Lingkungan Hidup

Pokmaswas dan DLHP Purworejo Lepas Tukik Penyu Lekang di Pantai Jatimalang, Wujud Nyata Pelestarian Satwa Laut

17
×

Pokmaswas dan DLHP Purworejo Lepas Tukik Penyu Lekang di Pantai Jatimalang, Wujud Nyata Pelestarian Satwa Laut

Sebarkan artikel ini
Pelepasan Tukik Penyu Lekang di Pantai Jatimalang
Pelepasan Tukik Penyu Lekang di Pantai Jatimalang

PURWODADI, purworejo24.com – Upaya menjaga kelestarian penyu di pesisir selatan Kabupaten Purworejo terus dilakukan secara kolaboratif.

Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Kabupaten Purworejo menggelar Rapat Koordinasi (Rakor), Sarasehan Pokmaswas, dan Pelepasan Tukik Penyu Lekang di kawasan Kawasan Nelayan Modern Purworejo (KNMP) Jatimalang, Kecamatan Purwodadi, Kamis (18/6/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi program pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan sekaligus langkah nyata dalam mendukung konservasi satwa laut yang dilindungi.

Hadir dalam kegiatan itu perwakilan Kecamatan Purwodadi, Kapolsek Purwodadi, Babinsa Purwodadi, Komandan Pos TNI AL Purworejo, Pokmaswas Sabuk Alu Desa Jatikontal, Pokmaswas Jala Waja Desa Pagak, Pokmaswas Bawono Hayu Desa Malang, pengurus nelayan, serta pengelola KNMP Jatimalang.

Ketua Pokmaswas Sabuk Alu Desa Jatikontal, Wahyudi, mengatakan bahwa selain sarasehan dan koordinasi pengawasan wilayah pesisir, kegiatan juga diisi dengan pelepasan 20 ekor tukik Penyu Lekang hasil penetasan yang dilakukan secara mandiri oleh kelompoknya.

Menurutnya, pelepasan tukik merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan populasi penyu yang selama ini kerap menghadapi berbagai ancaman, baik dari predator alami maupun aktivitas manusia.

Harapannya dengan penetasan telur dan pelepasan tukik penyu ini dapat menjadi salah satu upaya penyelamatan dan pelestarian penyu di wilayah pesisir Kabupaten Purworejo,” ujar Wahyudi.

Dari data yang dihimpun, telur-telur penyu tersebut berasal dari sarang yang ditemukan di kawasan pantai dan kemudian dipindahkan ke rumah penetasan penyu di Desa Jatikontal untuk meningkatkan peluang keberhasilan menetas.

Dijelaskan bahwa tukik yang dilepas merupakan hasil pembinaan dan pendampingan DLHP kepada Pokmaswas Sabuk Alu.

Dari total 40 butir telur penyu yang diamankan dan ditetaskan, sebanyak 35 ekor tukik berhasil menetas setelah menjalani masa inkubasi sekitar 45 hari.

Sebanyak 20 ekor di antaranya dilepas pada kegiatan tersebut, sementara sisanya akan dilepas secara bertahap.

Menurut Wahyudi, proses penetasan buatan dilakukan bukan untuk mengubah siklus alami penyu, melainkan sebagai langkah penyelamatan dari berbagai ancaman yang sering terjadi di alam.

Telur penyu ditetaskan di rumah penetasan agar lebih aman dari predator maupun pihak-pihak yang mengambil telur untuk diperjualbelikan. Dengan cara ini tingkat keberhasilan penetasan bisa lebih tinggi,” jelasnya.

Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) merupakan salah satu spesies penyu yang dilindungi di Indonesia.

Satwa ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, antara lain dengan membantu mengendalikan populasi organisme tertentu dan menjaga kesehatan habitat pesisir.

Namun, populasi penyu menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perburuan telur, kerusakan habitat pantai, pencemaran laut, hingga ancaman predator alami. Karena itu, upaya konservasi yang melibatkan masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan pelestarian satwa tersebut.

Wahyudi menambahkan bahwa kegiatan pelepasan tukik tahun ini merupakan yang pertama dilakukan pada 2026. Meski demikian, proses konservasi tidak selalu berjalan mudah.

Salah satu kendala utama yang dihadapi kelompok pengawas adalah sulitnya memprediksi waktu dan lokasi penyu naik ke pantai untuk bertelur. Kondisi tersebut membuat anggota Pokmaswas harus rutin melakukan patroli di sepanjang kawasan pesisir.

Lokasi dan waktu penyu mendarat untuk bertelur tidak bisa diprediksi secara pasti. Karena itu teman-teman Pokmaswas sering melakukan patroli untuk memantau keberadaan sarang penyu,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, pemerintah daerah bersama masyarakat berharap kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga ekosistem pesisir semakin meningkat.

Tidak hanya melalui pelepasan tukik, tetapi juga dengan tidak mengambil telur penyu, menjaga kebersihan pantai, serta mendukung berbagai program konservasi yang ada.

Kolaborasi antara pemerintah, kelompok masyarakat pengawas, nelayan, dan aparat keamanan tersebut menjadi contoh bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan efektif ketika dilakukan secara bersama-sama.

Dengan semakin banyak tukik yang berhasil kembali ke laut, diharapkan populasi penyu di pesisir Purworejo dapat terus terjaga dan menjadi warisan alam yang lestari bagi generasi mendatang. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.