peternakan

Dari Banjir Jadi Berkah, Wardhana Farm, Bukti Beternak Bisa Menyelesaikan Masalah Sosial

102
×

Dari Banjir Jadi Berkah, Wardhana Farm, Bukti Beternak Bisa Menyelesaikan Masalah Sosial

Sebarkan artikel ini
Abdullah saat mengambil telur di kandang bebek yang ia kelola
Abdullah saat mengambil telur di kandang bebek yang ia kelola

PURWOREJO, purworejo24.com — Siapa sangka persoalan banjir dan keterbatasan lapangan kerja di lingkungan permukiman justru melahirkan sebuah usaha peternakan bebek petelur yang kini produktif dan menginspirasi.

Di RT 6 RW 8 Kelurahan Baledono, Kecamatan Purworejo, berdiri Wardhana Farm, sebuah usaha budidaya bebek petelur yang tak hanya menghasilkan ribuan telur per hari, tetapi juga membawa dampak sosial nyata bagi warga sekitar.

Wardhana Farm merupakan gagasan Muhamad Abdullah, mantan anggota DPRD Kabupaten Purworejo yang saat ini menjabat sebagai Ketua KONI Kabupaten Purworejo.

Usaha tersebut dirintis dari kepekaan terhadap persoalan lingkungan dan sosial yang ia hadapi bertahun-tahun di sekitar tempat tinggalnya.

Dari beberapa tahun lalu saya punya dua PR. Pertama, setiap musim penghujan, lingkungan perumahan sini selalu kebanjiran. Kedua, ada seorang yang mengurus musala dan mengajar anak-anak mengaji, tetapi belum punya kegiatan ekonomi,” tutur Abdullah saat ditemui di lokasi kandang bebeknya, pada Rabu (28/1/2026).

Upaya awal dengan memperlebar saluran air di belakang rumah ternyata belum mampu mengatasi banjir. Setelah ditelusuri, limpahan air besar berasal dari area di bagian atas.

Abdullah pun mengambil langkah strategis dengan membeli lahan milik warga untuk mengendalikan debit air. Namun, ia tak ingin lahan tersebut sekadar dibangun tembok penahan.

Kalau hanya dibuat tembok kan sayang. Dari membaca buku, diskusi dengan teman-teman, sampai melihat media sosial, saya melihat beternak bebek punya prospek bagus. Akhirnya saya putuskan membuat kandang bebek, sekaligus menjawab dua persoalan: banjir dan lapangan kerja,” ujarnya.

Kini, Wardhana Farm memiliki populasi hampir 5.000 ekor bebek petelur dan mempekerjakan empat orang karyawan tetap, termasuk warga yang sebelumnya belum memiliki pekerjaan. Dampak lingkungan pun terasa nyata.

Alhamdulillah, musim hujan kemarin tidak ada lagi genangan air ke rumah-rumah warga. Yang dulu mengajar ngaji sekarang juga punya pekerjaan tetap,” kata Abdullah.

Bebek yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis, yakni bebek Mugersari dan bebek lokal, yang dikenal memiliki tingkat produktivitas cukup tinggi.

Wardhana Farm fokus pada produksi telur, bukan bebek pedaging.

Rata-rata produktivitas sekitar 80 persen. Dari hampir 5.000 ekor, setiap hari bisa menghasilkan kurang lebih 4.000 butir telur,” jelasnya.

Soal pemasaran, Abdullah mengaku tidak menemui kendala berarti. Sebelum mendirikan kandang, ia terlebih dahulu membangun jejaring dengan pedagang telur.

Sudah ada komitmen, berapa pun hasil produksi siap diambil. Selain itu, dengan banyaknya MBG atau SPPG yang berdiri, ini jadi segmen pasar baru karena mereka juga membutuhkan telur,” ujarnya.

Meski berada di kawasan permukiman dengan lahan sekitar 2.500 meter persegi, Wardhana Farm tetap menjaga kenyamanan lingkungan. Pengelolaan kandang dilakukan secara disiplin untuk mencegah bau dan gangguan.

Kuncinya menjaga kekeringan dan kebersihan kandang. Kami bersihkan dua kali sehari, pagi dan sore. Kalau ada yang becek langsung dikeringkan dengan jerami, lalu disemprot MP4 Plus agar tidak ada bakteri,” terang Abdullah.

Ia menegaskan bahwa masyarakat sekitar dapat menilai langsung kondisi kandang tanpa perlu asumsi.

Bisa dirasakan sendiri, apakah bau atau tidak, apakah suaranya mengganggu atau tidak,” tambahnya.

Wardhana Farm memiliki dua sistem kandang, yakni kandang umbaran konvensional dan kandang baterai.

Kandang baterai memang memerlukan biaya lebih besar, namun memudahkan pemantauan produktivitas setiap bebek.

Nama Wardhana Farm sendiri diambil dari nama anak-anak Abdullah, sebagai bentuk edukasi keluarga.

Saya ingin mengajari anak-anak untuk tidak malu bertani dan beternak, meskipun tinggal di kota dan ada yang sedang kuliah. Di waktu senggang, mereka saya ajak ikut mengelola usaha ini,” tuturnya.

Usaha yang baru berjalan sekitar enam bulan pasca Abdullah tidak lagi menjabat sebagai anggota DPRD ini, telah mencatatkan omzet kotor rata-rata sekitar Rp240 juta per bulan.

Ke depan, Abdullah berharap semakin banyak anak muda yang tertarik menekuni sektor pertanian dan peternakan.

Ia juga berharap adanya keberpihakan pemerintah, khususnya melalui program MBG, untuk menyerap produk lokal.

Di Purworejo, peternak bebek petelur cukup banyak. Selama ini pasarnya masih ke luar daerah. Kalau bisa diserap di sini, biaya transportasi berkurang, peternak lebih untung, dan masyarakat lebih sejahtera,” tandasnya.

Melihat prospek yang menjanjikan, Abdullah pun berencana menambah kandang baru. Bukan semata demi keuntungan, tetapi untuk membuka lebih banyak lapangan kerja.

Selain ekonominya bagus, kita ingin memberi pekerjaan bagi teman-teman yang mungkin belum punya pekerjaan,” katanya.

Wardhana Farm pun menjadi bukti bahwa beternak bukan sekadar usaha ekonomi, melainkan solusi nyata atas persoalan lingkungan, sosial, dan regenerasi petani di tengah kota. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.