Seni Budaya

Tradisi Sedekah Mbah Buyut di Desa Ngampel Tetap Lestari, Perkuat Gotong Royong dan Kerukunan Warga

3
×

Tradisi Sedekah Mbah Buyut di Desa Ngampel Tetap Lestari, Perkuat Gotong Royong dan Kerukunan Warga

Sebarkan artikel ini
Menyembelih kambing
Menyembelih kambing

PITURUH, purworejo24.com – Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Desa Ngampel, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, masih teguh menjaga warisan budaya leluhur melalui Tradisi Sedekah Mbah Buyut.

Tradisi yang dilaksanakan setiap Bulan Suro atau Muharram ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada para pendahulu desa, tetapi juga menjadi sarana memperkuat nilai religius, gotong royong, dan persaudaraan antarwarga.

Sedekah Mbah Buyut dilaksanakan di lima dusun yang ada di Desa Ngampel, yakni Dusun Malang (RW 01), Dusun Ngampel (RW 02), Dusun Kuniran (RW 03), Dusun Wringin Kidul (RW 04), dan Dusun Wringin Lor (RW 05).

Khusus Dusun Wringin Lor, pelaksanaan tradisi terbagi di dua lokasi, yaitu RT 13 dan RT 14.
Tradisi ini diawali dengan pengumpulan iuran warga yang dikenal dengan istilah becer.

Dana yang terkumpul digunakan untuk membeli kambing serta memenuhi berbagai kebutuhan pelaksanaan kegiatan.

Seluruh proses berlangsung dengan semangat kebersamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu kekuatan utama Tradisi Sedekah Mbah Buyut adalah keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.

Penyembelihan dan pengolahan kambing dilakukan secara gotong royong dengan pembagian tugas yang telah dikoordinasikan oleh masing-masing kepala dusun.

Kaum perempuan bertugas membuat bumbu suro, bumbu khas yang digunakan dalam masakan kambing. Sebelum membuat bumbu, mereka diwajibkan berada dalam keadaan suci dan telah melaksanakan mandi wajib.

Ketentuan ini mencerminkan kesakralan tradisi sekaligus menjadi simbol kesucian lahir dan batin dalam memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara itu, kaum laki-laki bertanggung jawab melakukan penyembelihan kambing, memasak, hingga membagikan jangan suro atau sayur suro kepada warga yang telah berpartisipasi melalui becer.

Pembagian tugas tersebut menggambarkan harmoni, tanggung jawab, dan kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain penyembelihan kambing, masyarakat juga menggelar tahlil untuk mendoakan para leluhur atau Mbah Buyut Desa Ngampel.

Kegiatan ini dilanjutkan dengan kerja bakti membersihkan makam sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah membuka dan membangun desa.

Pelaksanaan tahlil dan kerja bakti berbeda di setiap dusun. Ada yang melaksanakannya pada hari yang sama dengan penyembelihan kambing, sementara dusun lainnya memilih melaksanakan sehari sebelumnya.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan slametan, yaitu doa bersama yang disertai pembagian makanan sebagai ungkapan rasa syukur serta permohonan keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan bagi seluruh warga.

Hidangan yang disajikan dalam slametan antara lain ayam ingkung, tumis mi, tumis kubis, dan srundeng yang menjadi bagian dari tradisi kuliner khas masyarakat setempat.

Keunikan Sedekah Mbah Buyut terletak pada penggunaan kambing kendhit, yaitu kambing Jawa berwarna hitam yang memiliki garis putih melingkar sempurna di bagian perut.

Bagi masyarakat Desa Ngampel, garis putih tersebut melambangkan persatuan, kebersamaan, dan eratnya tali persaudaraan antarwarga.

Namun karena keberadaannya semakin langka dan harganya relatif mahal, tidak semua dusun masih menggunakan kambing kendhit.

Hingga saat ini, tradisi penggunaan kambing kendhit masih dipertahankan oleh Dusun Ngampel dan Dusun Kuniran, yang melaksanakannya secara bergantian setiap tahun sebagai bentuk pelestarian tradisi leluhur.

Secara turun-temurun, Sedekah Mbah Buyut dilaksanakan pada Jumat Kliwon di Bulan Suro. Namun apabila dalam Bulan Suro tidak terdapat Jumat Kliwon, masyarakat akan melaksanakannya pada Selasa Kliwon.

Pada tahun 2026, Bulan Suro tidak memiliki Jumat Kliwon sehingga sebagian besar dusun menjadwalkan tradisi pada Selasa Kliwon, 7 Juli 2026.

Sementara itu, RT 13 Dusun Wringin Lor dan Dusun Ngampel memilih melaksanakan tradisi pada 10 Muharram atau 10 Suro, yang pada tahun ini bertepatan dengan 25 Juni 2026.

Hari tersebut diyakini sebagai waktu yang penuh keberkahan sehingga dipilih sebagai momentum pelaksanaan penyembelihan kambing.

Perbedaan waktu pelaksanaan tersebut menunjukkan sikap saling menghormati antarwarga dalam menjalankan tradisi tanpa mengurangi makna utama Sedekah Mbah Buyut sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan ungkapan syukur kepada Allah SWT.

Lebih dari sekadar ritual adat, Sedekah Mbah Buyut mengandung berbagai nilai kearifan lokal yang masih relevan hingga saat ini.

Nilai religius tercermin melalui doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT, nilai budi pekerti terlihat dari penghormatan kepada leluhur, sedangkan nilai solidaritas dan kerukunan diwujudkan melalui semangat gotong royong dan kebersamaan selama pelaksanaan kegiatan.

Meski beberapa unsur mengalami penyesuaian seiring perkembangan zaman, masyarakat Desa Ngampel tetap menjaga esensi tradisi sebagai sarana mempererat hubungan sosial sekaligus memperkuat identitas budaya desa.

Keberlangsungan Tradisi Sedekah Mbah Buyut menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Tradisi ini tidak hanya menjaga hubungan dengan sejarah dan leluhur, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter bagi generasi muda agar terus menjunjung nilai kebersamaan, toleransi, dan kepedulian sosial di masa depan. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.