Kebakaran

Hotspot Terpantau di Pituruh, Pemdes Tersidilor Pastikan Bukan Kebakaran Hutan

7
×

Hotspot Terpantau di Pituruh, Pemdes Tersidilor Pastikan Bukan Kebakaran Hutan

Sebarkan artikel ini
Bekas lahan yang terbakar
Bekas lahan yang terbakar

PITURUH, purworejo24.com – Kemunculan titik panas (hotspot) di wilayah Desa Tersidilor, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo yang terpantau melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) sempat memunculkan dugaan adanya kebakaran hutan. Namun, pemerintah desa memastikan informasi tersebut tidak benar.

Berdasarkan data SiPongi, hotspot terdeteksi oleh satelit NASA-SNPP dengan tingkat kepercayaan (confidence level) medium di koordinat yang berada di sekitar Desa Tersidilor, Kecamatan Pituruh, Jawa Tengah. SiPongi sendiri merupakan sistem pemantauan titik panas yang digunakan sebagai deteksi dini potensi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Menanggapi temuan tersebut, Perangkat Desa Tersidilor, Misranto, menegaskan bahwa tidak terjadi kebakaran hutan di wilayahnya.

Tidak ada kebakaran hutan. Itu hanya warga yang sedang membakar damen (jerami padi) setelah panen untuk persiapan lahan yang akan ditanami kacang hijau,” ujar Misranto saat dikonfirmasi, Jumat (31/7/2026).

Ia menjelaskan, pembakaran sisa jerami di area persawahan masih menjadi salah satu cara yang dilakukan sebagian petani usai panen sebagai bagian dari pengolahan lahan. Panas dan kepulan asap dari aktivitas tersebut diduga terbaca oleh satelit sebagai titik panas.

Meski demikian, keberadaan hotspot tetap menjadi perhatian karena kondisi musim kemarau meningkatkan risiko terjadinya kebakaran lahan apabila pembakaran tidak dilakukan secara hati-hati.

Pemerintah desa mengimbau masyarakat agar selalu mengawasi proses pembakaran terbuka dan memastikan api benar-benar padam setelah selesai. Langkah tersebut penting untuk mencegah api merembet ke lahan lain maupun kawasan yang berpotensi memicu kebakaran lebih luas.

Selain itu, warga juga diminta segera melaporkan kepada pemerintah desa, BPBD, maupun aparat terkait apabila menemukan kebakaran yang tidak terkendali, sehingga penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.

Dengan adanya klarifikasi tersebut, masyarakat diharapkan tidak mudah terpancing isu yang belum terverifikasi. Di sisi lain, informasi dari sistem pemantauan seperti SiPongi tetap menjadi alat penting dalam mendukung kewaspadaan dini terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama selama musim kemarau. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.