KALIGESING, purworejo24.com – Antusias ribuan pengunjung untuk mengikuti Prosesi Tradisi Jolenan di Desa Somongari, Purworejo, Jawa Tengah, sangat luar biasa. Saat kenduri agung, ratusan pengunjung sudah menyerbu makanan yang dipersiapkan kendati prosesi doa oleh sesepuh desa belum selesai.
Tradisi Jolenan di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing, Purworejo yang berlangsung Selasa (15/10/2019) berlangsung meriah. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah tumpah ruah memadati Desa Somongari sejak pagi. Selain ajang ngalap berkah, tradisi budaya yang rutin dilaksanakan setiap dua tahun sekali ini juga menjadi hiburan bagi pengunjung.
“Desa Somongari itu ada budaya jolenan. Jolenan itu dari kata ojo lali, artinya jangan lupa kepada Yang Maha Kuasa, Dengan pesan, semuanya itu menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa.” ungkap Subagiyo, Kepala Desa Somongari kepada purworejo24.com di sela-sela acara.
Kenduri Agung saat Jolenan di Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Purworejo. (15/10/2019)
Sebelum arak-arakan jolen, warga menggelar kenduri pada Selasa pagi. Sejumlah warga laki-laki mengangkat jolen dan dikumpulkan di halaman kantor desa. Jolen merupakan ancak atau wadah makanan dari bambu berbentuk limas terbalik yang dihias menggunakan jerami, janur. Satu jolen biasanya dipanggul menggunakan batang bambu oleh dua orang.
Warga mengisi ancak dengan aneka makanan dan hasil bumi Somongari, serta buah-buahan yang dibudidayakan petani setempat. Jolen dibuat secara swadaya oleh warga, termasuk para mereka yang sukses di tanah rantau.
Pengunjung mengambil sisa-sisa makanan yang diperebutkan saat Kenduri-Agung.
Setelah doa pembuka dan sambutan sejumlah pejabat, kirab budaya pun dilaksanakan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kirab budaya menempuh jarak 4 kilometer berkeliling desa.
“Jumlah keseluruhan ada 43 jolen, yang dibuat oleh 5 pedukuhan, masing-masing 4 sampai 5 jolen. Isinya macam-macam makanan khas Somongari, antara lain gemblong, pisang, ledre, krupuk, peyek, dan sebagainya. Sengaja diperebutkan yang menandakan bahwa hasil usaha dan pertanian masyarakat Somongari besok akan laris.Tujuannya sodaqoh, khususnya kepada masyarakat Somongari, umumnya kepada masyarakat luas.” jelas Subagiyo.
Kirab budaya atau arak-arakan Jolen diakhiri dengan Kenduri Agung di halaman Makam Gedono-Gedini. Makanan yang ada dalam Jolen pun dikeluarkan dan digelar berjajar di depan makam Leluhur Desa Somongari.
Saat Kenduri Agung, ratusan pengunjung yang sudah tidak sabar, menyerbu makanan yang dipersiapkan kendati prosesi doa oleh sesepuh desa belum selesai. Tak hanya makanan, warga juga berebut berbagai sarana yang digunakan dalam jolenan, seperti tusuk bambu, janur, jerami, besek maupun alas bambu. Barang-barang ini dipercaya membawa berkah dan digunakan untuk pertanian maupun usaha.
Tradisi Jolenan juga merupakan sarana silahturami bagi masyarakat Somongari, baik warga yang tinggal di Somongari maupun perantau. Seperti menjadi kewajiban, para perantau asal Somongari pun menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halamannya.
Arak-arakan Jolenan Somongari.
Saat Jolenan, suasana pun seperti lebaran. Hampir setiap keluarga di Somongari menyediakan makanan dan minuman untuk tamu yang berkunjung. Salah satunya adalah Karsono, yang menyediakan makan dan minuman di depan rumahnya, dan mempersilahkan siapa aja yang lewat untuk mampir ke rumahnya.
“Silahkan kalau mau mampir, siapa saja. Kami juga menyediakan air dan makanan, gratis. Tujuannya supaya manggis duriannya biar berbuah banyak” tandas Karsono. (P24-Nuh)