Seni Budaya

Kirab Budaya Merti Desa Pangenrejo, Merawat Tradisi di Tengah Kebhinekaan

107
×

Kirab Budaya Merti Desa Pangenrejo, Merawat Tradisi di Tengah Kebhinekaan

Sebarkan artikel ini
Kirab budaya Pangenrejo
Kirab budaya Pangenrejo

PURWOREJO, purworejo24.com – Lapangan CILUWEK Kelurahan Pangenrejo menjadi titik awal semarak Kirab Budaya Merti Desa Pangenrejo, pada Jumat (16/1/2026) siang.

Mengusung tema “Kreativitas dalam Kebhinekaan”, kirab ini menjadi penanda dimulainya rangkaian tradisi merti desa yang sarat makna persatuan.

Setiap RW di Kelurahan Pangenrejo mengirimkan satu bergada dengan konsep bebas, memadukan unsur budaya, seni, dan kreativitas.

Sebanyak delapan RW tampil dengan ciri khas masing-masing, menghadirkan keragaman ekspresi budaya yang hidup dan membumi.

Jumlah peserta tak dibatasi, menjadikan kirab ini ruang inklusif bagi seluruh warga.

Kirab dimulai sekitar pukul 14.00 WIB dari Lapangan CILUWEK, bergerak ke arah utara menuju Jalan Bendungboro, kemudian berbelok ke barat melewati Jalan Raya Brigjen Katamso, berlanjut ke selatan menuju Gang Antigati 2, sebelum akhirnya kembali ke titik awal sebagai garis finis.

Sepanjang rute, warga tampak antusias menyaksikan iring-iringan, sebagian mengabadikan momen, sebagian lain larut dalam suasana kebersamaan.

Kirab diawali dengan penampilan drumb band dari SMK YPT, yang menyuntikkan semangat dan ritme ceria. Di belakangnya, pasukan bergada dari delapan RW berjalan berurutan, turut serta perwakilan Tim SPPG Pangenrejo.

Aneka busana tradisional, properti budaya, hingga kreasi tematik menjadi penegas pesan kebhinekaan yang ingin disampaikan.

Sesepuh Kelurahan Pangenrejo, Sutarno, menuturkan bahwa kirab budaya ini merupakan bagian dari rangkaian panjang merti desa.

Hari ini kita mengawali rangkaian kegiatan merti desa dengan kirab budaya. Namun sebenarnya sejak pagi tadi kami sudah melaksanakan bersih beji di Sumur Gede,” ujarnya, saat ditemui di lokasi kegiatan.

Rangkaian kegiatan akan berlanjut pada Sabtu sore dengan Kenduri Agung, kemudian malam harinya digelar sholawatan bersama Majelis As Shofa serta ngaji bareng Gus Ahil dari Plaosan.

Puncak kegiatan merti desa ini besok malam Ahad,” tambahnya.

Menurut Sutarno, kirab budaya sengaja dihadirkan sebagai wadah pemersatu seluruh elemen masyarakat. Kelurahan Pangenrejo dikenal sebagai wilayah yang majemuk, baik dari sisi agama maupun latar belakang sosial budaya.

Kami ingin merangkul semuanya. Tidak membeda-bedakan agama atau kepercayaan. Bahkan saat kenduri agung nanti, lintas agama juga kami undang,” jelasnya.

Kirab budaya ini bukan hal baru bagi Pangenrejo. Kegiatan serupa pernah digelar pada 2018, namun terhenti akibat pandemi Covid-19.

Tahun ini, tradisi tersebut kembali dihidupkan. Meski sempat muncul keraguan, antusiasme warga justru melampaui ekspektasi.

Awalnya kami pesimis, tapi ternyata pesertanya luar biasa. Mereka mandiri, tiap RT berkreasi meski dikemas dalam RW,” ungkapnya.

Dengan 18 RT dan 8 RW, Pangenrejo menunjukkan bahwa kesederhanaan tak menghalangi kekuatan partisipasi. Kreativitas warga menjadi bukti bahwa tradisi dapat tumbuh seiring semangat kebersamaan.

Kirab Budaya Merti Desa Pangenrejo bukan sekadar arak-arakan. Ia adalah ruang perjumpaan, tempat keberagaman dirayakan, dan bukti bahwa tradisi mampu menjadi jembatan harmoni di tengah kebhinekaan.

Melalui merti desa ini, harapan pun dipanjatkan.

Harapan kami, masyarakat Pangenrejo semakin sejahtera, lahir dan batin, dunia dan akhirat. Yang terpenting, ada kebersatuan antarumat di kelurahan ini,” harap Sutarno. (P24/wid)


Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.