Berita

Liputan CSR Bukan Sekadar Pencitraan, Ini Peran Besar Jurnalis Mengawal Dampaknya untuk Masyarakat

12
×

Liputan CSR Bukan Sekadar Pencitraan, Ini Peran Besar Jurnalis Mengawal Dampaknya untuk Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Saat kegiatan zoom
Saat kegiatan zoom

 

PURWOREJO, purworejo24.com – Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau Corporate Social Responsibility (CSR) selama ini kerap dipandang sebagai aktivitas perusahaan semata.

Padahal, di balik berbagai program yang dijalankan, terdapat kepentingan masyarakat yang menjadi fokus utama. Di sinilah peran jurnalisme dinilai memiliki posisi strategis untuk menjembatani informasi tersebut kepada publik.

Pandangan itu mengemuka dalam sebuah diskusi daring mengenai sinergi antara dunia jurnalisme dan pelaksanaan CSR perusahaan yang disampaikan oleh Fransiskus Sudiarsis pada Senin (8/6/2026).

Dalam forum tersebut Fransiskus Sudiarsis yang juga sebagai Anggota Komite Tanggungjawab Perusahaan Platform Digital Untuk Jurnalisme Berkualitas menegaskan, bahwa jurnalisme dan CSR sesungguhnya memiliki titik temu yang sama, yakni masyarakat dan kepentingan publik.

Menurut Frans, baik media maupun perusahaan bergerak di atas fondasi yang sama. Jika perusahaan menjalankan berbagai program CSR untuk memberikan manfaat kepada masyarakat, maka media bertugas menyampaikan, mengawasi, sekaligus mengedukasi publik mengenai dampak dari program-program tersebut.

Nah, inilah titik temu yang menjadi pondasi hubungan antara media dan perusahaan terkait dengan CSR,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah masih adanya anggapan bahwa CSR hanya berkaitan dengan kepentingan perusahaan. Akibatnya, berbagai program yang sebenarnya memiliki dampak sosial luas sering kali tidak mendapatkan perhatian yang memadai dari masyarakat.

Karena itu, jurnalisme memiliki misi penting untuk membawa isu CSR ke ruang publik yang lebih luas atau melakukan mainstreaming.

Upaya tersebut dinilai penting agar masyarakat memahami bahwa CSR bukan sekadar kegiatan seremonial atau pencitraan perusahaan, melainkan bagian dari tanggung jawab korporasi terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan praktik jurnalisme yang berkualitas. Pemberitaan yang akurat, mendalam, dan berimbang menjadi kunci agar informasi mengenai program CSR dapat dipahami secara utuh oleh masyarakat.

Kalau ditanya bagaimana cara melakukan mainstreaming CSR, tidak ada cara lain. Satu-satunya opsi yang tersedia adalah jurnalisme berkualitas,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa terdapat tiga misi utama dalam peliputan CSR. Misi pertama adalah mengungkap duduk persoalan. Dalam konteks ini, media berperan sebagai jembatan yang menghubungkan perusahaan dengan masyarakat melalui penyebaran informasi yang jelas dan mudah dipahami.

Melalui pemberitaan yang komprehensif, masyarakat dapat mengetahui tujuan, proses, hingga manfaat dari program CSR yang dijalankan. Dengan demikian, publik tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga memahami konteks dan permasalahan yang ingin diselesaikan.

Misi kedua adalah mendorong apresiasi, perbaikan, dan perluasan inisiatif. Jurnalisme tidak hanya bertugas memberitakan keberhasilan suatu program, tetapi juga memberikan ruang evaluasi agar program tersebut dapat berkembang menjadi lebih baik.

Selain itu, publikasi yang luas diharapkan mampu menginspirasi perusahaan lain untuk menjalankan program serupa. Dengan begitu, dampak positif yang dihasilkan tidak berhenti pada satu pihak saja, melainkan dapat meluas ke berbagai sektor dan wilayah.

Dari satu tindakan, kita mencoba membangun inspirasi yang kemudian bisa diikuti oleh pihak-pihak lain,” katanya.

Sementara itu, misi ketiga adalah menangkap perubahan yang dihasilkan dari berbagai program CSR. Media perlu mengukur dan mengungkap sejauh mana dampak nyata yang dirasakan masyarakat, baik dari sisi sosial, ekonomi, pendidikan, maupun lingkungan.

Pada akhirnya, peliputan CSR tidak semata-mata berbicara tentang perusahaan. Lebih dari itu, pemberitaan CSR harus ditempatkan dalam konteks kebutuhan dan persoalan masyarakat.

Dengan jurnalisme yang berkualitas, berbagai inisiatif sosial perusahaan dapat diketahui publik, dievaluasi bersama, serta didorong agar menghasilkan perubahan yang lebih besar dan berkelanjutan bagi masyarakat luas,” katanya. (P24-byu)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.