Pertanian

Dari Jeruk ke Black Sapote, Pensiunan ASN di Purworejo Buktikan Berkebun Bisa Menjanjikan

115
×

Dari Jeruk ke Black Sapote, Pensiunan ASN di Purworejo Buktikan Berkebun Bisa Menjanjikan

Sebarkan artikel ini
Buah black sapote yang ditanam oleh Bambang Gatot Seno Aji
Buah black sapote yang ditanam oleh Bambang Gatot Seno Aji

BANYUURIP, purworejo24.com – Di balik rindangnya pepohonan di Dusun Demangan, Desa Condongsari, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, tersimpan kisah inspiratif tentang semangat bertani yang tak lekang oleh usia.

Bambang Gatot Seno Aji, seorang pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN), membuktikan bahwa berkebun bukan sekadar hobi, tetapi juga peluang ekonomi yang menjanjikan.

Sebelumnya, Bambang dikenal sukses mengembangkan kebun jeruk lemon kalifornia. Namun, seiring berjalannya waktu dan usia tanaman yang mulai menua, ia melakukan langkah berani, mengganti sebagian pohon jeruk dengan tanaman yang masih tergolong langka di Purworejo, yakni black sapote atau kesemek hitam (Diospyros nigra).

Awalnya kebun ini ditanami lemon kalifornia. Pohon yang mati kami tambal sulam, lalu kami ganti dengan black sapote. Ternyata cocok ditanam di Purworejo dan secara ekonomi harganya sangat bagus,” ujar Bambang saat ditemui di kebunnya, pada Senin (19/1/2026).

Pilihan Bambang bukan tanpa perhitungan. Black sapote dikenal sebagai buah eksklusif dengan permintaan tinggi. Saat panen perdana, satu pohon mampu menghasilkan sekitar 20 kilogram buah.

Dengan harga jual mencapai Rp150 ribu per kilogram, hasil panen tersebut langsung ludes diserbu pembeli.

Baru panen sekitar 20 kilo, itu pun langsung habis. Kami jual ke expo di Magelang. Pesanan sebenarnya banyak sekali, terutama dari Yogyakarta dan Surabaya,” ungkapnya.

Menariknya, keberhasilan tersebut berawal dari rasa penasaran. Bambang mengaku pertama kali mengenal black sapote hanya dari hasil browsing internet. Ia kemudian memesan bibit dari Bogor dan mencoba menanamnya di kebun sendiri. Hasilnya di luar dugaan, tanaman tumbuh subur dan berbuah dengan baik.

Dari tanam sampai panen sekitar tiga tahun. Tingkat kesulitannya tidak ada, malah lebih mudah dibanding jeruk. Hampir seperti menanam alpukat,” jelasnya.

Tak hanya itu, budidaya black sapote di kebun Bambang dilakukan secara organik. Ia sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia maupun pestisida.

Selama ini, tanaman tumbuh sehat tanpa serangan hama berarti.

Kami tidak pernah menyemprot apa pun. Menanam organik itu ada tritmennya sendiri, murah, dan semua bahannya ada di sekitar kita. Kuncinya sebenarnya air. Kalau air tercukupi, tanaman apa pun bisa tumbuh,” tuturnya.

Ke depan, Bambang berencana mengganti sebagian besar pohon jeruk yang sudah tua dengan black sapote. Ia juga membuka diri bagi siapa saja yang ingin belajar dan berkonsultasi tentang budidaya buah tersebut.

Teman-teman di Purworejo monggo kalau mau membudidayakan black sapote. Potensinya besar sekali. Anak-anak muda jangan malu untuk berkebun,” pesannya penuh harap.

Ironisnya, menurut Bambang, justru banyak anak muda dari luar daerah seperti Bantul dan Sleman yang datang untuk belajar pertanian organik di kebunnya. Sementara minat dari generasi muda lokal masih tergolong minim.

Melalui kebun sederhana di sudut Purworejo ini, Bambang Gatot Seno Aji menghadirkan pelajaran berharga: dengan ketekunan, keberanian mencoba hal baru, dan keselarasan dengan alam, pertanian bisa menjadi masa depan yang menjanjikan—bahkan setelah masa pensiun. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.