HUT RI

Ribuan Warga Meriahkan Karnaval Budaya Banyuasin Kembaran, Tradisi dan Hasil Bumi Jadi Daya Tarik

1
×

Ribuan Warga Meriahkan Karnaval Budaya Banyuasin Kembaran, Tradisi dan Hasil Bumi Jadi Daya Tarik

Sebarkan artikel ini
Warga membawa gunungaan hasil bumi dalam karnaval HUT ke 81 RI di Desa Banyuasin Kembaran
Warga membawa gunungaan hasil bumi dalam karnaval HUT ke 81 RI di Desa Banyuasin Kembaran

LOANO, purworejo24.com — Ribuan warga Desa Banyuasin Kembaran, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, tumpah ruah mengikuti Karnaval Budaya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Rabu (19/8/2026).

Kegiatan yang digelar Pemerintah Desa Banyuasin Kembaran tersebut berlangsung meriah. Warga dari empat dusun, lima RW, dan 11 RT membaur bersama pelajar, lembaga pendidikan, instansi, serta berbagai elemen masyarakat untuk memeriahkan momentum kemerdekaan sekaligus mempererat persatuan.

Kepala Desa Banyuasin Kembaran, Ahmad Abdul Azis, mengatakan karnaval merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di desanya.

“Untuk kegiatan hari ini merupakan rangkaian memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-81. Sebelumnya, pada malam 17 Agustus kami mengadakan malam tirakatan sekaligus Gebyar Rebana. Selain memperingati kemerdekaan, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan bersih desa,” katanya.

Menurutnya, Karnaval Budaya kali ini melibatkan hampir seluruh masyarakat. Diperkirakan sekitar 2.000 peserta ikut ambil bagian, terdiri atas warga masyarakat maupun sejumlah lembaga dan instansi yang berada di wilayah Banyuasin Kembaran.

Di antaranya MTs Negeri 3 Purworejo, SMP Negeri 29 Purworejo, SD Negeri Banyuasin Kembaran, KB Handayani, RA An-Najah, serta perwakilan instansi seperti BRI.

Semua RT mengeluarkan peserta. Warga semuanya turun dan membaur dalam karnaval. Hanya sebagian yang tetap bertugas menjaga lingkungan maupun ronda,” jelasnya.

Tidak sekadar menjadi hiburan, Karnaval Budaya Banyuasin Kembaran juga menjadi ruang untuk mengenalkan dan melestarikan seni tradisi serta potensi lokal.

Beragam penampilan menghiasi iring-iringan karnaval, mulai dari kesenian kuda lumping, rewo-rewo, hingga berbagai kreasi masyarakat. Tahun ini, kegiatan juga dipadukan dengan tradisi merti desa sebagai wujud syukur masyarakat atas kehidupan dan hasil bumi yang diperoleh.

Salah satu daya tariknya adalah keberadaan sejumlah gunungan hasil bumi. Gunungan tersebut dibuat oleh masyarakat dari beberapa pedukuhan dan menampilkan berbagai hasil pertanian lokal, seperti sayur-mayur, buah-buahan, serta aneka umbi-umbian.

Gunungan tersebut kemudian diperebutkan masyarakat sebagai bagian dari kemeriahan tradisi.

Ini merupakan wujud rasa syukur dan terima kasih. Kami membuat gunungan dari hasil bumi yang ada di Desa Banyuasin Kembaran. Ada sayuran, buah-buahan, ubi-ubian dan hasil pertanian lainnya,” ujar Ahmad.

Selain gunungan, tradisi merti desa juga ditandai dengan keberadaan tumpeng, ingkung, dan selamatan yang dikemas dalam kirab budaya.

Menariknya, warga juga menampilkan bergodo yang merupakan inisiatif masyarakat. Dalam tradisi tersebut terdapat berbagai perlengkapan simbolis, termasuk tumpeng, ingkung, gunungan, dan perlengkapan selamatan.

Melalui gunungan itu kita bisa menunjukkan hasil pertanian yang ada di Banyuasin Kembaran. Ini sekaligus menjadi bentuk rasa syukur masyarakat,” katanya.

Ahmad menegaskan, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memeriahkan HUT Kemerdekaan RI. Lebih dari itu, karnaval menjadi sarana memperkuat silaturahmi, persatuan, dan kesatuan masyarakat.

Menurutnya, keberagaman kreasi dan latar belakang warga justru menjadi kekuatan untuk membangun desa secara bersama-sama.

Harapan kami dengan kegiatan seperti ini bisa menambah semangat, menjalin silaturahmi, persatuan dan kesatuan warga Desa Banyuasin Kembaran. Dalam membangun desa, kami ingin ada rasa kebersamaan, saiyeg saeka kapti, satu tujuan,” ungkapnya.

Ia juga berharap kegiatan budaya semacam ini dapat terus dilestarikan. Sebab, selain menjadi hiburan masyarakat, kegiatan tersebut memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai budaya lokal.

Event seperti ini memang saya ingin lestarikan. Karnaval bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga salah satu cara melestarikan budaya. Dari keanekaragaman itu kita bisa menjadi satu kesatuan, yaitu Banyuasin Kembaran. Seperti Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu Indonesia,” tuturnya.

Usai karnaval, masyarakat Banyuasin Kembaran juga disuguhi pertunjukan kuda lumping yang didatangkan dari Sinogo, Kulon Progo.

Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari rangkaian hiburan sekaligus upaya menjaga kesenian tradisional agar tetap dekat dengan masyarakat.

Namun, pelaksanaan pertunjukan tetap mengikuti kesepakatan masyarakat setempat. Pemerintah Desa Banyuasin Kembaran tidak menggelar pertunjukan pada malam hari karena telah diatur dalam Peraturan Desa (Perdes) dan menjadi kesepakatan bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga.

Untuk Banyuasin Kembaran, pertunjukan hanya sampai sore. Pertunjukan malam hari tidak diperbolehkan. Kami tetap menaati keputusan bersama antara tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh lapisan masyarakat,” tegas Ahmad.

Semarak Karnaval Budaya Banyuasin Kembaran pun bukan sekadar perayaan kemerdekaan. Di balik kemeriahan ribuan warga, terselip pesan penting bahwa kemerdekaan juga dapat dimaknai dengan menjaga persatuan, merawat tradisi, serta mengembangkan potensi desa secara bersama-sama.

Dengan semangat kebersamaan dan saiyeg saeka kapti, masyarakat Banyuasin Kembaran menunjukkan bahwa budaya lokal dan semangat kemerdekaan dapat berjalan beriringan untuk memperkuat identitas serta membangun desa. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.