Lingkungan HidupPemerintahanPertanian

Hemat Biaya Ratusan Juta, Begini Cara Desa Krandegan Hadapi Musim Kemarau

1230
×

Hemat Biaya Ratusan Juta, Begini Cara Desa Krandegan Hadapi Musim Kemarau

Sebarkan artikel ini
Persawahan di desa Krandegan yang kini setahun bisa panen tiga kali setelah ada inovasi pengairan.
Persawahan di desa Krandegan yang kini setahun bisa panen tiga kali setelah ada inovasi pengairan.

PURWOREJO, purworejo24.com – Musim Kemarau segera tiba, biasanya di Purworejo sawah dan perkampungan warga banyak yang kekurangan air saat musim kemarau tiba. Namun berbeda dengan Desa Krandegan yang memanfaatkan pompa air bertenaga besar sehiingga mampu mengairi sawah di desanya dan bisa meghemat sampai ratusan juta.

Di desa Krandegan, semua sawahnya yang sekitar 70 hektar adalah sawah tadah hujan. Selama puluhan tahun, sawahnya hanya mengandalkan air hujan, dan air tanah yang disedot ke permukaan untuk mengairi tanaman padi. Pada musim awal kemarau pihak desa sudah menyiapkan pompa air dalam hal pemenuhan kebutuhan irigasi para petani.

Dwinanto, Kepala Desa Krandegan menjelaskan sejak beberapa tahun terakhir, ada terobosan baru yang dilakukan oleh pemerintah desa, dimana mereka menaikkan air dari Sungai Dulang dengan pompa besar untuk kemudian dialirkan ke sawah milik petani. Hal ini sebenarnya juga banyak dilakukan oleh desa lain, namun bedanya, di desa Krandegan biaya digratiskan. Sementara di desa lain, petani harus membayar biaya solar dan operasional lainnya. Hal ini disebabkan sampai saat ini, regulasi belum membolehkan dana desa dipakai membeli solar untuk operasional pompa air.

“Saat ini, kemarau mulai datang, dan sawah di Desa Krandegan mulai kekeringan. Oleh karenanya, pompa air di Desa Krandegan juga mulai kami dioperasikan secara gratis karena biaya solar dan operasional lain ditanggung oleh donatur,” katanya kepada purworejo24.com.

Dwinanto, Kades Krandegan sedang memantau pompa air untuk pengairan pertanian di desanya.
Dwinanto, Kades Krandegan sedang memantau pompa air untuk pengairan pertanian di desanya.

Dwinanto menambahkan sebelumnya biaya pengairan per 100 ubin sekitar 700 ribu rupiah, atau satu hektar sekitar 4 juta rupiah satu kali panen. Sementara itu di Desa Krandegan sawah yang membutuhkan pengairan sekitar 70 hektar sawah milik warga.

“Kalau 70 hektar jadinya 280 juta. Langkah ini kita ambil untuk membantu dan memudahkan petani mendapatkan air irigasi untuk sawah mereka,” katanya.

Ia menambahkan yang membedakan lagi dari tahun sebelumnya adalah, untuk tahun ini warga “wajib” menyetorkan zakat pertaniannya ( bagi yang sudah memenuhi nishob ), dan sedekahnya ( untuk semua petani yang sawahnya dialiri air ) ke Posko Siaga Desa. Nantinya, dana zakat dan sedekah itu akan didistribusikan oleh Posko kepada warga miskin yang layak dibantu.

“Alhamdulillah, sejak ada pompa ini dan digratiskan, dalam satu tahun petani bisa panen tiga kali. Ini menambah kesejahteraan bagi mereka. Dan nantinya, mereka harus membayarkan zakat pertanian dan sedekahnya melalui Posko Desa untuk untuk diberikan ke warga lain yang kurang mampu. Ini untuk memupuk rasa kebersamaan antarwarga” tandasnya. (P24-Bayu)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.