BAYAN, purworejo24.com — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sucen Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, kini meningkatkan pengelolaan limbah dengan menggunakan mesin Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Bio Deft MBG berkapasitas 3.000 liter.
Mesin tersebut telah dipasang sejak Minggu (3/5/2026) dan mulai dioperasikan untuk memastikan limbah tidak mencemari lingkungan sekitar.
Kepala SPPG Sucen Jurutengah, Muhammad Hanif Hidayat, menjelaskan bahwa penggunaan IPAL ini merupakan langkah peningkatan dari sistem sebelumnya yang hanya menggunakan bak kontrol sederhana.
“Sebagai pengelola SPPG, kami berupaya menjaga lingkungan. Sebelumnya kami hanya menggunakan bak kontrol, namun dirasa kurang optimal, sehingga kami tingkatkan dengan penggunaan mesin IPAL agar limbah dapat diolah lebih baik dan aman,” jelas Hanif, pada Rabu (6/5/2026).
Ia menambahkan, pemilihan mesin tersebut mempertimbangkan aspek efisiensi biaya serta layanan purna jual yang dinilai baik.
Dengan teknologi ini, limbah hasil kegiatan dapur dapat diolah sesuai standar baku mutu lingkungan yang ditetapkan oleh Dinas Lingkungan Hidup.
SPPG Sucen sendiri mulai beroperasi sejak 20 Oktober 2025 dan saat ini melayani sekitar 3.100 porsi per hari. Sasaran layanan meliputi 2.788 siswa dan guru, serta 325 penerima manfaat lainnya seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Namun demikian, layanan untuk anak jalanan belum dapat dilakukan karena belum tersedia tempat penampungan (shelter).
“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak kelurahan, namun saat ini belum memungkinkan untuk penyediaan shelter,” imbuhnya.
Selain berfokus pada pelayanan gizi, SPPG Sucen juga berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan 47 tenaga kerja, di mana minimal 30 persen berasal dari warga lokal.
Sementara itu, teknisi pemasangan IPAL dari CV Mahakarya Dua Putra, Aris Munandar, menjelaskan bahwa penggunaan IPAL MBG menjadi solusi untuk memenuhi standar baku mutu limbah.
“Proses pengolahan dimulai dari tahap pemisahan minyak dan air melalui grease trap, kemudian masuk ke bak ekualisasi yang berisi bakteri pengurai, hingga ke bak pengolahan akhir. Di sana, bakteri akan menguraikan sisa-sisa limbah hingga air yang keluar menjadi lebih bersih dan aman,” terang Aris.
Ia juga menekankan pentingnya perawatan rutin, seperti pembersihan minyak dan sisa makanan setiap tiga hari sekali, serta pengurasan endapan dalam tangki minimal sebulan sekali agar kinerja alat tetap optimal.
Menurut Aris, keunggulan IPAL Bio Deft MBG terletak pada sistemnya yang sudah otomatis, termasuk dalam pemberian bakteri pengurai.
Hal ini dinilai lebih praktis dibandingkan sistem lain yang masih manual. Selain itu, media yang digunakan telah sesuai standar Kementerian Lingkungan Hidup.
Mesin IPAL ini diproduksi oleh CV Mahakarya Dua Putra yang berbasis di Banjarnegara, dengan kisaran harga antara Rp45 juta hingga Rp50 juta, tergantung lokasi pemasangan.
Di Kabupaten Purworejo, SPPG Sucen Jurutengah menjadi lokasi pertama yang menggunakan teknologi tersebut.
Dengan penerapan IPAL modern ini, diharapkan pengelolaan limbah di SPPG Sucen Jurutengah semakin optimal, sehingga tidak hanya mendukung program pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







