PURWOREJO, Purworejo24.com – Perkembangan teknologi digital dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat menuntut jurnalis untuk memiliki kemampuan yang lebih luas dibandingkan sebelumnya.
Jika dahulu seorang wartawan dapat fokus pada satu platform, kini jurnalis dituntut mampu bekerja lintas format dan lintas kanal distribusi.
Founder dan Komisaris kumparan, Arifin Asydhad, mengatakan bahwa dunia jurnalistik saat ini telah memasuki era multiplatform, di mana kemampuan seorang jurnalis tidak lagi dibatasi pada satu jenis produk jurnalistik saja.
Menurut Arifin, perubahan perilaku audiens menjadi salah satu faktor utama yang mendorong transformasi tersebut. Masyarakat kini tidak hanya mengonsumsi berita melalui situs web media, tetapi juga melalui berbagai platform digital seperti media sosial, aplikasi video, hingga layanan audio digital.
“Skill jurnalis tidak lagi terkotak-kotakan sebagai jurnalis teks, video, atau audio. Namun, kemampuan berkembang menjadi jurnalis yang multitalenta,” kata Arifin dalam pelatihan daring dengan materi bertajuk Jurnalisme Berkualitas dengan Perspektif Multiplatform Senin (22/6/2026).
Ia menjelaskan, seorang jurnalis masa kini idealnya mampu menghasilkan berbagai bentuk konten dari satu peristiwa yang sama. Tidak hanya menulis berita untuk portal daring, tetapi juga mengemas informasi dalam bentuk video pendek, konten media sosial, podcast, maupun format visual lainnya yang sesuai dengan karakter audiens di masing-masing platform.
Transformasi tersebut, lanjut Arifin, bukan sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan kebutuhan yang muncul akibat perubahan cara masyarakat memperoleh informasi.
Data Reuters Institute 2026 menunjukkan bahwa media sosial dan platform video semakin dominan sebagai sumber berita masyarakat. Dalam survei yang dilakukan di 22 negara, sebanyak 30 persen responden menyebut media sosial dan platform video sebagai sumber utama berita mereka.
“Di Indonesia, angkanya bahkan mencapai 48 persen atau jauh di atas rata-rata global,” kata Arifin
Kondisi ini membuat media massa dan para jurnalis harus mampu menjangkau audiens di berbagai platform tanpa mengabaikan kualitas jurnalistik.
Meski demikian, Arifin menegaskan bahwa kemampuan teknis memproduksi berbagai format konten harus dibarengi dengan kreativitas dan pemahaman terhadap kebutuhan audiens.
Menurut dia, kreativitas menjadi salah satu faktor penting agar produk jurnalistik mampu bersaing di tengah derasnya arus informasi digital.
Selain itu, jurnalis juga harus memahami cara mendistribusikan konten secara efektif agar informasi yang diproduksi dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas,” kata Dia.
Di tengah tantangan industri media yang dalam beberapa tahun terakhir diwarnai gelombang efisiensi dan pemutusan hubungan kerja (PHK), Arifin menilai peluang bagi jurnalis sebenarnya masih terbuka lebar. Namun, peluang tersebut akan lebih mudah diraih oleh mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan industri.
“Jangan khawatir, masih ada ruang untuk berkembang,” ujar Arifin
Meski dituntut menguasai berbagai keterampilan baru, Arifin mengingatkan bahwa prinsip dasar jurnalistik tidak boleh ditinggalkan. Akurasi, verifikasi informasi, keberimbangan, serta kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik tetap menjadi fondasi utama yang membedakan karya jurnalistik dengan konten yang beredar bebas di media sosial.
Karena itu, menurut dia, tantangan terbesar jurnalis saat ini bukan hanya menguasai teknologi dan berbagai format konten, tetapi juga menjaga kualitas serta kredibilitas informasi di tengah kompetisi yang semakin ketat dalam ekosistem digital.
Dengan kemampuan multitalenta yang didukung kreativitas dan etika jurnalistik yang kuat, jurnalis diyakini masih akan memegang peran penting sebagai penyedia informasi yang terpercaya bagi masyarakat di era digital. (P24-byu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









