Sosial

Ini Pesan Mentri BKKBN Wihaji kepada Santri Ponpes An-Nawawi Berjan

10
×

Ini Pesan Mentri BKKBN Wihaji kepada Santri Ponpes An-Nawawi Berjan

Sebarkan artikel ini
Saat kunjungan
Saat kunjungan

PURWOREJO, purworejo24.com – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr. H. Wihaji, mengingatkan generasi muda agar tidak menjadi korban perkembangan teknologi yang semakin masif di era digital saat ini.

Menurutnya, kemajuan teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat bantu kehidupan, bukan justru mengendalikan cara berpikir dan perilaku manusia.

Pesan tersebut disampaikan Wihaji saat menghadiri kegiatan Goes to Pesantren di Ponpes An-Nawawi, Beran, Kabupaten Purworejo.

Program yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan “Goes to Pesantren” itu menyasar kalangan santri dan mahasiswa sebagai generasi yang akan menentukan masa depan bangsa.

Dalam kesempatan itu, Wihaji menegaskan bahwa para santri dan generasi muda saat ini hidup di tengah perubahan besar yang ditandai dengan lahirnya “new civilization” atau peradaban baru akibat pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Setuju atau tidak setuju, mereka adalah generasi masa depan kita. Karena itu harus dipastikan disiapkan dengan baik. Hari ini kita menghadapi peradaban baru yang dipengaruhi teknologi luar biasa cepat dan jika tidak hati-hati akan sulit kita kendalikan,” kata Wihaji pada Kamis (18/6/2026).

Menurut dia, terdapat dua hal penting yang harus menjadi perhatian generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman. Pertama adalah kesehatan mental, yang menurutnya menjadi fondasi utama untuk membangun generasi berkualitas di masa depan.

Wihaji menjelaskan, derasnya arus informasi melalui media sosial membuat generasi muda setiap hari dihadapkan pada berbagai informasi yang belum tentu benar. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi cara berpikir hingga kesehatan mental apabila tidak disikapi secara bijak.

Hari ini kita sulit membedakan mana yang benar, mana yang salah, mana yang hoaks dan mana yang fakta. Semua berseliweran melalui media sosial. Kalau tidak hati-hati, algoritma bisa memengaruhi cara pandang kita terhadap sesuatu,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak para santri untuk memperkuat karakter, meningkatkan literasi digital, serta tetap berpegang pada nilai-nilai agama sebagai kontrol dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Menurut Wihaji, agama dan keluarga merupakan benteng utama yang mampu menjaga generasi muda dari dampak negatif perkembangan teknologi.

Teknologi diciptakan untuk membantu manusia. Jangan sampai justru manusia yang diatur oleh teknologi. Agama harus menjadi pegangan dan kontrol dalam kehidupan kita,” tegasnya.

Selain berbicara mengenai tantangan teknologi, Wihaji juga menyinggung peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang akan diperingati pada 29 Juni 2026 dengan tema “Ayah Wajib Hadir”.

Menanggapi kondisi santri yang tinggal jauh dari orang tua dan keluarga, Wihaji menilai tema tersebut tidak semata-mata berbicara tentang kehadiran ayah secara fisik, melainkan kehadiran sosok ayah yang memberikan arahan, pendampingan, dan keteladanan.

Menurutnya, tema tersebut muncul sebagai respons terhadap fenomena banyaknya remaja yang kehilangan figur ayah dalam proses tumbuh kembangnya.

Ayah itu simbolik. Yang dimaksud adalah hadirnya sosok yang membimbing. Data menunjukkan sekitar 25 persen remaja kehilangan sosok ayah dalam kehidupannya. Bukan berarti ayahnya tidak ada, tetapi figur yang memberikan arahan dan pendampingan tidak hadir secara optimal,” jelasnya.

Wihaji mengatakan, bagi para santri yang menempuh pendidikan di pesantren, peran tersebut dapat dijalankan oleh para kiai, ustaz, dan pengajar yang setiap hari mendampingi mereka.

Di pesantren, para kiai dan pengajar memiliki peran penting sebagai pengganti sosok ayah. Mereka membimbing para santri untuk memilih jalan yang baik dan menjauhi hal-hal yang tidak baik. Itulah fungsi penting seorang pembimbing,” katanya.

Di akhir kegiatan, Wihaji berpesan kepada para santri dan Generasi Berencana (GenRe) Jawa Tengah agar terus memperkuat delapan fungsi keluarga sebagai fondasi dalam menghadapi tantangan zaman.

Insyaallah para GenRe Jawa Tengah akan indah pada waktunya apabila kembali menguatkan delapan fungsi keluarga dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

Melalui program Goes to Pesantren, BKKBN berharap generasi muda tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan kecakapan teknologi, tetapi juga ketahanan mental, karakter yang kuat, serta nilai-nilai moral yang mampu menjadi bekal menghadapi berbagai tantangan peradaban di masa depan. (P24-byu)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.