KEMIRI, purworejo24.com – Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Kabupaten Purworejo menggelar Sarasehan Pengurus Pondok Pesantren se-Kabupaten Purworejo dengan tema “Revolusi Sampah Pesantren: Dari Masalah Jadi Berkah” di Gedung SMK Nurussalaf, kompleks Pondok Pesantren Nurussalaf Kemiri, Purworejo, Ahad (17/5/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh 61 perwakilan pondok pesantren Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai wilayah di Kabupaten Purworejo. Sarasehan menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Kabupaten Purworejo serta Direktur Krapyak Peduli Sampah (KPS) Yogyakarta, Andika Muhammad Nuur, S.Ak.
Ketua RMI PCNU Purworejo, KHR. M. Amir Kilal, S.Ag., mengatakan persoalan sampah di lingkungan pesantren menjadi tantangan nyata yang perlu segera ditangani bersama.
Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor pengelolaan lingkungan berbasis nilai-nilai keagamaan.
“Masalah sampah di pondok pesantren menjadi PR besar yang harus segera ditangani dan ditanggulangi. Kami berharap melalui sarasehan ini para pengurus tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan pengelolaan sampah di pondok masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Purworejo, KH. M. Haekal, S.Pd.I., mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk nyata kontribusi RMI NU dalam mendampingi pesantren menghadapi persoalan lingkungan.
Ia menyebut volume sampah di Kabupaten Purworejo mencapai ratusan ton per hari sehingga diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk pondok pesantren.
“Pesantren merupakan bagian dari masyarakat Purworejo, sehingga penting untuk ikut mengambil peran dalam pengelolaan sampah. Kami berharap ilmu dari para narasumber bisa diterapkan di pesantren masing-masing sehingga pengelolaan sampah menjadi lebih baik dan bernilai manfaat,” katanya.

Pada sesi utama, perwakilan DLHP Purworejo, Suci Indriasari, memaparkan konsep Eco-Pesantren sebagai model pendidikan lingkungan hidup berbasis nilai religius.
Program ini bertujuan menciptakan pesantren yang bersih, sehat, sekaligus mandiri secara ekonomi dan ekologis.
Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan harus dibangun atas dasar kesadaran dan keikhlasan.
“Pesantren dapat menjadi tempat aktualisasi aksi peduli lingkungan hidup dengan semangat bekerja sungguh-sungguh dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat,” jelasnya.
Dalam penerapannya, pesantren didorong mengelola sampah organik yang jumlahnya mencapai 55 hingga 70 persen menjadi pupuk, biogas, maupun budidaya maggot. Sedangkan sampah anorganik dapat diolah melalui Bank Sampah Asrama (BSA) agar memiliki nilai ekonomi.
Materi berikutnya disampaikan Direktur Krapyak Peduli Sampah (KPS), Andika Muhammad Nuur, S.Ak., yang membagikan pengalaman sukses pengelolaan sampah di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta.
Ia menjelaskan gerakan tersebut lahir dari keresahan terhadap persoalan penumpukan sampah di Kota Yogyakarta. Berangkat dari slogan “Pilah, Olah, Berkah”, para santri berhasil membangun sistem ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah.
“Kami mengubah cara pandang terhadap sampah. Dulu dianggap kotor dan tidak berguna, sekarang menjadi investasi,” ungkap Andika.
KPS menerapkan sistem pemilahan sampah hingga 36 kategori, jumlah yang disebut melampaui beberapa negara maju. Berkat kedisiplinan para santri, volume sampah harian di pesantren berhasil ditekan dari 2 ton menjadi sekitar 100 kilogram per hari.
Tak hanya berdampak pada lingkungan, pengelolaan sampah tersebut juga memberikan keuntungan ekonomi. Jika sebelumnya pesantren harus membayar jasa pengangkutan sampah hingga Rp30 juta per bulan, kini justru mampu memperoleh pendapatan hingga Rp20 juta per bulan dari hasil pengolahan sampah.
Menurut Andika, keberhasilan tersebut didukung kolaborasi antara pesantren, UMKM, dan masyarakat sekitar. Sampah organik dimanfaatkan untuk peternakan maggot dan unggas, sedangkan sampah anorganik diolah agar memiliki nilai jual.
“Masalah sampah selesai di dalam pondok, sekaligus memberikan penghasilan dan keberkahan bagi warga sekitar,” tambahnya.
Selain membahas pengelolaan sampah, kegiatan juga diisi sosialisasi program Digdaya Pesantren X Portal Pesantren NU oleh Sekretaris RMI PCNU Purworejo, Muhammad Syukri Abadi.
Program digitalisasi ini bertujuan memperkuat pendataan dan promosi pondok pesantren NU melalui platform resmi PBNU.
Melalui portal tersebut, setiap pesantren akan memiliki profil digital resmi yang memuat informasi lokasi, keunggulan, hingga fasilitas pendaftaran santri secara daring.
“Ini bukan sekadar pendataan pesantren, tetapi upaya agar pesantren NU lebih terlihat, lebih terhubung, dan lebih berdaya di era digital,” pungkas Syukri. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







