BRUNO, purworejo24.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Dukuh Gedongan, Desa Brunosari, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, berlangsung khidmat sekaligus semarak, Minggu (30/8/2026) malam.
Berbeda dari kegiatan Maulid pada umumnya, warga setempat memiliki tradisi khas berupa pembuatan ancak, yakni walimahan berisi aneka makanan, kebutuhan pokok hingga perlengkapan rumah tangga yang kemudian disajikan dan dibagikan kepada para tamu yang hadir.
Tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, menjaga kekompakan warga, sekaligus melestarikan warisan para leluhur yang telah berlangsung turun-temurun.
Ketua panitia yang juga Ketua RW 02 Dukuh Gedongan, Kyai Muh Qosim, mengatakan tradisi Maulid di wilayah tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak dahulu.
Bahkan, peringatan Maulid secara rutin digelar setiap tahun pada tanggal 18 bulan Maulud menurut penanggalan Jawa.
“Alhamdulillah, di sini kita terus nguri-uri (melestarikan) peninggalan orang-orang sepuh Dukuh Gedongan. Setiap bulan Maulid, kegiatan ini sudah ditetapkan sejak dulu,” ujar Muh Qosim.
Menurutnya, persiapan kegiatan dilakukan jauh-jauh hari. Warga mulai berkoordinasi dan mengundang para kiai sejak bulan Syawal.
Memasuki bulan Maulud, warga kemudian mempersiapkan undangan, melakukan iuran, hingga membuat walimahan.
Semangat gotong royong juga terlihat dalam proses pembuatan dan pengangkutan ancak. Warga, mulai dari orang tua hingga generasi muda, terlibat dalam persiapan kegiatan.
“Dari anak-anak, pemuda sampai orang sepuh sangat kompak. Mulai sore ini anak-anak muda gotong royong mengambil walimahan karena kalau tidak dimulai sekarang waktunya tidak cukup,” katanya.
Salah satu hal yang menarik dari tradisi tersebut adalah besarnya nilai walimahan yang dibuat warga.
Menurut Muh Qosim, satu ancak dapat bernilai sekitar Rp10 juta, bahkan ada yang mencapai Rp15 juta, tergantung kelengkapan isinya.
Ancak tersebut antara lain berisi beras, minyak, gula, mi, buah-buahan, serta berbagai kebutuhan lainnya.
Pada beberapa ancak juga terdapat perlengkapan rumah tangga dan barang lain yang disesuaikan dengan kemampuan warga.
“Kalau yang komplit ada rokok satu slop, sarung, buah-buahan dan lainnya, bisa mencapai Rp15 juta. Berasnya 25 kilogram, minyak sekitar lima kilogram,” jelasnya.
Untuk Maulid tahun ini, warga menyiapkan sekitar 330 ancak untuk memenuhi kebutuhan sekitar 320 tamu undangan, sekaligus mengantisipasi apabila terdapat tamu tambahan.
Menariknya, pembuatan ancak juga memiliki ketentuan tersendiri. Untuk keluarga, ada yang membuat satu, satu setengah, hingga dua ancak. Sementara bagi warga yang berstatus janda, jumlah ancak tidak dibatasi dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Salah seorang warga, Nur Khasanah, mengatakan masyarakat justru menyambut tradisi tersebut dengan antusias. Menurutnya, warga mempersiapkan walimahan sejak awal bulan Maulud.
“Kalau sudah masuk tanggal satu Mulud, warga sudah mulai persiapan,” ujarnya.
Ia mengaku pembuatan walimahan dengan nilai jutaan rupiah tersebut tidak dipandang sebagai beban. Warga menjalankannya dengan penuh keikhlasan sebagai bagian dari tradisi dan ungkapan syukur.
“Respon warga semua suka. Alhamdulillah, rezeki ada. Kalau memperingati Maulid Nabi, selalu ada rezekinya,” katanya.
Bagi warga, nilai utama dari ancak bukan semata-mata pada nominal atau banyaknya isi, melainkan semangat berbagi dan kebersamaan yang menyertainya.
“Semoga ke depan semakin baik dan Dukuh Gedongan semakin remboko, semakin rukun,” harap Nur Khasanah.
Muh Qosim menjelaskan, tradisi ancak seperti yang dilakukan di Gedongan juga masih ditemukan di sejumlah dukuh lain di Desa Brunosari, di antaranya Dukuh Saperan Wetan, Kaligede, Kalijurug, serta Carikan Kerjan.
Di beberapa wilayah lainnya, tradisi serupa juga dilakukan dengan bentuk yang lebih sederhana.
Ia mengatakan dirinya sendiri tidak mengetahui secara pasti kapan tradisi tersebut pertama kali dimulai. Sebab, sejak kecil ia telah melihat tradisi tersebut dilaksanakan oleh masyarakat.
“Begitu saya lahir, sudah ada tradisi seperti ini. Jadi kami sekarang hanya meneruskan perjuangan orang tua dan para sepuh terdahulu,” ungkapnya.
Sementara itu, peringatan Maulid Nabi tahun ini menghadirkan tausiyah dari Abah KH. Muhammad Mahmud Ismail ZM, pengasuh Ma’had Ilmu Al-Qur’an Al Hikam (MIQ Al Hikam) Temepel, Kertek, Wonosobo.
Muh Qosim berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Lebih dari itu, peringatan Maulid diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, memperkuat kerukunan warga, serta membentuk generasi yang memiliki akhlak baik.
“Harapannya semoga bisa mencetak generasi anak-anak yang saleh dan salehah, dukuh semakin rukun, tetangga dan warga semakin guyub. Yang paling utama tentu kita berharap mendapatkan syafaat Kanjeng Nabi Muhammad SAW,” tuturnya.
Tradisi ancak di Dukuh Gedongan menunjukkan bahwa peringatan Maulid Nabi dapat menjadi ruang bertemunya nilai keagamaan, budaya lokal, gotong royong, dan kepedulian sosial. Di tengah perubahan zaman, masyarakat masih berupaya mempertahankan tradisi warisan leluhur dengan melibatkan berbagai generasi.
Bagi warga Gedongan, Maulid Nabi bukan sekadar momentum mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat persaudaraan, berbagi rezeki, dan menjaga tradisi kebersamaan agar tetap hidup dari generasi ke generasi. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









