Dampak Proyek Bendungan Bener, Warga Keluhkan Krisis Air Bersih
Sebarkan artikel ini
Lokasi proyek pembangunan Bendungan Bener di Purworejo
PURWOREJO, purworejo24.com – Dampak negatif dirasakan sejumlah warga desa di sekitar Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Bener. Warga mulai kesulitan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka lantaran banyak sumur warga yang kering. Hal itu terungkap saat audiensi Masyarakat Terdampak Bendungan (Masterbend) dengan sejumlah pihak yang digelar di DPRD Kabupaten Purworejo, pada Rabu 22 Desember 2021. Dalam kesempatan tersebut, peserta audiensi diterima oleh Ketua DPRD didampingi beberapa anggota lainnya. Audiensi juga dihadiri oleh pihak Badan Pertahanan Nasional (BPN), Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO).
Dalam kesempatan tersebut Kepala Desa Guntur, Nur Kholib mengatakan, semenjak adanya proyek bendungan, banyak sekali sumber mata air yang rusak. Termasuk sumur-sumur warga juga semakin dalam hingga pompa air tidak kuat menyedot air.
“Masalah air di Desa Guntur yaitu air yang diambil oleh warga masyarakat itu, saat ini airnya tidak bagus karena pengaruh pembangunan Bendung Bener. Selain bau air juga mematikan ikan-ikan yang ada di kolam. Dan sumber air yang diambil oleh masyarakat menjadi semakin berkurang,” ungkapnya saat ditemui usai audiensi.
Audiensi Masyarakat terdampak pembangunan Bendungan Bener di Gedung DPRD Purworejo
Menurut Nur Kholib, warga sebelumnya mendapatkan air dengan mudah menggunakan sumur biasa maupun sumur pompa dengan kedalaman 10-15 meter. Namun kini mereka harus lebih dalam lagi guna bisa mendapatkan air yang layak atau bersih.
“Hal itulah yang banyak dikeluhkan oleh warga saat ini,” katanya.
Warga berharap ada perhatian dari pelaksana proyek Bendung Bener terhadap kondisi air di Desa Guntur saat ini.
“Mohon ini menjadi perhatian serius dari BBWSO atau perusahaan yang terlibat dalam proyek Bendungan Bener,” ucapnya.
Menanggapi hal tersebut dari pihak BBWSO, Muhammad Yushar Yahya selaku PPK Bendungan Bener, menyampaikan bahwa potensi kekurangan air tersebut sebenarnya sudah diantisipasi dengan membuat sumur bor sedalam 100 meter. Namun pada perkembangannya, sumur tersebut debit airnya berkurang sehingga tidak mampu menopang kebutuhan warga.
“Upaya yang sedang kami lakukan untuk mencukupi kebutuhan air baku bagi warga terdampak bendungan saat ini adalah dengan membangun infrastruktur air juga tandonnya. Rencananya untuk airnya akan diambilkan dari Sungai Bogowonto,” terangnya.
Proses pembangunan insfrastruktur air baku untuk warga terdampak tersebut, sambungnya, diperkirakan baru selesai pada bulan Maret mendatang. Selain itu, kebutuhan listrik untuk menyedot air dari Bogowonto juga tinggi, sehingga membutuhkan instalasi khusus dari PLN.
“Untuk instalasi listriknya diperkirakan selesai bulan berikutnya. Jadi untuk infrastruktur suplai air baku bagi warga sesuai dengan schedule dari kami akan selesai pada akhir April,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Dion Agasi Setiabudi menegaskan bahwa selama proses persiapan infrastruktur air, kebutuhan suplai air baku untuk warga harus dipikirkan. Dion menyarankan agar BBWSO dapat melakukan droping air bagi warga terdampak.
“Tidak hanya dropping saja, tapi harapan kami juga air itu sampai ke rumah-rumah warga. Bisa melalaui jaringan Pamsimas yang ada atau membuat jaringan sendiri. Namun jangan hanya sekedar di drop di satu titik, nanti warga yang mengambil secara mandiri. Kasihan warga yang aksesnya jauh,” tandasnya.(P24/Wid)