia, penggagas Yayasan Gerakan Peduli Nusantara.
Mengusung tema “Membedah Pemikiran Ilmuwan Muslim Kita”, kajian tidak sekadar mengajak santri mengenang kejayaan Islam pada masa lalu. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi momentum untuk menumbuhkan kembali budaya ilmu sekaligus membangun kesadaran bahwa generasi santri memiliki peran penting dalam menyiapkan masa depan peradaban.
Ust. Haji Zainudin mengajak para santri menelusuri jejak ilmuwan Muslim yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Materi disampaikan dengan gaya komunikatif dan reflektif, sehingga sejarah para ilmuwan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi inspirasi untuk melahirkan generasi yang mampu berkarya.
Gagasan tersebut dirangkum dalam semangat “Dari Santri Menjadi Pembina Peradaban.”
Di hadapan para santri, Ust. Haji Zainudin mengawali kajian dengan pertanyaan reflektif: “Siapa yang membina dunia dengan ilmu?”
Pertanyaan itu kemudian dikaitkan dengan berbagai teknologi yang kini dekat dengan kehidupan manusia, mulai dari kamera, telepon seluler, kacamata hingga perangkat yang membantu manusia mengamati benda-benda langit.
Menurutnya, perkembangan teknologi modern merupakan hasil dari perjalanan panjang tradisi keilmuan. Dunia Islam pada masa lalu turut memiliki peran penting dalam perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Ia mengingatkan bahwa seorang ilmuwan tidak cukup hanya menguasai pengetahuan. Ilmu harus melahirkan karya, penelitian, temuan dan manfaat bagi kehidupan manusia.
Karena itu, belajar di pesantren juga tidak semestinya berhenti pada kepentingan pribadi. Ilmu yang diperoleh santri diharapkan mampu menjadi bekal untuk memberikan manfaat kepada masyarakat, bangsa dan umat.
Dalam kajian tersebut, Ust. Haji Zainudin mengenalkan sejumlah ilmuwan Muslim yang memiliki kontribusi besar dalam berbagai bidang.
Di antaranya Al-Khawarizmi dalam matematika, Ibnu Al-Zahrawi dalam bidang bedah, Ibnu Sina dalam kedokteran, serta Ibnu Al-Haitsam dalam bidang optik.
Ia juga mengenalkan Al-Biruni yang dikenal melalui kajiannya dalam geografi dan astronomi serta Al-Razi yang memiliki kontribusi dalam bidang kedokteran dan kimia.
Menurutnya, berbagai karya tersebut menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam tidak hanya berorientasi pada teori. Ilmu dikembangkan untuk menjawab persoalan kehidupan dan memberikan kemanfaatan bagi masyarakat.
Generasi Muslim masa kini pun diajak untuk mengenal kembali tokoh-tokoh tersebut. Mengenal ilmuwan Barat, menurutnya, tentu bukan persoalan, tetapi generasi Muslim juga perlu memahami kontribusi ilmuwan Muslim sebagai bagian dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dunia.
Untuk membangun kembali budaya intelektual, Ust. Haji Zainudin menawarkan 10 kunci yang dapat menjadi bekal santri.
Kesepuluhnya meliputi iman yang kuat, semangat menuntut ilmu, budaya membaca, budaya bertanya, mengkaji dan meneliti, menghormati guru, membangun perpustakaan dan pusat ilmu, menghasilkan karya, menjadikan ilmu bermanfaat bagi manusia, serta memiliki cita-cita besar.
Menurutnya, iman menjadi fondasi agar ilmu memiliki arah. Semangat belajar membuat seseorang terus berkembang, sedangkan budaya membaca dan bertanya akan menumbuhkan rasa ingin tahu.
Sementara penelitian mengajarkan santri untuk berpikir kritis dan mendalam. Adab kepada guru tetap menjadi bagian penting dalam proses mencari ilmu, sedangkan perpustakaan dan pusat ilmu menjadi lingkungan yang mendukung tumbuhnya tradisi intelektual.
Pada akhirnya, ilmu harus diwujudkan dalam karya dan manfaat.
Salah satu pesan menarik dalam kajian berkaitan dengan matematika.
Ust. Haji Zainudin mengajak santri melihat matematika bukan sekadar pelajaran untuk mencari jawaban, tetapi sebagai sarana melatih kemampuan berpikir dalam menemukan solusi.
Ia mengaitkannya dengan warisan pemikiran Al-Khawarizmi. Menurutnya, cara berpikir sistematis yang dilatih melalui matematika dapat menjadi bekal menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Dengan demikian, setiap ilmu seharusnya tidak berhenti pada teori maupun hafalan. Di dalamnya terdapat pola berpikir dan keterampilan yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata.
Pesan utama kajian kemudian bermuara pada pentingnya menjadikan ilmu sebagai gerakan.
“Jangan hanya datang ke pesantren hanya untuk belajar itu sudah. Datang ke pesantren menuntut ilmu dan berdampak,” demikian pesan yang disampaikan Ust. Haji Zainudin.
Menurutnya, pesantren bukan hanya tempat mempelajari ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan manusia yang mampu mengintegrasikan iman, ilmu, amal dan akhlak.
Umat Islam pernah memiliki peran besar dalam perkembangan peradaban bukan semata-mata karena penguasaan ilmu. Keunggulan tersebut juga ditopang iman, amal dan akhlak.
Karena itu, membangun peradaban membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan intelektual. Diperlukan karakter, ketekunan, semangat berkarya dan orientasi memberikan manfaat bagi sesama.
Untuk membangkitkan motivasi para santri, Ust. Haji Zainudin juga membagikan kisah anak-anak Indonesia dari keluarga sederhana yang mampu melanjutkan pendidikan hingga Jepang, Korea Selatan dan China.
Sebagian berasal dari keluarga petani dan memiliki keterbatasan ekonomi. Bahkan, salah seorang di antaranya merupakan anak yatim yang dibesarkan dalam kondisi sederhana.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan langkah mereka untuk belajar dan mengejar cita-cita.
Kisah tersebut menjadi pesan bahwa latar belakang keluarga bukan satu-satunya penentu masa depan. Keteguhan hati, kemauan belajar, kerja keras dan keberanian untuk mencoba dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
“Tidak ada yang mustahil, seandainya kita itu hatinya kuat untuk mengejar apa yang kita impikan,” pesannya.
Direktur Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan Purworejo, Ust. Dr. (CAND) Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan, S.Th.I., MIRKH, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Ust. Haji Zainudin dari Malaysia.
“Alhamdulillaah, senang sekali bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala karena pada tadi malam dan hari ini kami kedatangan seorang tamu besar kami, sahabat kami, yaitu Ust. Haji Zainudin bin Mohammad Husain dari Malaysia sebagai Penggagas Yayasan Gerakan Peduli Nusantara,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran narasumber dari Malaysia tersebut menjadi bagian dari silaturahmi yang diharapkan membawa keberkahan bagi keluarga besar Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan.
Ia berharap pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi hubungan dan kerja sama yang berkelanjutan, terutama dalam bidang pendidikan dan pengembangan wawasan santri.
Dalam kesempatan tersebut, Ust. Haji Zainudin juga menekankan pentingnya pendidikan dan lingkungan belajar yang baik bagi generasi muda.
Pesantren, menurutnya, memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi yang mampu menguasai ilmu sekaligus memiliki karakter dan kepedulian terhadap masyarakat.
“Pendidikan merupakan satu perkara yang sangat penting,” tegasnya.
Ia berharap pendidikan di Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan terus berkembang sehingga mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan luas, kemampuan berpikir, keberanian bermimpi dan kesiapan menghadapi perubahan zaman.
Kajian Santri Internasional tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan.
Ketika para ilmuwan Muslim dahulu menghasilkan karya yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan dunia, generasi Muslim hari ini memiliki tantangan untuk melanjutkan estafet tersebut melalui pendidikan, penelitian, inovasi, karya dan pengabdian.
Terlebih, santri kini hidup di tengah perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, media sosial dan perubahan global yang berlangsung sangat cepat.
Karena itu, semangat yang dibangun bukan sekadar mengembalikan kebanggaan terhadap sejarah Islam, melainkan menghidupkan kembali budaya ilmu.
Santri didorong untuk lebih banyak membaca, berani bertanya, serius meneliti, menghormati guru, memanfaatkan perpustakaan dan pusat ilmu, menghasilkan karya serta memastikan ilmu yang dipelajari memberikan manfaat.
Pada titik itulah pesan “Dari Santri Menjadi Pembina Peradaban” menemukan maknanya.
Santri yang belajar hari ini kelak dapat menjadi guru, ilmuwan, peneliti, pemimpin, pengusaha, profesional maupun tokoh masyarakat. Mereka memiliki kesempatan untuk membawa nilai-nilai Islam ke berbagai ruang kehidupan.
Kajian pun ditutup dengan pesan agar santri tidak takut memiliki cita-cita besar.
“Jangan takut untuk bermimpi besar. Tetapi ingat, kejayaan tidak datang hanya karena kita mempunyai impian. Kita perlu bersedia, belajar, berusaha dan berani mencoba,” pesan Ust. Haji Zainudin.
Pesan tersebut menjadi penegas bahwa mimpi harus disertai kesiapan, cita-cita membutuhkan proses belajar, dan keberhasilan menuntut kerja keras serta keberanian untuk mencoba.
Dari ruang kelas, perpustakaan, masjid dan lingkungan pesantren, masa depan peradaban dapat mulai dibangun.
Sebab, santri hari ini bukan sekadar pewaris sejarah. Mereka adalah calon pembina peradaban.
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









