EkonomiPemerintahanPertanian

Kualitas Umbi Lebih baik, Purworejo Akan Dijadikan Sentra Porang di Jateng

247
×

Kualitas Umbi Lebih baik, Purworejo Akan Dijadikan Sentra Porang di Jateng

Sebarkan artikel ini
Wasit Diono, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian
Wasit Diono, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian

PURWOREJO, purworejo24.com – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berencana menjadikan Kabupaten Purworejo sebagai sentranya porang di Jawa tengah. Hal ini didasarkan pertimbangan bahwa kualitas porang yang dihasilkan di Kabupaten lebih bagus baik dibanding daerah lain.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Wasit Diono S.Sos., di ruang kerjanya pada Jumat 4 Februari 2022.  Turut mendampingi Kabid Sarana dan penyuluhan pertanian Ir Eko Anang Sofyan Waluyo, M.M.

Wasit Diono menjelaskan, berdasar penelitian, umbi porang yang dihasilkan Kabupaten Purworejo memiliki kandungan glukomanan yang lebih tinggi. Untuk saat ini walaupun para petani masih bersifat mandiri di Kabupaten Purworejo, sudah ada 500 hektar lahan porang. Produktifitas dalam satu tahunnya bisa menghasilkan 8 ton porang.

Supaya tanaman porang terjaga antara produktifitas dan penanaman, maka di Kabupaten Purworejo saat ini sedang dalam tahapan melakukan registrasi lahan yang ditanami porang.

“Dengan adanya registrasi lahan ini nantinya para petani dapat terlindungi dan tidak ada tanaman porang yang tidak terjual,” tuturnya.

Dikatakan, penanaman porang di Kabupaten Purworejo sekarang ini sudah mulai banyak dilakukan terutama di daerah pinggiran seperti Kecamatan Pituruh, Bruno, Kemiri, Gebang, Loano, Bener dan sebagian di daerah Kecamatan Purworejo.

Untuk Purworejo di Brenggong, Cangkrep, dan desa lainya. Tanaman porang berkembang karena petani cerdas memilih tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Nilai yang tinggi ini dikarenakan tanaman porang menjadi salah satu komoditi ekspor.

Harga porang per kilogramnya, kata Wasit, mencapai Rp 7.000. Dengan harga ini petani juga masih diuntungkan.

“Kami mengajak kepada para petani agar dapat mengembangkan komopditas lain, bukan hanya porang saja tetapi komoditas lain yang punya nilai tinggi silakan dikembangkan dan jika menemukan kendala ataupun kesulitan kami akan siap memfasilitasi”, ujar Wasit.

Untuk budidaya porang, Wasit mengaku telah memfasilitasi para petani dengan menerjunkan para PPL untuk memberikan penyuluhan tentang bagaimana budidaya porang agar lebih berhasil.

Eko Anang Sofyan Waluyo menambahkan, porang sebagai bahan makanan setelah melalui serangkaian pengolahan. Hasil olahan yang sudah menjadi tepung harganya cukup tinggi, per kilonya Rp200.000. Sementara 1 kilogram tepung membutuhkan 7 kilogram umbi porang.

Harganya tinggi karena kandungan karbohidratnya rendah. Proses menjadi tepung terlebih dahulu diolah menjadi chip yang bentuknya rajangan porang yang dikeringkan. Perusahaan pengolah porang menjadi tepung yakni perusahaan Jepang dan China.

“Di Kabupaten Purworejo sudah berdiri perusahaan yang akan menampung porang, namun belum beroperasi karena bahan bakunya belum tersedia. Perusahaan ini akan mengolah porang menjadi chip,” jelas Eko.(P24/nuh)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.