Seni Budaya

Kenduri Tulakan Desa Semono, Tradisi Syukur yang Menjaga Kerukunan dan Identitas Budaya Lokal

5
×

Kenduri Tulakan Desa Semono, Tradisi Syukur yang Menjaga Kerukunan dan Identitas Budaya Lokal

Sebarkan artikel ini
Saat kegiatan
Saat kegiatan

BAGELEN, purworejo24.com – Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Desa Semono, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, masih mempertahankan salah satu warisan budaya leluhur yang sarat makna, yakni Kenduri Tulakan.

Tradisi yang digelar pada Kamis (11/6/2026) malam itu tidak sekadar menjadi agenda tahunan seremonial, tetapi juga menjadi ruang memperkuat solidaritas sosial, pelestarian budaya, sekaligus pendidikan nilai-nilai kehidupan bagi generasi muda.

Ratusan warga mengikuti kegiatan yang dilaksanakan secara serentak di sejumlah perempatan dan pertigaan jalan di masing-masing RT.

Dengan membawa aneka hidangan hasil swadaya, warga berkumpul untuk berdoa bersama memohon keselamatan, kesehatan, ketenteraman, serta perlindungan dari berbagai musibah.

Sekretaris Desa Semono, Arismanto, menjelaskan bahwa Kenduri Tulakan merupakan tradisi turun-temurun yang hingga kini tetap dijaga keberlangsungannya oleh masyarakat karena mengandung nilai spiritual dan sosial yang kuat.

Kenduri Tulakan merupakan warisan budaya leluhur yang masih terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Semono. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus doa bersama agar masyarakat diberikan keselamatan, kesehatan, ketenteraman, dan dijauhkan dari segala bentuk musibah,” katanya.

Lebih dari sekadar ritual budaya, Kenduri Tulakan mencerminkan bagaimana masyarakat Jawa memadukan nilai religius dengan kehidupan sosial.

Tradisi ini menjadi sarana memperkuat hubungan antarwarga melalui kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Menurut Arismanto, tradisi tersebut biasanya dilaksanakan pada malam Jumat Kliwon di bulan Suro atau Muharram. Namun, tahun ini terdapat penyesuaian waktu berdasarkan perhitungan penanggalan Jawa yang menjadi pedoman masyarakat setempat.

Karena tahun ini tidak ada Jumat Kliwon di bulan Suro menurut perhitungan para sesepuh, maka pelaksanaannya digeser pada Jumat Kliwon terakhir di Bulan Besar sesuai kesepakatan dan tradisi yang berlaku di masyarakat,” jelasnya.

Penyesuaian tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal tidak berjalan secara kaku, melainkan tetap mengikuti pedoman adat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam budaya Jawa, penanggalan tradisional masih memiliki peran penting sebagai bagian dari identitas budaya dan sistem pengetahuan lokal yang hidup di masyarakat.

Arismanto juga menjelaskan bahwa pemilihan lokasi di perempatan dan pertigaan jalan memiliki filosofi tersendiri.

Selain mudah dijangkau warga, lokasi tersebut melambangkan harapan agar keberkahan dan keselamatan dapat menyebar ke seluruh penjuru desa.

Perempatan dan pertigaan dipilih sebagai simbol agar keberkahan dan keselamatan dapat dirasakan seluruh warga di setiap penjuru desa. Selain itu, lokasi tersebut juga menjadi titik berkumpul yang mampu mempererat kebersamaan antarwarga,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama dan sesepuh desa. Setelah itu, warga menikmati hidangan yang telah dibawa secara bersama-sama.

Momen tersebut menjadi simbol kesetaraan karena seluruh warga duduk bersama tanpa membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi.

Dalam perspektif sosial, tradisi seperti Kenduri Tulakan memiliki fungsi penting sebagai modal sosial masyarakat desa. Interaksi langsung antarwarga dalam suasana kebersamaan mampu memperkuat komunikasi, membangun rasa saling percaya, serta menjaga kerukunan yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

Di sisi lain, kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda. Melalui keterlibatan langsung dalam tradisi, anak-anak dan remaja dapat memahami nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, serta pentingnya menjaga warisan budaya daerah.

Kami berharap tradisi ini tetap lestari dan dapat diteruskan oleh generasi berikutnya. Di tengah perkembangan zaman, budaya lokal seperti Kenduri Tulakan menjadi identitas desa yang harus dijaga bersama,” kata Arismanto.

Keberlangsungan Kenduri Tulakan di Desa Semono menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan menjaga tradisi masa lalu, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai sosial yang relevan untuk kehidupan masyarakat saat ini.

Di tengah perubahan zaman, tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa kebersamaan, rasa syukur, dan gotong royong tetap menjadi kekuatan penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.