PURWOREJO, Purworejo24.com – Pasokan air untuk lahan pertanian di sejumlah wilayah Purworejo semakin langka menyusul semakin meluasnya kekeringan karena musim kemarau. Di sisi lain, para petani membutuhkan pasokan air untuk keberlangsungan hidup tanaman padi miliknya.
Di Kabupaten Purworejo sendiri, luas kekeringan lahan pertanian mencapai 407,5 hektare pada awal Juli ini dan kemungkinan masih akan bertambah dikarenakan saat ini masih memasuki awal musim kemarau.

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura (DPPKP) Purworejo, Eko Anang menerangkan, jumlah sawah yang terdampak kekeringan berpotensi bertambah seiring masih panjangnya musim kemarau.
“Saat ini ada 407,5 hektare lahan yang terancam kekeringan,” katanya, Kamis (11/7/2019).
Dari 407,5 hektare lahan yang mengalami kekeringan, seluas 359,5 hektare lahan berkategori kekeringan ringan, 40,5 hektare kekeringan sedang, 6,5 hektare kekeringan berat dan gagal panen 1 hektare yang terjadi di Kecamatan Purworejo. Jika kekeringan terus terjadi, maka tingkatan kerusakan akan meningkat dari ringan ke sedang dan sedang ke berat.
Lahan terdampak kekeringan tersebut tersebar di berbagai wilayah di Purworejo yang rata-rata sawahnya tadah hujan. Pemerintah terkait sudah memberikan bantuan berupa pompanisasi untuk daerah yang masih terdapat sumber air.
Meski demikian, produksi beras di Purworejo diprediksi tidak mengganggu target panen padi di Purworejo sebesar 202.881 ton gabah kering panen (GKP). Jumlah ini dihasilkan dari panen padi dengan asumsi 7 ton per hektare dikalikan dengan jumlah luas lahan 28.983 hektare.
“Dengan banyaknya jumlah lahan yang rusak akibat kekeringan, hanya ada 1 hektare saja yang teracam puso atau gagal panen yaitu di kecamatan Purworejo. Kami sudah melakukan penanganan terhadap lahan-lahan yang memang secara langsung terdampak kekeringan salah satu nya adalah pompanisasi dan pemanfaatan saluran irigasi yang ada,” tandasnya. (P24-Byu)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








