Politik

Negeri Tirai Bambu, Ketahanan Pangan, dan Jalan Sunyi Kearifan Lokal

30
×

Negeri Tirai Bambu, Ketahanan Pangan, dan Jalan Sunyi Kearifan Lokal

Sebarkan artikel ini
Azis Subekti,
Azis Subekti,

 

Oleh: Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Dapil Jawa Tengah VI

Ada kalanya pelajaran berharga tidak hadir sebagai contoh yang harus ditiru mentah-mentah, melainkan sebagai cermin untuk menilai diri sendiri dengan lebih jujur.

Pengalaman China dalam menjaga ketahanan pangan, yang di sejumlah wilayahnya bertumpu pada bambu dan tunas mudanya (rebung), dapat dibaca dalam kerangka itu, bukan sebagai model seragam, melainkan sebagai cara berpikir.

Di China, rebung tumbuh karena ekosistemnya memungkinkan. Ia hadir di wilayah tertentu, pada musim tertentu, dan dipanen dengan batas yang dipahami bersama.

Tidak semua daerah menggantungkan diri pada rebung, dan tidak pula seluruh masyarakat menjadikannya sumber pangan utama. Di situlah letak kebijaksanaannya. Ketahanan pangan tidak dibangun dari pemaksaan satu komoditas secara merata, melainkan dari kesadaran bahwa setiap lanskap memiliki kekuatan alaminya sendiri.

Pelajaran tersebut relevan bagi Indonesia, negara dengan keragaman ekologi yang jauh lebih kompleks.

Dari sagu di wilayah timur, jagung dan umbi-umbian di daerah kering, hingga padi di kawasan basah, Indonesia sejatinya memiliki banyak “rebung”—sumber pangan lokal yang tumbuh dari kearifan setempat dan telah teruji oleh waktu.

Persoalan utama bukanlah ketiadaan sumber pangan, melainkan kecenderungan menyeragamkan pendekatan.

Upaya pemerintah untuk keluar dari ketergantungan impor patut dibaca sebagai langkah korektif.

Pencapaian swasembada pada sejumlah komoditas strategis menunjukkan tumbuhnya kembali kepercayaan negara terhadap petani dan daya dukung lahannya. Namun, swasembada hanya akan kokoh jika dibangun di atas fondasi keragaman, bukan homogenisasi. Ketahanan pangan nasional tidak mungkin berdiri hanya pada satu jenis tanaman, satu wilayah, atau satu pola kebijakan.

Di sinilah kearifan lokal menemukan relevansinya kembali. Ketika pangan diproduksi dan dikonsumsi sesuai kondisi setempat, risiko krisis menjadi lebih tersebar dan lebih mudah dikelola. Alam tidak dipaksa bekerja melampaui kemampuannya, dan masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar. Ini bukan romantisme masa lalu, melainkan strategi rasional menghadapi perubahan iklim dan ketidakpastian global.

Pengalaman China juga memperlihatkan bahwa negara dapat hadir tanpa mematikan pengetahuan lokal. Negara menjaga kerangka besarnya—ekosistem, tata kelola, dan keberlanjutan—sementara masyarakat mengelola detail sesuai konteks wilayah.

Bambu tumbuh di tempat yang tepat, pangan lain berkembang di tempat lain, tanpa ambisi menyeragamkan segalanya.
Indonesia, dengan segala kelebihannya, berada di jalur yang sama jika mau bersabar.

Setelah menekan impor dan menegaskan swasembada, tantangan berikutnya adalah memastikan kesinambungan. Bukan dengan memperluas produksi secara seragam, melainkan dengan memperdalam pemahaman terhadap potensi tiap daerah. Ketahanan pangan ke depan harus dirancang sebagai mozaik—bukan satu warna tunggal.

Pada titik ini, rebung tidak lagi berdiri sebagai simbol yang berlebihan. Ia hanyalah pengingat bahwa pangan tumbuh dari kesesuaian antara manusia dan alam. Setiap daerah memiliki “rebung”-nya sendiri, dengan nama dan bentuk yang berbeda.

Tugas negara dan masyarakat adalah memastikan kesesuaian itu tidak rusak oleh ketergesaan, keserakahan, atau kebijakan yang lupa pada konteks.

Ketahanan pangan, pada akhirnya, bukan soal meniru jalan bangsa lain, melainkan menemukan kembali jalan kita sendiri—jalan yang sesungguhnya telah lama ada, namun kerap terabaikan.


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.