PURWOREJO, purworejo24.com – Di tengah kesibukannya memberikan pelayanan kepada masyarakat, Bintara Pelaksana Pelayanan Samsat Polres Purworejo, Aiptu Winarto, memiliki kegiatan produktif di luar dinas yang kini membawa manfaat ekonomi bagi keluarganya.
Ia mengembangkan budidaya entok peranakan jumbo di pekarangan rumahnya yang berada di Kelurahan Pangen Juru Tengah, RT 1 RW 2, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo.
Aiptu Winarto menceritakan, usaha ternak entok ini berawal secara sederhana saat dirinya masih berdinas di Sabhara.
Seorang rekan menawarkan anak entok berusia dua minggu, dan ia pun membeli 7 ekor.
Namun akibat faktor alam, 3 ekor mati, dan hanya menyisakan 4 ekor yang terdiri dari 1 jantan dan 3 betina.
“Dari empat ekor itu, akhirnya berkembang menjadi sebanyak ini. Kurang lebih satu tahun berjalan, mulai awal Januari lalu. Setelah saya masuk Satlantas, saya tetap melanjutkan budidaya entok ini,” jelasnya, saat ditemui pada Selasa (2/12/2025).
Untuk mendukung perkembangan ternaknya, ia membeli mesin penetas telur. Selain membesarkan indukan, setiap hari ia juga menetaskan telur-telur entok. Perawatannya pun tidak sulit.
“Entok itu cukup pagi ngasih makan, sore ngasih makan. Tiga hari sekali bersihin kandang dan nyemprot supaya tidak bau. Ini tidak mengganggu dinas sama sekali. Habis pelayanan di jalan, saya pulang sebentar ngasih makan, tidak sampai setengah jam,” ungkapnya.
Pakan yang diberikan juga sederhana, yaitu daun pepaya yang dicampur katul.
Dalam keseharian, Aiptu Winarto mengelola area ternak seluas sekitar 10 x 3 meter di belakang rumah.
Saat ini, jumlah entok yang ia pelihara mencapai sekitar 50 ekor, termasuk anakan.
Sebagian lainnya sudah dipanen dan bahkan dibuatkan menu rica-rica atas permintaan teman dan kerabat.
“Kadang teman-teman sendiri yang nyempil, minta sepasang. Ada juga yang pesan rica-rica sudah matang. Kemarin sekitar 15 ekor dibuat rica-rica,” ujarnya sambil tersenyum.
Aiptu Winarto mengapresiasi pimpinan yang selalu mendukung kegiatan positif anggota di luar jam kerja selama tidak mengganggu tugas kedinasan.
Lebih jauh, budidaya entok ini juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian keluarga.
Melalui mesin penetas berkapasitas 25 telur, rata-rata 18 telur berhasil menetas.
Anakan berusia dua minggu dijual dengan harga Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per ekor.
Selain menjual, ia juga sering membagikan pengetahuan budidaya kepada masyarakat.
Banyak warga yang menghubunginya melalui status WA dan Facebook untuk belajar, menanyakan cara merawat entok, hingga datang langsung untuk “nempil” atau membeli.
“Selama ini banyak yang ingin ngangsu kaweruh. Mereka lihat kok budidayanya mudah dan cepat berkembang. Belum sampai setahun sudah lebih dari 100 ekor,” jelasnya.
Kendati demikian, ia mengakui bahwa tantangan terbesar dalam budidaya entok adalah pakan.
“Entok itu boros banget pakannya. Dalam sehari bisa habis 10 kilogram dedek untuk jumlah seperti ini. Jadi kami campur dengan sayuran supaya lebih hemat,” tambahnya.
Aiptu Winarto berharap kegiatan budidaya entok ini terus membawa manfaat, baik bagi keluarga maupun masyarakat yang ingin belajar atau memulai usaha serupa.
“Yang namanya ternak itu kan untuk membantu. Bisa dijual bagi yang membutuhkan. Selama ini menjadi hal positif, tidak ada masalah dan tidak malu,” tutupnya. (P24/wid)
Eksplorasi konten lain dari Purworejo24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







