PURWOREJO, purworejo24.com— Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purworejo mengimbau seluruh sekolah penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan ketelitian dan pengawasan terhadap makanan sebelum dikonsumsi siswa.
Imbauan ini menyusul temuan benda asing yang diduga hewan kecil dalam salah satu menu MBG di SMP Negeri 2 Purworejo, pada Senin (27/4/2026) kemarin.
Kepala Dindikbud Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, menegaskan bahwa kejadian tersebut harus menjadi perhatian bersama agar tidak terulang.
Ia meminta seluruh pihak terkait, terutama penyedia layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), memperketat kontrol kualitas makanan.
“Peristiwa ini tidak boleh terjadi lagi. Kami meminta agar kontrol kualitas di SPPG ditingkatkan. Makanan yang disajikan harus benar-benar layak, higienis, dan bebas dari kontaminasi,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Menurut Yudhie, Dindikbud telah berkoordinasi dengan koordinator SPPG wilayah Purworejo untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
Ia juga mengapresiasi langkah cepat pihak sekolah yang langsung melaporkan kejadian tersebut.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMPN 2 Purworejo, Kofsatun Mardiyah, menjelaskan bahwa temuan tersebut dilaporkan oleh seorang siswa kelas IX.
Benda asing itu ditemukan dalam menu tumis sawi (cesin) dan wortel.
“Ada satu siswa yang melapor menemukan benda yang mencurigakan di dalam sayur. Kami belum bisa memastikan itu hewan apa, namun bentuknya kecil dan menyerupai lintah dalam kondisi sudah mati,” jelasnya.
Pihak sekolah langsung melakukan pengecekan dan memastikan makanan tersebut tidak dikonsumsi.
Selanjutnya, laporan segera disampaikan kepada pihak SPPG penyedia.
“Respons dari SPPG cukup cepat. Makanan langsung ditarik dan diganti. Hari berikutnya distribusi sudah kembali normal dan tidak ada laporan serupa,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Mranti, Haryo Bagas Wicaksono, mengakui adanya kelalaian dalam proses pengolahan bahan makanan.
Ia menyebut kemungkinan benda tersebut berasal dari sayuran yang kurang teliti saat proses pembersihan.
“Begitu mendapat laporan, kami langsung menarik dan mengganti makanan. Ini menjadi evaluasi bagi kami untuk lebih teliti lagi di setiap tahapan, meskipun sebenarnya sudah ada pengecekan di tiap divisi,” katanya.
Haryo menambahkan, pihaknya telah melakukan rapat internal dan memperketat prosedur pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang.
SPPG Mranti sendiri melayani sekitar 2.500 hingga 2.700 penerima manfaat di berbagai sekolah di Purworejo, dengan dukungan 47 tenaga kerja.
Di SMPN 2 Purworejo, program MBG baru berjalan sekitar dua minggu dengan jumlah penerima mencapai sekitar 640 siswa dari kelas VII hingga IX.
Meski kejadian ini tidak menimbulkan dampak kesehatan, Dindikbud menekankan pentingnya kewaspadaan sejak dini. Sekolah juga diminta aktif melakukan pengecekan serta mendorong siswa untuk memeriksa makanan sebelum dikonsumsi.
“Kolaborasi antara sekolah dan penyedia sangat penting. Jika ada hal yang tidak sesuai, segera dilaporkan untuk evaluasi bersama,” tegas Yudhie.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukan oleh distribusi, tetapi juga kualitas dan keamanan pangan yang diterima siswa. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








