Seni Budaya

Merti Desa Sukamanah, Merawat Syukur, Menjaga Warisan Leluhur di Bulan Rajab

53
×

Merti Desa Sukamanah, Merawat Syukur, Menjaga Warisan Leluhur di Bulan Rajab

Sebarkan artikel ini
Pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Gondo Subroto, di makam Ki Napsuko dengan lakon Merkukuan Dua
Pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Gondo Subroto, di makam Ki Napsuko dengan lakon Merkukuan Dua

PURWODADI, purworejo24.com – Denting gamelan dan aroma hasil bumi menyatu dalam kebersamaan warga Desa Sukamanah, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo.

Setiap bulan Rajab, desa yang mayoritas warganya berprofesi sebagai petani ini kembali menggelar tradisi Merti Desa, sebuah ritual turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus penghormatan kepada leluhur.

Tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun ini bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, Merti Desa menjadi ruang perjumpaan nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan warga.

Ketua Panitia Merti Desa Sukamanah 2026, Suyatno, menjelaskan bahwa makna bersih desa tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi juga batiniah.

Bersih desa itu harapannya bersih hati, bersih lingkungan, dan bersih perilaku. Ini tinggalan leluhur kami yang terus kami jaga hingga sekarang,” tutur Suyatno, yang juga menjabat sebagai Kaur Keuangan Desa Sukamanah, saat ditemui disela kegiatan Merti Desa, pada Selasa (13/2/2026).

Menurutnya, Merti Desa Sukamanah selalu dilaksanakan setiap bulan Rajab dengan pagelaran wayang kulit sebagai inti acara.

Wayang dipilih bukan tanpa alasan. Tradisi ini berkaitan erat dengan sosok Ki Napsuko, leluhur dan cikal bakal Desa Sukamanah.

Ki Napsuko dikenal sebagai kerabat Keraton Mataram yang mengembara hingga akhirnya menetap di wilayah Sukamanah.

Dalam kisah tutur masyarakat, ia dikenal sebagai sosok “maling agung”, yang mengambil harta dari kaum berada untuk dibagikan kepada warga miskin dan membutuhkan.

Sosoknya dikenang sebagai figur yang berpihak pada keadilan dan kesejahteraan rakyat kecil.

“Wayang menjadi simbol penghormatan kami kepada beliau. Setiap tahun, kami selalu menggelar wayang sebagai peringatan dan doa untuk Ki Napsuko,” ungkap Suyatno.

Rangkaian Merti Desa diawali sejak sekitar satu setengah bulan sebelumnya, dengan pembentukan panitia, penyusunan anggaran, hingga kerja bakti massal.

Warga bergotong royong membersihkan lingkungan, jalan desa, makam leluhur, serta melakukan pengecatan fasilitas umum sebagai wujud kebersamaan.

Puncak acara ditandai dengan kenduri agung, sebuah selamatan besar yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Dalam kenduri ini, warga membawa ulu wektu, yakni hasil bumi seperti nasi, sayur, buah-buahan, dan tumpeng sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Yang khas, tumpeng disajikan menggunakan ancak berbahan bambu berukuran sekitar 1,5 meter, dihias pelepah pisang.

Tahun ini, lebih dari 150 ancak dibawa warga dalam kenduri agung, mencerminkan tingginya partisipasi masyarakat Desa Sukamanah yang memiliki sekitar 350 kepala keluarga, termasuk warga perantauan.

Kenduri agung dilengkapi dengan tahlilan dan doa bersama untuk para leluhur, memohon keselamatan, ketenteraman, serta hasil panen yang baik.

Tak heran, lakon wayang yang dipentaskan pun sarat makna. Siang hari digelar wayang  oleh dalang Ki Gondo Subroto dengan lakon Merkukuan Dua, yang menggambarkan kemampuan manusia mengatasi bala dan musibah, terutama hama pertanian.

Malam harinya, wayang dilanjutkan oleh dalang Ki Wisnu Hadi Sugito dengan lakon Semar Kredo, yang mengisahkan Semar sebagai tokoh penyeimbang dan penyelamat dari kekacauan.

Sebagian besar warga kami adalah petani. Wayang ini menjadi doa agar hama dan penyakit tanaman bisa diatasi, dan hasil panen warga tetap baik,” jelas Suyatno.

Pagelaran wayang siang hari dilaksanakan di makam Ki Napsuko yang berada di RT 1 RW 1, sebelah selatan desa, sementara malam hari digelar di kediaman Kepala Desa Sukamanah.

Lokasi malam hari bersifat bergilir, mengikuti tempat tinggal kepala desa yang sedang menjabat.

Makam Ki Napsuko
Makam Ki Napsuko

Kepala Desa Sukamanah, Sarwono, menyampaikan rasa syukur karena seluruh rangkaian Merti Desa tahun ini terlaksana dari swadaya masyarakat, termasuk dukungan warga perantauan.

Tradisi ini adalah warisan leluhur yang harus kita jaga bersama. Antusiasme masyarakat luar biasa, dan ini membuktikan kuatnya rasa memiliki terhadap desa,” ujarnya.

Sarwono menegaskan, Merti Desa bukan sekadar ritual adat, melainkan sarana mempererat persaudaraan dan menumbuhkan kecintaan terhadap desa. Ia berharap tradisi ini terus lestari dan diwariskan kepada generasi muda.

Jangan sampai kita melupakan perjuangan para leluhur yang telah membabat alas dan membangun Desa Sukamanah. Semoga desa kami selalu aman, tenteram, damai, dan sejahtera,” tandasnya.

Di tengah arus modernisasi, Merti Desa Sukamanah menjadi bukti bahwa tradisi lokal tetap hidup, tumbuh, dan bermakna—menjadi penanda jati diri sekaligus pengikat kebersamaan warga desa. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.