OpiniPolitik

Zuhud pada Dunia: Jalan Pulang Manusia dari Ketamakan

9
×

Zuhud pada Dunia: Jalan Pulang Manusia dari Ketamakan

Sebarkan artikel ini
Aziz Subekti
Aziz Subekti

 

Oleh: Azis Subekti
(Mahasiswa Program Doktor Hukum UAI, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra)

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia hari ini hidup dalam perlombaan yang nyaris tidak pernah selesai. Ukuran keberhasilan sering kali ditentukan oleh seberapa besar kekayaan, seberapa tinggi jabatan, atau seberapa luas pengaruh yang dimiliki seseorang. Dunia bergerak menuju budaya pencapaian tanpa jeda, sementara manusia perlahan kehilangan ketenangan batinnya sendiri.

Dalam situasi seperti itulah pemikiran ulama besar Hasan al-Bashri kembali terasa relevan. Melalui kalimat sederhana namun mendalam, ia mengingatkan manusia tentang hakikat kehidupan:

Dunia itu hanya tiga hari:
kemarin yang telah pergi,
esok yang belum tentu datang,
dan hari ini yang sedang engkau jalani.”

Kalimat itu bukan sekadar nasihat spiritual, melainkan kritik sosial yang tetap hidup hingga hari ini. Hasan al-Bashri seolah ingin menunjukkan bahwa manusia sering terjebak mengejar sesuatu yang fana, hingga lupa menikmati kehidupan yang benar-benar sedang dimiliki: hari ini.

Fenomena tersebut tampak nyata dalam kehidupan modern. Banyak orang bekerja tanpa henti demi masa depan, tetapi kehilangan kebahagiaan di masa kini. Tidak sedikit pula yang rela mengorbankan kesehatan, keluarga, bahkan integritas demi mempertahankan status sosial dan materi. Akibatnya, kecemasan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks itu, konsep zuhud menjadi penting untuk dipahami kembali secara utuh.
Selama ini zuhud kerap disalahartikan sebagai sikap meninggalkan dunia, hidup miskin, atau menjauh dari kehidupan sosial. Padahal dalam ajaran Islam, zuhud bukan berarti membenci dunia. Islam justru mendorong umatnya bekerja, berusaha, membangun peradaban, dan menghadirkan kemanfaatan bagi sesama.

Nabi Muhammad SAW sendiri adalah sosok yang aktif dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan pemerintahan. Beliau berdagang, memimpin masyarakat, sekaligus membangun sistem kehidupan yang berkeadilan. Karena itu, zuhud bukanlah sikap anti-dunia.

Zuhud adalah kemampuan menempatkan dunia pada posisi yang semestinya.

Hasan al-Bashri menjelaskan bahwa seseorang boleh kaya, tetapi jangan diperbudak kekayaan. Seseorang boleh memiliki kekuasaan, tetapi jangan mabuk oleh jabatan. Seseorang boleh dihormati, tetapi jangan menggantungkan harga dirinya pada pujian manusia.

Dengan kata lain, zuhud bukan tentang apa yang dimiliki tangan, melainkan tentang apa yang menguasai hati.

Pesan ini menjadi sangat relevan ketika masyarakat modern menghadapi berbagai krisis moral. Ketamakan ekonomi, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga hilangnya empati sosial sering lahir dari kecintaan berlebihan terhadap dunia. Ketika dunia dijadikan tujuan akhir, manusia mudah kehilangan batas moral.

Dari situlah lahir praktik-praktik yang merugikan masyarakat: kekuasaan yang dipertahankan dengan segala cara, pembangunan yang mengabaikan keadilan, hingga hubungan sosial yang hanya diukur berdasarkan keuntungan.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa dunia tidak pernah benar-benar memuaskan manusia. Semakin banyak dimiliki, semakin besar pula rasa takut kehilangan. Semakin tinggi posisi dicapai, semakin besar kecemasan untuk mempertahankannya.

Karena itu, zuhud sejatinya adalah jalan menuju kemerdekaan batin.

Orang yang zuhud tetap bekerja keras, tetapi tidak rakus. Ia tetap mengejar keberhasilan, tetapi tidak kehilangan nurani. Ia mampu menikmati nikmat dunia tanpa diperbudak oleh nikmat itu sendiri.

Sikap seperti inilah yang justru semakin langka di era modern.

Hari ini banyak orang berhasil secara materi, tetapi hidup dalam kegelisahan. Tidak sedikit tokoh terkenal yang kehilangan arah hidup meski memiliki popularitas dan kekayaan melimpah. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketenangan ternyata tidak selalu lahir dari kepemilikan materi.

Hasan al-Bashri mengingatkan bahwa hati manusia memiliki ruang yang tidak akan pernah sepenuhnya dipenuhi oleh dunia. Selalu ada kehampaan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan uang, jabatan, atau popularitas.

Karena itu, zuhud bukan ajakan untuk meninggalkan kehidupan, melainkan ajakan untuk hidup lebih seimbang. Dunia tetap penting, tetapi bukan segalanya. Bekerja tetap mulia, tetapi jangan sampai ambisi menghilangkan kemanusiaan.

Pada akhirnya, manusia memang hidup di dunia: bekerja, membangun keluarga, dan menciptakan peradaban. Namun dunia bukanlah tujuan terakhir. Ia hanyalah perjalanan sementara yang suatu saat akan ditinggalkan.

Dan mungkin karena itulah nasihat Hasan al-Bashri terasa begitu menembus batin hingga hari ini:

Dunia itu hanya tiga hari:
kemarin yang telah pergi,
esok yang belum tentu datang,
dan hari ini yang sedang engkau jalani.”

Manusia yang memahami makna itu dengan sungguh-sungguh biasanya akan hidup lebih tenang: tidak mabuk ketika memiliki, dan tidak hancur ketika kehilangan.


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.